Pendakian ke puncak Gunung Gede via Putri kami lakukan pada 27-29 Mei 2022. Pendakian yang memang direncanakan santai. Kalau sampai puncak alhamdulillah. Nggak juga nggak apa. Lana nggak ikut kali ini. Pesertanya cuma Papa, Mama dan Keano. Buat Papa Herwin dan Keano ini pertama kali ke Gunung Gede. Sementara buat Mama Yossie, ini kayak nostalgia karena dulu jaman mahasiswa hampir tiap tahun naik ke Gede. Dulu kan masih aktif di Group Pencinta Alam Aesthetica ISTN soalnya. Pelantikan anggota baru acaranya ya pasti lewat Gunung Gede, lanjut ke Gunung Pangrango setiap tahun. Sekarang mendakinya ngajak keluarga. Untuk anak-anak Gunung Gede termasuk aman menurut kami. Jalurnya sudah jelas terbaca. Nggak ada yang ekstrim banget. Cuma pegel aja, karena pendakian ke puncak Gunung Gede via Putri tanjakannya lebih berat dibanding lewat jalur Cibodas. Meski begitu, lewat sini bisa lebih cepat sampainya ke puncak. Sudah begitu dapat bonus bisa lewatin alun-alun Surya Kencana yang bagus banget sebelum kita sampai puncak.

www.ajakanak.com
alun-alun surya kencana

Kami sampai di area base camp Gunung Putri pas waktunya shalat Jumat. Papa Herwin dan Keano shalat dulu. Setelah itu kita makan siang di base camp Yaman, yang lokasinya persis di depan parkiran mobil. Yup, di sini ada lahan parkir bersama buat kendaraan roda empat. Memudahkan banget buat kita yang bawa mobil sendiri. Biaya parkir 30 Ribu rupiah perhari. Kalau dua hari ya kali dua aja. Memang dikondisikan buat parkir inap di sini. Penjagaannya juga cukup aman. Parkiran ini dikelola oleh warga setempat.

Kelar makan siang, kami segera menuju base camp Hadi. Nah BC Hadi ini udah gak bisa mobil masuk. Mesti jalan kaki. Lokasinya persis berhadapan dengan Pos Pemeriksaan SIMAKSI Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sesuai namanya, yang punya base camp namanya Kang Hadi. Kami mempercayakan Kang Hadi mulai dari ngurusin SIMAKSI sampai cariin porter. Jadi pas kita dateng semua sudah ready, tinggal nanjak aja. Kang Hadi cuma butuh foto KTP kita di setor duluan sebelum keberangkatan kita ke sini.

Untuk pengurusan SIMAKSI, kami bayar 75 Ribu rupiah perorang. Anak-anak seusia Keano (11 tahun) gak perlu bayar. Sementara tarif porter 500 Ribu perhari. Kalau rencana jalannya dua hari ya kali dua aja. Cukup satu porter buat rombongan kecil kami. Di carrier yang dibawa porter isinya logistik mentah, peralatan masak dan makan, cadangan air, tenda, dan cadangan baju. Sementara tas kami isinya yang ringan-ringan kaya sepasang baju ganti, snack, minum pribadi sama sleeping bag.

Kang Ikin, porter andalan

Alhamdulillah dapat porter yang sabar dan kalem. Kang Ikin namanya. Bisa menyesuaikan juga sama ritme mendaki kami yang mungkin mirip siput lambatnya. Fisik sih memang seadanya. Yang penting mental mesti dijaga. Berikut ini adalah rute pendakian ke Puncak Gunung Gede via putri.

BASE CAMP-POS 1 (Informasi Lama)

Rute ini bisa dibilang pemanasan. Masih agak landai jalurnya. Dari kawasan base camp nanti kita melewati jalan yang kanan kirinya adalah ladang sayur warga. Nanti kita bakal ngelewatin tempat pembuangan sampah akhir. Ini tempat pendaki mengumpulkan sampah yang mereka bawa dari gunung. Setelah itu jalan lagi bakal ketemu pos ojek. Yes, sampai pos ojek ini, memang kita masih bisa naik ojek. Gak mesti jalan kaki. Tapi ya itu pilihan aja sih. Biasanya pos ojek ini berguna pas pendaki turun saking lelahnya sudah gak sanggup jalan kaki lagi sampai base camp. Atau juga ada yang cidera kaki. Selebihnya lebih banyak yang jalan kaki di rute ini. Mulai dari pos ojek kita bakal masuk hutan.

