Camping With Kids: Gunung Papandayan Garut

14
179

Setelah beberapa kali camping dan trekking, akhirnya kali ini punya kesempatan ngajak anak naik gunung beneran. Gunung Papandayan jadi pilihan, berdasarkan rekomendasi sejumlah kawan. Katanya nih, treknya bersahabat buat pendaki first timer, termasuk anak-anak. Spotnya juga variatif sehingga tidak membosankan. Jadilah kami berangkat. Gak cuma sekeluarga, tapiii..ada juga keluarga-keluarga lain teman-teman sekolahnya Keano dari Sekolah Alam Indonesia.

So, trip ini jadi perjalanan kami yang paling rame. Perjalanan terselenggara dikompori klub bapak-bapak yang suka nganter anak sekolah kalau pagi, sebelum kerja. Yes, gak cuma emak-emak yang punya geng anter anak. Bapak-bapak ternyata juga lho…

Gunung Papandayan adanya di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tingginya 2665 meter dari permukaan laut. Cara ke Gunung Papandayan ini gampang. Dari Depok, butuh sekitar 6 hingga 7 jam mencapai kakinya, naik mobil pribadi. Itu teorinya. Tapi, mengingat jalanan sekarang ampun-ampunan macetnya dan bahkan di jalan tol pun, yaaa gitu deh.

Waktu itu kami berangkat sekitar jam 6-7 pagi dari Depok, dari rencana berangkat ba’da Subuh –ngaret seperti pada umumnya hehe. Sampai parkiran pintu masuk pendakian Papandayan sekitar jam 6 lebih, hampir malem.. hehehe, 12 jam aja di jalan. Maklum waktu itu itu lagi long weekend, dan jalan tol Jakarta-Cikampek lagi banyak dibenerin. Padahal sudah pilih jalur alternatif blusukan, biar gak lewati jalan tol sampai Cikarang – Karawang. Masuk-masuk tol, sudah hampir km 57.

Tapi jalannya memang santai juga sih, gak sepenuhnya bisa nyalahin macet. Sempet shalat Jumat di rest area, disambung makan siang dan ngerumpi cantik. Namanya juga bawa anak ya, jangan sampai pada masuk angin karena kelaparan. Bisa gagal nanti naik gunungnya.

Camp David, Transit dan Gelar Tenda di Malam Pertama

Camp David adalah perkemahan tepat di gerbang pendakian Papandayan. Lokasinya sebelahan sama area parkir. Ini batas terakhir kita bisa bawa kendaraan, terutama mobil. Kenapa gitu? karena ternyata motor bisa masuk jalur trekking. Selain motor porter, saya juga lihat trail pengunjung.  Meski keberadaan porter motor ini membantu kami memudahkan perjalanan ke atas, tapi dalam hati kecil, rada nyesek, jalur seindah ini dijajah ban dan knalpot. Segitu baru ngeliat porter motor. Ngeliat anak trail naik, lebih nyesek lagi. Punten buat penggemar trail adventure. Mungkin cara pandang kita berbeda. Kalau saya sih lebih mikir ke suara bising yang ditimbulkan. Kali-kali aja satwa penghuni hutan terganggu. Belum lagi polusi asapnya.

Dari Depok pagi banget, sampai Camp David mataharinya udah ilang. Sempet ngejar salat Maghrib di masjid parkiran walaupun rada telat. Setelah itu orang-orang dewasa sibuk masang tenda di dalam gelap. Apalagi anginnya saat itu gak nyantai. Bahkan semaleman tidur, hembusan angin terus gedebak gedebuk menghajar tiga tenda yang kami dirikan. Hari-hari itu emang angin lagi kenceng-kencengnya. Nambah dingin ke kulit.

Paginya, ribut angin  mulai reda. Bisa masak dan sarapan. Ada keran air bersih tersedia di perkemahan. Meski angin gak sekenceng kemarin, cuaca masih mendung. Terlihat beberapa pohon yang akarnya kurang kuat, pada tumbang sisa angin semalam.

