16 Hari Keliling Eropa, 6 Negara 7 Kota Favorit (Itinerary Eurotrip #1)

6
117
Eurotrip..!! Jalan-jalan ke Eropa akhirnya bisa terwujud juga di libur lebaran 2018 kemarin. 16 hari yang menyenangkan, yang mana sebenarnya eurotrip ini rencananya bukan buat di tahun ini. Pelesiran bareng keluarga ke benua biru memang sudah diniatin. Bucket list buat ‘masa depan’ pada awalnya.Setelah tahun 2017 overland trip ke negara-negara Indochina (Thailand-Kamboja-Vietnam+ Singapura), awalnya di 2018 ini masih mau main-main di Asia dulu. Melengkapi pelesiran 2016 ke Hong Kong-Macao-Shen Zhen, dan trip Malaysia-Singapura di tahun 2015. Tapi alhamdulillah, namanya rezeki, dan juga ‘racun’ jalan-jalan ternyata bisa datang kapan saja :p

 
Berawal dari baca berita online tentang dibukanya penerbangan scoot ke Berlin, dan racun itu mulai masuk pelan-pelan. Klik ini klik itu, ternyata murah juga –ini baru tiket pesawatnya. Apalagi kalau berangkat di bulan September atau Oktober misalnya, bisa dapat lebih murah lagi… 2,7 juta per orang Jakarta-Berlin. Tapi karena di bulan murah itu, anak-anak masih masuk sekolah, jadilah ganti waktu. Gak apa-apalah gak dapat harga termurah. Gak enak kalo bolos sekolah, sudah pernah diingetin sama sekolah Lana. Jadilah geser planning di libur panjang sekolah Juni Juli ini, yang berbarengan sama libur lebaran. Lumayan juga kan, ada masukan dari THR hehe

Selain karena libur sekolah Lana Keano, dan Yossie juga dapat cuti panjang, dipilih eurotrip bulan Juni-Juli karena waktunya bersamaan dengan World Cup 2018 di Rusia. Dan ini penting!! J Yah lumayan lah dapat aura Eropa yang lagi demam piala dunia. Walaupun gak ke Rusia, minimal antusiasme negara peserta piala dunia bisa dirasain. Titik-titik nonton bareng di setiap kota, dicari. Seperti Berlin yg setiap piala dunia atau piala Eropa, selalu ngadain acara nobar yang wah. Fanmeile, festival nobar kolosal ala Berlin, jadi tujuan utama. Sayang di Paris Perancis, karena alasan antisipasi teror, sudah gak boleh nobar lagi di tempat terbuka atau ngumpulin banyak massa. Padahal nobar di area Menara Eiffel, pasti seru dan enak di mata. Belanda, Italia, dan Yunani gagal lolos Piala Dunia, jadi gak berharap ada nobar. 

Nonton Bareng Piala Dunia 2018, Berlin Jerman
Setelah tiket berangkat Jakarta-Berlin di tangan, perencanaan asyik dimulai. Utak-atik itinerary, transport, hunting hotel dan lain-lain, lumayan jadi hiburan. Asyik juga buat pengisi waktu, misal dari pada bengong pas naik KRL pulang pergi kantor tiap hari.

Di Eurotrip ini, yang ‘susah’ adalah bikin itinerary. Susah tapi asyik. Begitu banyak godaan. Pengen ke sini, pengen juga ke situ. Secara jarak semua kelihatan dekat. Ibaratnya ini sudah kayak Jakarta-Semarang. Tapi bedanya ini sudah lain negara, dan kotanya favorit semua. Setelah ada tol, saya anggap Jakarta-Semarang dekat banget buat roadtrip nyetir sendiri.  Hitungannya, mendingan ke Semarang dah, dari pada nyetir pagi atau sore di Jakarta. Nah dengan perumpamaan seperti itu, Eurotrip makin banyak godaannya.

Amsterdam Centraal Station
Menara Eiffel dilihat dari Pont de Bir-Hakeim
Sebagai pelancong pas-pasan yg banyak maunya, tapi juga gak bisa seenak udel wara-wiri ke Eropa kayak anak pejabat, orang tajir, atau seleb, kesempatan yg satu ini akhirnya coba dimaksimalkan. Kota-kota favorit diincer dan ditarget harus kecover. Jadilah itinerary mencantumkan Berlin, Amsterdam, Paris, Madrid, Barcelona, Venesia, dan belakangan Athena jadi tujuan. Apalagi saya sempat bilang (baca: janji) mau bawa keluarga ke Paris dan Amsterdam. Setelah tahun 2005 lalu ngerasain enaknya trip (kerjaan kantor) ke Amsterdam-Paris-Roma.