Dari base camp menuju pos satu jaraknya hampir dua kilometer. Waktu perjalanan sekitar 1,5 sampai 2 jam. Menandainya gampang. Ada gapura selamat datang yang bentuknya cocok banget buat latar film horror heheheā€¦

Jalur pendakian Gunung Gede via Putri

POS 1 (Informasi Lama)- POS 2 (Leugok Leunca)

Gak lama istirahat di pos satu, naik lagi ke atas. Di Gunung Gede ini kita ketemu banyak warung. Makanya penting bawa duit cash kalau nanjak ke sini biar bisa jajan. Jajanan di warung rata-rata gorengan, snack, mie cup, aneka minuman kemasan dan semangka. Semangka perpotong di jual 5 ribu, kalau gorengan 2 ribu. Yang mahal itu air mineral kemasan. Botol kecil 600ml 15 ribu. Botol gede 1.5 liter 35 ribu. Mahal karena kebayang juga susah dan beratnya bawa ke sini. Kalau gorengan masih termasuk murah karena bahan-bahannya banyak tersedia di kebun warga. Mereka bawa bahan mentah terus goreng deh di atas. Kita bisa makan hangat-hangat kalau gorengan ini.

Warung di jalur pendakian Gunung Gede via Putri

Dari pos satu ke pos dua nggak terlalu jauh. Dengan kecepatan kami, jalan sekitar satu jam sudah sampai. Nama posnya Leugok Lenca dengan ketinggian 1993 mdpl. Di pos dua kami istirahat sebentar. Di sini juga ada warung lagi. Tapi kita nggak jajan. Melainkan buka bekal yang dibawa Keano. Tas Keano banyak banget isi makanan soalnya. Lumayan mengurangi beban kalau dimakan.

POS 2 (Leugok Leunca) – POS 3 (Buntut Lutung)

Pendakian Gunung Gede via Putri terus berlanjut meskipun di rute ini kami sempat kehujanan. Hari juga mulai gelap. Kami sempat berteduh di sebuah warung saat Maghrib tiba. Diskusi dengan Mang Ikin, porter kami, menurutnya kami lebih baik melanjutkan perjalanan. Nanti baru ngecamp di Pos 3, dan besoknya langsung bisa lanjut mendaki. Tadinya memang sempat goyah untuk bermalam di dekat warung tempat kami berteduh ini. Jalan malam di hutan itu gak nyaman. Gelap, nggak keliatan apa-apa. Apalagi bawa anak seusia Keano. Fisik juga semakin drop. Ditambah lagi badan terasa dingin karena kehujanan. Tapi kami bertekad malam itu untuk sampai Pos 3. Biar istirahatnya enak dan nggak ninggalin banyak PR buat perjalanan besok. Alhamdulillah, sebentar saja jalan gelap-gelapan sudah sampai di pos 3 Buntut Lutung. Sekitar jam 7 malam kami sudah bisa masuk tenda.

Pos 3 Buntut Lutung ketinggiannya sekitar 2300 Mdpl. Tempatnya cukup luas buat pendaki ngecamp. Selain kami ada beberapa tenda juga yang digelar di sini. Biasanya mereka pendaki santai kayak kami. Berangkat siang atau sore, malamnya ngecamp di Pos 3 atau Pos 4. Besoknya jalan lagi, lanjut ngecamp di alun-alun Surya Kencana. Subuh baru muncak buat liat sunrise, setelah itu turun pulang. Itu kalau pendakian Gunung Gede via Putri selama 3 hari dua malam. Ada juga yang ngegas cuma dua hari 1 malam. Pagi nanjak, malamnya ngecamp di Surya Kencana, besokannya muncak habis itu pulang. Sekarang ini bahkan gasnya lebih pol lagi. Soalnya lagi musim trail run. Itu ada yang bisa-bisanya lari seharian bolak balik nanjak sampai Puncak Gede langsung turun lagi. Gila banget fisiknya.

Kami sendiri ambil yang selow aja. Target Keano cuma kepengen melihat alun-alun Surya Kencana. Tadinya malah sempat ngajakin pulang saat bangun tidur di pos ini. Tapi itu rupanya efek sakit perut karena mau BAB. Setelah diajarin cara BAB di gunung, Keano kembali ke tenda dengan wajah lega. Gak lama kemudian, dia bilang pengen lanjut mendakinya. Kami sebagai orang tua tinggal mengikuti saja.

POS 3 (Buntut Lutung) – POS 4 (Simpang Maleber)

Sekitar jam 10 pagi, barulah kami beranjak dari Pos 3. Agak siang karena paginya masih gerimis, angin juga kencang bertiup. Menunggu matahari agak terang baru melanjutkan perjalanan. Saran Mang Ikin untuk ngecamp di Pos 3 tepat banget. Karena dari Pos 3 menuju Pos 4 Simpang Maleber adalah jalur yang paling berat. Tanjakannya panjang-panjang, hampir nggak ada jalan datar. Pas banget semaleman recharge energi, paginya jadi masih segar badan menghadapi tanjakan. Kalau orang-orang biasanya sekitar 2 jam melalui jalur ini.