Ini seninya jalan bawa anak. Jadwal ngikut mood mereka. Begitu juga perabotan gak bisa sembarangan. Perasaan kalau naik gunung gak bawa anak, bawaan bisa sesimpel mungkin. Tapi, begitu bocah ikut, semua diangkut. Yang paling utama, pakaian saya bawa agak banyak, takut basah kan mesti cepet ganti, mencegah anak sakit. Kedua, makanan juga persiapannya jadi lebih banyak. Punya anak masa pertumbuhan yang sebentar-sebentar lapar, itu sebabnya. Ketiga semua bawaan segambreng gak mungkin diangkut berdua suami. Mulai dari selimut sampai kasur angin. Beraaat cuy, umur udah gak muda lagi. Jadilah kita sewa porter. Untung bisa patungan bersama para orangtua teman-teman Keano. Ada bapak ibunya Nara, Ayah Malaika, Ayah Bialfis, dan Ayah Hayzel yang pergi justru tanpa membawa anaknya, Hayzel. Kasian juga beliau, anak istrinya halan-halan ke luar negeri, dese blusukan bersama kami di sini hahaha… Bukannya ditinggal sih, tapi memang jadwal ke Papandayan yang agak-agak sulit ditebak, jadilah gak matching gitu jadwalnya. Sabar ya pak, dikurangi manyunnya ngeliat foto bapak-bapak yang lain sama anaknya.

Di area Camp David, selain masjid, kantor pengelola sekaligus pusat informasi, dan warung makan, juga tersedia saung atau gazebo yang bisa disewa. Dan gak ketinggalan kolam air panas. Intinya, fasilitasnya cukup lengkap. Seperti kalau nyari porter motor, tinggal tanya ke petugas di kantor informasi, nanti dicarikan dan disiapkan semuanya. Atau ke penjaga warung juga bisa. Harga semua standar.

Setelah beres packing, dan sempat olah raga pemanasan pelemasan yang dipimpin sama anak-anak kelas 1 SD (Keano, Bialfis, Nara, Malaika), sekitar jam 9 pagi hiking dimulai.

Hiking di antara Kawah dan Bebatuan

Trek pertama yang dilalui adalah jalur kawah dan bebatuan. Bau belerang jelas, namanya juga ngelewatin kawah. Disarankan pake masker di area sini. Agak unik memang Papandayan. Biasanya kita nemu kawah di gunung kalau udah rada naik ke atas. Di sini, kita ketemu kawahnya duluan.

Keano dan temennya Malaika sepanjang jalan sibuk mungutin batu. Sebelumnya batu diamati dulu, dikomentari, dipegang-pegang sambil nongkrong berdua. Temen yang lain, Nara dan Bialfis gak kalah akhirnya ikutan. Sementara Lana, jadi kakak pemantau yang baik. Yang begini ini nih, yang bikin perjalanan jadi lama hahaha.. baru lima langkah liat batu, lima langkah lagi liat batu.. Aduuuh naaaak, kapan sampainya iniiih…

Tapi yaitu tadi, perjalanan ini buat mereka. Namanya juga ajak anak. Yang harus paling duluan menikmati ya bocahnya lah. Emak bapak mesti sabar-sabar urut dada. Overall, jalur pertama ini, landai. Gak nanjak-nanjak amat. Tabungan nafas amanlah. Paling cuma harus tahan sama bau belerangnya.

Papandayan mungkin termasuk salah satu gunung yang ramah bagi pendaki amatir. Di beberapa titik tersedia toilet dan air keran. Terus ada warung juga. Jadi sebenernya, gak perlu banyak logistik karena bisa beli. Menu makanan pilihannya cukup banyak. Ada Indomie, Mie Sedap, Sarimi, Pop Mie, Telur, Nasi, lontong, gorengan tahu, bakwan dan pisang. Dan diujung jalur pendakian batu dan kawah, tersedia cilok.

Meski bawa bekal dan kompor buat memasak, makan siang akhirnya kami putuskan di warung ajah. Menunya, ya salah satu yang tadi sudah saya sebutkan di atas. Ditambah teh manis sama semangka sebagai pencuci mulut. Anak-anak girang bukan kepalang. Horeeee… makan mie.. gitu katanya.