Itinerary dengan titik enam negara dan tujuh kota tadi, sebenernya gak diputusin dengan mudah begitu saja. Godaan lainnya berseliweran sebelum-sebelumnya. Tapi karena 7 kota itu yang paling favorit, akhirnya keukeuh dan ketok palu harus masuk itinerary. Terserah gimana urutannya, dan ‘berapapun’ biayanya. Walaupun harus terbang antar negara, atau itin jadi lebih padat, dan budget jadi agak membengkak. Tapi yang penting puas. Anggap saja tiket pesawat dan tarif bus itu tiket masuk wahana. (duuh, Swiss dengan Lucerne, Interlakennya, dan kota lain di Italia harus direlain dilewat)
Plaza Mayor, Madrid Spanyol
La Sagrada Familia, Barcelona Spanyol
Rencana awal, dengan mempertimbangkan jarak dan budget, tadinya dari Berlin mau lanjut ke Praha Ceko, lalu sedikit menjelajah agak ke timur selatan Eropa, seperti Austria, Swiss, dan berakhir di Amsterdam. Atau lanjut muter balik lagi ke Berlin (ngejar pesawat murah). Di tengah perencanaan, berubah lagi karena ada godaan dari selatan, Barcelona dan Madrid Spanyol. Siapa yang gak mau ngerasain suasana kota yang jadi salah satu kota favorit wisata, apalagi di summer kaya sekarang. Belum lagi bayangan Santiago Bernabeu dengan Real Madridnya, dan Camp Nou FC Barcelona, seolah sudah manggil-manggil di depan mata.
Tour Stadion Real Madrid, Santiago Bernabeu

 

Camp Nou, Stadion Barcelona FC

Setelah Madrid, sempat tergoda juga sama Alhambra di Granada. Tapi berhubung Alhambra akan makan waktu, dan termasuk lokasi wisata favorit, berbayar pula, jadi mikir-mikir lagi. Kebayangnya pasti penuh, antre, dan harus nunggu jam giliran. Bisa jadi gambling waktu, padahal sudah bayar dan cukup jauh dari Madrid atau Barcelona. Mana musim panas juga. Dari hasil blogwalking, Alhambra gak rekomen (atau bukan waktu terbaik) kalau musim panas. Bakal panas banget, katanya.. Coret lagi, dan bersyukur jadi punya alasan kuat, dan gak bakalan nyesel. Karena tujuan utama Spanyol kami, memang ke Madrid dan Barcelona.


Selain Barcelona dan Madrid Spanyol, tergoda juga sama Athena. Selain kotanya yang unik dan bersejarah, juga karena ada penerbangan langsung Athena-Jakarta yg murah. Biar beda jalur juga, dari pada balik lagi ke Berlin. Sebelumnya Athena sempat dicoret dari itinerary, dan mau pilih jalur pulang dengan penerbangan langsung dari Barcelona atau Madrid. Ada beberapa flight yang relatif murah untuk ukuran ke Jakarta atau Singapura dari Madrid atau Barcelona. Sambil nunggu-nunggu harga cocok, eh scoot Athena-Jakarta nongol lagi dengan harga murah, ya sudah hajar saja Athena-Jakarta.
Phartenon, di bukit tertinggi Akropolis, Athena Yunani
Changing of Guard, di gedung parlemen Syntagma, Athena

Dan godaan yang selalu nongol adalah Venezia. Mau trip ke arah timur atau barat, Venezia selalu mau diselipin masuk itinerary. Kapan lagi coba ke Venezia. Mumpung sudah di Eropa. Masa yang palsu macam Venetian Macao dan Little Venice di Cipanas dikejar-kejar, ini sudah dekat yang aslinya, mau dilewatin begitu saja. Sayang bener…

Yang agak pe-er masukin Venezia di itinerary, adalah nyari formasi transport termurah dan efektif antar kota Paris-Madrid-Barcelona-Venezia, dan Athena. Selain murah, waktu juga jadi pertimbangan. Karena waktunya mepet, jadi harus bagi-bagi hari di setiap kota, biar adil, biar puas ngerasain kota dan jalan-jalannya. Makanya kami lebih banyak pilih dengan pesawat udara, biar cepat. Secara harga, pesawat juga bisa lebih murah, dan bersaing dengan harga bis. Naik kereta, biasanya lebih mahal. Apalagi kalau belinya jauh-jauh hari, dan mau flight di jam-jam ajaib (pagi banget, atau malam banget), akan lebih murah naik pesawat.