Di pos 3 menuju pos 4 ada beberapa pos bayangan. Ada beberapa warung juga. Jalur juga semakin siang semakin rame. Sekitar jam 11 kami sampai di pos bayangan Lawang Saketeng namanya. Pos 4 Simpang Maleber masih agak jauh di depan. Kami sempatkan istirahat dulu. Mesti pinter-pinter ngatur energi. Biar pelan yang penting nanti sampai di tujuan. Yang bikin seneng nih, drama keano minta pulang di pos 3 sudah menguap begitu aja. Sepanjang perjalanan anak ini moodnya keliatan bagus. Capek iya, tapi nggak jadi alasan dia untuk menghentikan perjalanan. Dan kamipun sampai di Simpang Maleber lebih cepat dari yang direncanakan. Belum jam 12 siang, kita sudah tiba.

POS 4 (Simpang Maleber) – POS 5 (Alun-alun Timur Surya Kencana)

Di Pos 4 Simpang Maleber, suasana lebih ramai dibanding Pos 3. Sudah bercampur dengan pendaki yang turun juga soalnya. Ketemulah macam melting point di Pos 4 ini. Ketinggian lokasi ini sekitar 2627 mdpl. Di pos 4 ini, Mama Yossie ketemu para sahabat sejak kuliah dulu. Sama-sama anggota grup pencinta alam aesthetica ISTN. Pendakian ini rencananya juga pengen ketemu sama mereka. Cuma karena kesibukan masing-masing gak bisa bareng-bareng jalannya. Ntar ketemu di atas saja. Begitulah perjanjiannya. Benar juga sih ketemu, tapi kami baru naik, ada yang sudah turun. Sebagian masih ngecamp di Surya Kencana. Bisa turun bareng-bareng besok siang.

Di Pos 4 ini kembali jajan dan beli air minum. Cadangan air di porter masih ada sebenarnya. Tapi buat bekal di jalan kami pilih beli. Dari Pos 4 ke Pos 5 Alun-alun Timur Surya Kencana, sebenarnya rute pendek. Tanjakannya sudah berkurang. Ada beberapa bagian jalan datar sebagai bonus. Kira-kira jalur ini bisa ditempuh dengan waktu perjalanan sekitar satu jam. Setelah cukup istirahat, jajan dan ngobrol di Pos 4, perjalanan kami lanjutkan. Sekitar jam 13.45, akhirnya kami sampai di alun-alun Surya Kencana. Pemandangan padang edelweiss jadi hiburan tersendiri buat mata. Cita-cita Keano kesampaian. Menginjakkan kaki di alun-alun seluas kurang lebih 50 hektar ini.

POS 5 (Alun-alun Timur Surya Kencana) – Alun-alun Barat Surya Kencana

Pos 5 jalur pendakian Gunung Gede via Putri menjadi gerbang masuk menuju Alun-alun Surya Kencana. Savanna luas ini diapit dua gunung, yakni Gunung Gede dan Gunung Gemuruh. Ada banyak pendaki yang ngecamp di Pos 5 ini. Padahal, untuk menuju puncak Gunung Gede, kita mesti melintasi alun-alun ke bagian barat, terus baru deh nanjak ke area kawah. Ini sih sebenarnya pilihan saja. Mau ngecamp di bagian timur atau barat. Kalau kami, mending lanjut perjalanan ke bagian barat, biar besok kalau mau nanjak ke puncak lebih dekat.

Alun-alun Surya Kencana ketinggiannya sekitar 2750mdpl. Kita melintasi padang rumput yang datar dan luas menuju alun-alun barat dari arah timur. Sebenarnya sih bisa ditempuh dalam waktu sekitar setengah jam. Tapi karena lokasinya bagus, jadi banyak berhenti untuk istirahat sambil menikmati keindahannya. Lagi pula, hari ini nggak ada lagi yang dikejar. Targetnya cuma buka tenda di alun-alun barat, terus istirahat. Makanya jalannya santai saja di sepanjang Surya Kencana. Pas banget matahari juga lagi bagus-bagusnya. Padahal tadi pagi sempat gerimis, mendung, dan angin yang suaranya kedengar gak karuan.

Kalau kita ngecamp di alun-alun barat, lebih dekat ke mata air. Ada mata air alami di sini. Gak perlu beli lagi. Kami mencari lokasi ngecamp agak di pinggir untuk menghindari dinginnya hembusan angin. Di alun-alun barat juga ada warung. Tapi kan tau sendiri harga air cukup mahal. Kalau jajan gorengan aja sih masih bisa banyak. Kalau air lebih baik ngambil sendiri di mata air.

