Zaanse Schans, Wisata Kincir Angin dekat Amsterdam

4
50

Zaanse Schans adalah desa wisata di mana kita masih bisa menikmati pemandangan kincir angin tradisional khas Belanda. Lokasi Zaanse Schans, tempat wisata kincir angin ini, dekat dengan Amsterdam. Jaraknya cuma 19 km dari ibukota Belanda ini. Tepatnya di Zaandam, North Holland. Jadi kalau dari Amsterdam, bisa pulang pergi ke Zaanse Schans. Di sini kita bisa menyaksikan bagaimana kehidupan berjalan di Belanda pada abad ke 18 dan 19.

Saat ke Zaanse Schans dari Amsterdam, kami tak ikut tour. Kita berangkat sendiri naik bus umum dari terminal Amsterdam Centraal. Dengan cara ini, waktunya lebih fleksibel. Tak terburu-buru harus ikut jadwal operator. Tak perlu pula menunggu anggota rombongan yang lain. Sediakan saja waktu sekitar 3-4 jam khusus ke Zaanse Schans. Itu sudah termasuk perjalanan pulang pergi dari dan ke Amsterdam.

Dari Amsterdam Centraal kami naik bus Connexxion nomor 391. Lokasi menunggunya ada di bagian belakang terminal. Nanti di bagian depan bus selain ada nomornya juga tertulis tujuannya, yaitu Zandaam, Zaanse Schans. Sebelumnya kami sudah membeli tiket transportasi harian region, yang berlaku untuk seluruh moda transportasi di kota Amsterdam dan sekitarnya. Tiket ini selain digunakan ke Zaanse Schans juga bisa kami gunakan ke Volendam di hari yang sama. Gak perlu bayar lagi.

Pengalaman naik busnya menyenangkan. Bus bersih dan datang tepat waktu. Gak ketemu macet pula. Zaanse Schans ada di daerah pinggiran. Jadi jalan ke sana relatif sepi. Tempat ini juga tak seramai Volendam. Suasana pedesaannya masih terasa meskipun statusnya lokasi wisata.

Yang pertama terlihat waktu kami turun bus di Zaanse Schans adalah deretan kincir angin di antara ladang-ladang pertanian. Di Belanda, kincir angin secara tradisional digunakan untuk berbagai keperluan. Yang paling utama adalah memompa air yang menggenangi dataran rendah, ke sungai yang telah diberi tanggul. Dataran yang sudah kering kemudian bisa ditanami dan dijadikan lahan pertanian. Seperti kita tahu, banyak sekali dataran di Belanda yang tingginya justru di bawah muka air. Keberadaan kincir tradisional sangat penting untuk daerah-daerah seperti ini.

Di Zaanse Schans, ada sekitar 10 kincir angin tua yang dipertahankan. Usianya ada yang telah mencapai ratusan tahun. Kincir di sini memiliki beragam fungsi. Mulai dari menumbuk berbagai rempah, menggergaji kayu gelondongan, hingga memproduksi bahan cat.

Masuk desa Zaanse Schans gratis. Tapi kalau masuk ke rumah kincir harus bayar. Tiketnya 5 euro untuk dewasa. Untuk anak-anak cukup membayar setengahnya. Di dalam kita bisa melihat bagaimana kincir melakukan pekerjaannya.

Selain melihat kincir angin tua, di sini juga banyak toko yang menjual souvenir tradisional khas Belanda. Salah satunya klompen, alias sepatu kayu. Menariknya, di toko tersebut kita juga bisa melihat proses pembuatan klompen. Ada jadwalnya sendiri pertunjukkan pembuatan klompen ini. Pertunjukkan ini gratis. Asal masuk saja ke dalam tokonya. Gak belanja juga tak apa. Yang penting lihat-lihat dulu saja. Siapa tau ada barang yang disuka.

Klompen biasa dipakai penduduk Belanda tempo dulu. Sepatu ini terbuat dari bongkahan kayu poplar yang ringan, keras, dan yang paling penting, tahan air. Klompen digunakan masyarakat Belanda di masa lalu untuk melindungi kaki dari tanah basah. Sepatu ini juga cocok digunakan untuk berkebun, dan mudah dilepas ketika memasuki rumah.