Grand Canal, Venezia
Semua demi Venezia. Padahal kalau berangkat dari dan ke Milan atau Roma misalnya, akan jauh lebih murah. Bolak balik nyari penerbangan murah dan cocok waktu untuk Venezia – Athena, Madrid/Barcelona – Athena, atau Madrid/Barcelona – Venezia, dan sebaliknya. Juga coba dari Paris-Madrid/Barcelona, dan Paris-Venezia, dan akhirnya jatuh pilihan dengan urutan Paris-Madrid-Barcelona-Venezia-Athena.

Sukses, murah, dan efektif? Nggak juga!! Kalau efektif ya, jam dan harinya pas.. Murah? Ternyata nggak. Dan di bagian inilah sedikit ‘keputusan salah’ diambil, yang kalau diingat-ingat lagi, agak ngeganjel. Demi mengejar jam penerbangan yang ideal (jam 16.45) dari Venezia –biar lebih lama di Venezia– gara-gara gak sabar, dan takut harga naik terus atau habis, saya beli tiket Venezia-Athena dengan harga yang masih tinggi. Padahal setelah beli, besoknya ngintip harga lagi di maskapai dan jam yang sama, turun sampai selisih 1 juta per orang. Dikali empat orang? Bayangkan, 4 juta rupiah melayang begitu saja hanya beda sehari akibat ketidak sabaran. Kalau dipake buat makan, atau beli barang, kan lumayan 4 juta. Tapi, karena sudah janji gak akan disesali, dan sudah lancar kelar juga eurotripnya, jadi lebih baik iklasin saja hehe.. 

 

Suasana di salah satu sudut Piazza San Marco, Venezia
Menikmati senja di San Marco, Venezia
Itulah beberapa godaan itinerary eurotrip. Kalau dijembreng, bakalan banyak seabrek godaan dan lika-likunya. Itu baru dari sisi transport. Belum hotel, tempat/atraksi wisata dan lainnya.

Karena banyak terbang antar negara, jadi kami pilih bawaan seefisien mungkin. Light travelling atau backpacking jadi pilihan. Biar simple, cepat buat pindah-pindah dalam kota dan antar kota. Dan yang penting lagi, gak perlu bayar bagasi pesawat. Masing-masing bawa satu ransel. Empat orang, empat ransel atau backpack. Itu sudah termasuk baju, ransum alias makanan, P3K, perabotan kamera dan perchargeran kelistrikan. Dan gak ketinggalan mini rice cooker atau kompor listrik.

Terbilang enam kali penerbangan lintas negara, sambil jajal maskapai murahnya Eropa:
1. Jakarta – Singapura – Berlin (Scoot)
2. Berlin – Amsterdam (easyJet)
3. Paris – Madrid (Air Europa)
4. Barcelona – Venezia (Ryanair)
5. Venezia – Athena (Aegean)
6. Athena-Singapura-Jakarta (Scoot)


Easy Jet, salah satu maskapai penerbangan murah Eropa
Selain lewat udara, juga dua kali perjalanan darat dengan night bus. Selain buat variasi transport antar kota antar negara, juga bisa menghemat budget penginapan atau hotel:
1. Amsterdam – Paris (Flixbus)
2. Madrid – Barcelona (Alsa)
Flixbus dan Alsa, operator bus populer antar kota antar negara Eropa.
Secara sederhana, itinerary dasarnya seperti ini (tanggal di Juni/Juli):
1. (21) Jakarta – Singapura – Berlin (flight 19.55)
2. (22) Berlin (sampai jam 07.25 pagi)
3. ‎(23) Berlin (nobar Jerman vs Swedia)
4. ‎(24) Berlin-Amsterdam (flight 06.30-8.00)
5. ‎(25) Amsterdam-Paris (bus 23.00-06.25)
6. (26) ‎Paris
7. ‎(27) Paris
8. (28) Paris-Madrid (flight 07.20-09.25)
9. ‎(29) Madrid-Barcelona (bus 23.30-07.35)
10. ‎(30) Barcelona
11. (1) Barcelona
12. (2) Barcelona-Venezia (flight 08.00-09.50)
13. ‎(3) Venezia-Athena (16.45-19.55)
14. (4) Athena
15. ‎(5) Athena-Singapura-Jakarta (flight 11.30)
16. ‎(6) Jakarta (sampai jam 09.05 pagi)
 