Alun-alun Barat Surya Kencana – Puncak Gunung Gede

Nah, sekarang nih waktunya menuju puncak. Nikmatnya pendakian ke Puncak Gunung Gede via Putri adalah kita bisa melihat alun-alun Surya Kencana duluan. Tempat ini adalah salah satu daya tarik Gunung Gede selain tentu saja puncaknya. Dari alun-alun barat Surya Kencana menuju Puncak Gede, perjalanan sekitar 30-45 menit. Biasanya pendaki meninggalkan barang-barang di tenda, bawa bekal seperlunya aja ke puncak. Kecuali pulangnya nanti mau lewat jalur Cibodas, gak lewat Putri lagi ya mau nggak mau harus diangkut semua karena arahnya berlawanan.

Pemandangan dari Puncak Gunung Gede, tampak Gunung Pangrango

Puncak Gunung Gede ketinggiannya 2958 mdpl. Jalur naik keatas lumayan ngetrek, tapi ya nggak sulit-sulit banget. Keliatan jalannya. Sisakan saja cadangan nafas yang banyak hehehehe.. Jalaur ngetrek lumayan bikin cepet ngos-ngosan soalnya. Kalau naik pagi enaknya udara masih agak dingin. Jadi gak terlalu keringetan. Gak mesti bertempur juga dengan panasnya matahari pagi.

Saat naik ke puncak, Keano kami tinggal di tenda. Ada porter kami, Kang Ikin yang jaga. Plus ada juga sejumlah teman dari GPA Aesthetica ISTN yang sudah ngecamp duluan. Nitip juga ke mereka. Kawah Gunung Gede ini masih aktif meskipun statusnya dalam kondisi normal sekarang-sekarang ini. Dari puncak Gunung Gede keliatan puncak Gunung Pangrango. Kalau mau ke sana mesti turun dulu ke arah Kandang Badak baru ketemu jalur naiknya.

Demikian jalur pendakian ke Puncak Gunung Gede via Putri. Base camp pendakiannya terletak di Sukatani, Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Arahnya gak jauh dari Istana Cipanas. Untuk info pendakian, bantuan pengurusan SIMAKSI, porter atau perlu base camp transit sebelum nanjak bisa kontak ke BASE CAMP HADI. Kang Hadi-nya ramah dan siap membantu. Di bawah ini adalah peta lokasi Base Csmp Hadi alias Gede Pangrango Adventure. Gak susah nyarinya dan mudah dikontak orangnya.

Berikut ini kami lampirkan itinerary pendakian Gunung Gede via Putri yang kami jalani.

Jumat, 27 Mei 2022
09.45 berangkat Depok
12.00 sampai Basecamp, jum’atan, makan
13.45 berangkat dari Basecamp Hadi
15.30 pos 1
16.20-16.30 pos 2
17.45-18.15 warung gorengan
18..45 sampai pos 3. Buka tenda

Sabtu, 28 Mei 2022
09.50 berangkat dr pos 3
11.05-11.20 pos bayangan Lawang Saketeng
12.00 pos 4 Simpang Maleber
12.43 berangkat dr pos 4
13.45 Pos 5 alun-alun timur Surya Kencana
15.30 Alun-alun barat Surya Kencana

Minggu, 29 Mei 2022
07.45-8.30 otw puncak
08.30-09.00 puncak
09.00-09.30 turun puncak
11.00-11.30 alun-alun barat timur
11.55-12.10 pos 4
12.10-12.30 pos 4-pos bayangan lawang saketeng
12.35 Pos bayangan-pos 3
13.25-13.55 pos 3
14.45-14.50 pos 2
15.15 pos 1
16.40 Base Camp Hadi

Buat Keano, ini adalah pendakian gunung ketiganya. Sebelumnya, Keano dan kakaknya Lana, pernah kami ajak naik Gunung Papandayan dan Gunung Prau.

Berikut ini selengkapnya video jalur pendakian Gede via Putri

Previous articleMudah! Syarat Masuk Liburan ke Singapura 2022
Next articleWarung Goceng, Rekomendasi Tempat Makan Murah di Depok
Hallo, kami Herwin-Yossie-Lana & Keano, keluarga dengan dua anak penggemar traveling. Backpacking, budget traveling, hiking, & camping bersama anak menjadi favorit kami. Di sini kami berbagi cerita traveling dan pengalaman bertualang. Dan percayalah, bagi anda yang suka traveling dan wisata petualangan, melakukannya bersama anak dan keluarga jauh lebih menantang, sekaligus menyenangkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here