Sekarang klompen lebih banyak dijadikan souvenir. Hampir tak ada lagi orang di Belanda yang memanfaatkan klompen secara fungsional. Ukuran dan warna klompen yang dijual, beragam. Mulai dari yang kecil-kecil seukuran gantungan kunci, sampai klompen raksasa yang bisa buat duduk di dalamnya. Yah namanya juga souvenir. Sebebasnya bisa berkreasi, sebebasnya pula berimajinasi.

Kami beruntung saat masuk toko, pas waktunya pertunjukkan membuat klompen. Di masa lalu, sepasang sepatu ini dibuat dalam waktu lima hari. Bongkahan kayu dibentuk dulu menggunakan pahat di bagian luarnya. Setelah itu baru bagian tengahnya dicungkil, membentuk lubang tempat memasukkan kaki.

Pembuatan klompen dengan mesin
Pertunjukkan membuat klompen

Sekarang, membuat klompen cuma butuh satu jam saja dengan bantuan mesin. Pertunjukkan ini menampilkan secara lengkap proses pembuatan klompen. Mulai dari cara tradisional hingga cara modern. Setelah pertunjukan selesai, baru deh kami dipersilakan keliling toko buat belanja. Namun tak satupun klompen kami bawa pulang dari sini. Ada satu dua souvenir yang kami beli, itu pun ukuran dan beratnya sebatas tempelan kulkas ataupun gantungan kunci. Bukannya pelit ataupun kelewat hemat. Ada sebabnya kami masih mundur maju untuk belanja.

Perjalanan ini adalah bagian dari backpacking 16 hari keliling 6 negara dan 7 kota di eropa. Belanja memang sengaja dibatasi. Alasannya, bagasi terbatas. Atau tepatnya, kami bepergian tanpa ada barang masuk bagasi. Cukup backpack dengan ukuran dan berat yang diizinkan berada dalam kabin pesawat. Ini semacam challenge juga buat kami jalani. Mencoba mematuhi prinsip keluarga yang kami buat sendiri. We’re collecting memories, not things.

Belanda baru negara kedua yang kami kunjungi dalam trip ini. Jadi masih hati-hati dengan barang bawaan. Jangan sampai over kapasitas. Bakal ribet nanti di perjalanan pindah kota dan pindah negara.

Di gudang keju

Di Zaanse Schan ada juga toko yang menjual keju. Konsep toko-toko di sini semuanya meniru museum. Jadi tak cuma jualan saja. Masuk sebuah toko kita bisa melihat sejarah produk yang dijual di toko tersebut. Apa yang disajikan di Zaanse Schan adalah budaya penduduk Belanda tempo dulu. Jadi semua yang tersedia di sini bertema budaya masa lalu. Keju termasuk bagian di dalamnya.

Macam-macam keju Belanda berikut proses pembuatannya bisa kita lihat juga. Yang menarik ada banyak testernya. Beragam potongan keju ditaruh di tengah toko. Disediakan untuk pengunjung yang antre untuk mencoba. Anehnya, dari banyak banget jenis keju malah gak ada yang cocok di lidah saya, suami, dan bahkan anak-anak. Padahal Lana dan Keano suka banget keju kalau di Indonesia. Apa begini ini ya rasa keju Belanda hahaha.. Ada yang rasanya apek, asam, bahkan ada yang baunya saja sudah tak sedap. Apalagi keju dari susu kambing, mendeskripsikan rasa nggak enaknya aja sudah susah.

Cicip keju gratis

Jadinya ya sudah, beneran keliling aja. Di luar toko ada yang menjual macam-macam jajanan. Sebagian adalah cookies dan penganan yang menggunakan keju juga. Nah, kalau yang ini malah enak. Mungkin memang harus diolah dulu kejunya agar terasa lezat di lidah kita. Beda memang lidah orang Depok dengan lidah Eropa hehehe..

De Gekroonde Poelenburg, kincir penggergaji kayu.

Seluruh kincir angin tradisional di sini, terletak di tepi sungai Zaan. Ini untuk memudahkan transportasi barang keluar masuk area kincir angin. Dulu, perahu adalah transportasi utama di sini. Sekarang, setelah jalan darat banyak dibangun, pengunjung Zaanse Schans bisa lewat jalan kaki saja menelusuri seluruh lokasi kincir. Jalannya kecil, khas pedesaan. Jalan ini berada di antara ladang dan tepi sungai. Enak menyusurinya. Anak-anak bisa berjalan atau lari-larian dengan aman.