Louvre, Paris Perancis
It’s not about the destination, it’s about the journey. Begitu barangkali kalau kata orang-orang. Kita iya-kan saja, dan memang sepakat begitulah adanya. Waktu ngetrip, traveling, pelesiran, atau wisata, perjalananan memang selalu menyenangkan. Tapi juga akan lebih bahagia ketika tahu, dan ada tempat pulang. Seperti kata orang-orang lagi, kita juga harus ingat, sejauh apa pun kita melangkah, kita punya tempat yang kita sebut ‘rumah’, sebagai tempat untuk pulang. Apapun itu rumahnya, konotatif atau denotatif.

Dan seperti biasa, di malam pertama pulang dan tidur di rumah, akan jadi malam yang berbeda. Setelah 16 hari tidur di beberapa tempat, tidur lagi di kamar di rumah sendiri jadi lebih senang dan punya arti. Melihat lagi wajah-wajah kecil (biasanya pulang lebih gosong), tertidur pulas dengan tenang. Mungkin dengan hiasan ingatan nyang lebih meriah, dari pengalaman eurotrip ini.

Ya, pengalaman eurotrip ini menambah lagi memori di kepala, nambah kenangan. Menambah amunisi positif untuk ngejalanin rutinitas sehari-sehari. Seperti misal pas berangkat dan pulang kantor naik kereta. Perjalanan KRL komuterline Klender-Depok bisa ‘dimanipulasi’ jadi lebih mengasikkan. Pulang malam-malam, dengan kereta yang memang sudah gak penuh, jadi tambah enak. Anggap saja itu perjalanan naik kereta/metro dari Barcelona, Berlin atau Paris misalnya. Hampir sama. Lumayan, nambah jurus lagi, setelah sebelumnya jadi komuter sambil ngebayangin seolah-seolah lagi ngetrip naik MRT Singapur, atau MTR Hong Kong 🙂


Ke mana-mana dengan kereta, moda andalan dalam kota selama di Eropa.
Itinerary lengkapnya termasuk lokasi, waktu, hotel, transport dan keterangan lainnya, bisa dilihat di postingan selanjutnya:Itinerary 16 Hari Backpacking Keliling Eropa 6 Negara: Jerman, Belanda,Perancis, Spanyol, Italia, Yunani (Eurotrip #2)
 
Bersambung…


East Gallery, Tembok Berlin
Akropolis, Athena Yunani



6 COMMENTS

  1. aggghhhhh pgn banget lan ke eropa aku percepat. apa daya sampe 2020 jdwal tripku udh padat hahahahaha. seru jg ya mba krn barengan ama piala dunia. jd kebayang nontonnya sama org lokal yg sdg mensupport timnasnya. walopun pas jerman kalah aku ama suami lgs lesu hahahaha..

    aku ama suami tp lbh seneng traveling saat winter. kita berdua pecinta dingin dan aku pribadi ga kuat kena panas. makanya kalo jalan ke negara 4 musim pasti selalu winter. :D. jd kalo ntr ke eropa, udh jelas bakal january ato february. desember dihindari krn natal :p. mehoong pasti..

  2. Mbak, kl naik scoot. Mau nambah makanan atau hiburan untuk anak, gmn caranya ya ? Apakah lebih baik beli lewat web scoot langsung, atau lewat tiket.com ?

  3. kalo memang sudah pasti dan mau nambah, lebih enak lewat web scoot. Dan biasanya lebih murah dibanding lewat pihak ketiga. Saya waktu itu beli lewat traveloka, beda harga tiketnya lebih mahal sekitar 50 ribu dibanding web scoot. Beli lewat traveloka, karena males isi-isi formnya hehe, kaya nama, ttl, no paspor, alamat, keluarga dll. Kalo di traveloka, karena saya sudah sering, jadi data kami sudah ada di situ.

  4. hehe, sabar. nanti juga sampai hari H-nya ke eropa.
    Kemarin sih gak panas-panas banget juga di eropa, masih dapat hawa-hawa dinginnya malah pas di jerman, belanda, perancis. Pas di Spanyol, Italia, Yunani, sudah full gak ada dinginnya.
    Jadi pengen juga ke eropa pas musim dingin. Apalagi anak-anak juga ini ngajakin lagi, tapi mau pas ada saljunya katanya. Insya Allah masuk bucket list lagi hehe Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here