Buat wisatawan keluarga, Zaanse Schans ini menurut kami layak banget direkomendasikan. Di sini anak-anak bisa belajar tradisi tua Belanda. Banyak kegiatan yang melibatkan anak-anak di sini. Sekalian bisa juga menjelaskan, kenapa Belanda disebut negara kincir angin. Barang buktinya pas banget ada di depan mata.

Lebih dari seribu kincir Angin masih berdiri di negeri ini. Sebagian masih berfungsi untuk drainase, sebagian lagi sengaja dipertahankan sebagai warisan sejarah. Belanda bahkan memiliki Hari Kincir Nasional yang jatuh setiap Sabtu kedua di Bulan Mei. Pada Hari Kincir Nasional, ratusan kincir angin dan kincir air di Belanda akan membuka pintu bagi pengunjung. Inilah kesempatan untuk masuk ke bangunan kincir bersejarah yang secara reguler tidak dibuka untuk umum.

Enaknya lagi, Zaanse Schans tempat wisata kincir angin ini lokasinya dekat dengan Amsterdam. Buat wisatawan, Amsterdam adalah magnet. Banyak tempat menarik dan hal yang bisa dilakukan di Amsterdam. Mau bersepeda ataupun keliling kanal cantik, semua berada di satu lokasi kota. Tapi kalau mau liat yang tradisional, kita bisa kabur sejenak ke Zaanse Schans ini. Di Amsterdam sudah nggak ada ladang-ladang khas Eropa yang bisa kita tunjukkan ke anak-anak. Pun proses pembuatan klompen, rasanya lebih asyik melihatnya dengan suasana pedesaan. Sekalian nyoba transportasi umum juga, menikmati perjalanan luar kota. Sekitar 20 menit saja dari pusat Amsterdam, sudah bisa melihat pemandangan yang berbeda.

Kalau sempat pula, bisa masuk ke Zaans Museum. Di dalamnya bisa melihat sejarah Zaanse Schans yang kini menjadi tujuan wisata kincir angin favorit dekat Amsterdam. Zaanse Schanse buka mulai jam 10 pagi hingga jam 5 sore. Informasi lebih lengkap soal desa wisata ini, kontak, serta beragam fasilitas yang tersedia bisa mengunjungi website Zaanse Schans langsung. Kunjungan kami sudah selesai di Zaanse Schanse. Masih ada tempat menarik dan legendaris yang dituju selanjutnya. Volendam, tunggu ya, kami segera datang.

4 COMMENTS

  1. Bikin klempon itu berkesaaan banget di aku, Krn pernah ngeliat caranya di acara tv dulu. Mulai dari kayunya di halusin, lalu mulai dicungkil sampe finishing. Tp aku penasaran, apa nyaman ya pake sepatu kayu gitu hahahaha. Ga pegel kakinya ?

    Aku salut mba Ama kalian. Bisa commit tanpa bagasi. Aku ga yakin bisa seperti itu. Yg paling sering malah beli tambahan koper dan nambah bagasi tiap traveling wkwkwkwkwk

    Btw keju di Belanda itu pernah jd bucket listku bakal diborong kalo kesana :D. Akupun suka keju bangettt. Tapi rasa keju2 Eropa memang rada aneh sih. Dulu pas mertua msh diplomat di bbrp negara Eropa, sering bawa keju. Dan rasanya memang unik2. Prnh ada yg baunya kayak (maaf) kentut. Aku bawa dong ke kantor, dan kami semua lgs saling mencurigai siapa yg buang angin hahahahahah. Tp rasanya enak hihihihi.. unik sih pengalaman nyobain aneka keju itu 😀

    • Macam pakai bakiak lah hehehe.. Pergi tanpa bagasi itu semacam obsesi gara-gara ngeliat para backpacker keliling dunia dengan bagasi minim. Fokusnya memang menikmati perjalanannya. Makanya pas ada kesempatan dicoba. Soal keju, beneran deh itu memang aneh-aneh. Apalagi yang keju kambing. Dari jauhpun baunya sudah tajem banget. Sampai gak ada niat mau nyoba yang itu hihihi..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here