Istirahat di warung emang nikmat. Tangan sebentar-sebentar comot sana, comot sini. Gorengan yang udah dingin dan kaku juga dihajar masuk mulut. Bener kata orang-orang, kalo naik gunung, semua terasa enak. Perut kenyang, perjalanan lanjut.

Jalur selanjutnya, peralihan dari bebatuan menuju bukit yang penuh pepohonan. Jalurnya juga enak. Gak berasa nanjak. Agak menanjak dan berasa mendaki, ketika menuju celah bukit yang bernama Lawang Angin. Kalau dari bawah, celah itu kelihatannya seperti huruf ‘V’ yang membelah bukit.

Sempat juga menyeberangi sungai. Di sini, teman Keano yang badannya paling sehat, Bialfis, putus sandalnya. Jadilah di perjalanan selanjutnya Bialfis pakai sepatu boot karet yang biasa dipakai ke sekolah. Tujuan kami adalah Ghober Hoet, dataran tempat kami akan bermalam di Papandayan.

Ghober Hoet

Sore-sore, tibalah di Ghober Hoet. area camping yang berhias rumput hijau. Di sini kami membuka tenda. Menurut Ayah Bialfis, lokasi ini cakep buat liat sunrise. Gak perlu jalan jauh. Tinggal lima langkah keluar tenda. Kalau mau jelas lagi, 10 langkah juga boleh deh. Dan asiknya, Ghober Hoet ini gak terlalu rame. Jadi gak keganggu sama berisiknya pengunjung lain.

Di Ghober Hoet, anak-anak praktek mendirikan tenda. Pada seneng banget. Buat Lana dan Keano, kalau biasanya cuma nonton sambil pegangin pasak, sekarang mereka tanggung jawab gelar tenda sendiri.

Bawa lima tenda dari Depok, di sini kami akhirnya cuma pakai tiga tenda.  Malaika, Bialfis, dan ayahnya masing-masing, tidur di tenda ayah Hayzel. Nara bersama ayah ibunya, dan kami sekeluarga tidur di tenda terpisah.

Masih sore dan terang, kabut sudah mulai turun. Lama-lama makin tebal dan jarak penglihatan makin pendek. Tambah dingin pula. Kami masuk ke tenda masing-masing buat istirahat, dan biar hangat. Ternyata istirahatnya kebablasan, tidur pulas semua, terutama anak-anak. Mungkin berasa enak setelah lumayan kecapean jalan seharian.

Dibanding waktu di Camp David, kami tidur lebih nyenyak di sini. Anginnya juga lebih bersahabat. Tapi dinginnya tetap aja, kalau nggak jaketan, gak sanggup keluar dari peraduan.

Pagi hari diisi dengan kegiatan hunting sunrise, di mana katanya lima langkah mestinya sudah keliatan. Tapi kabut terlalu tebal pagi itu, sehingga kami berjalan sampai 10 langkah berburu sunrise. Sayangnya, seperti sudah takdir, matahari ngumpet aja gitu. Jadilah langkah-langkahnya lebih panjang dari hitungan 10. Dan meskipun hasilnya tidak membawa sunrise ke pandangan, minimal badan lebih hangatlah, keceriaan juga tidak hilang karena semua peserta sukses membuat foto keluarga. Sukses membuat, beda ya sama sukses hasilnya hahahaha… karena foto keluarga kami ini jauh dari ideal kepatutan foto studio. Kalau saja ada razia fashion police, pasti saya sudah kena gara-gara selimut buat bobok dijadiin wardrobe.

Nggak dapat sunrise, lanjut kita masak. Nugget pisang, sup krim, sosis, nugget ayam, spagheti, mi instan, semua dikeluarin. Tujuannya biar bawaan lebih enteng buat jalan. Sebagai bukan ahli masak, yang penting mateng dan berasa garam udah cukup. Karena apapun yang dimasak biasanya habis juga. Gak ada yang komplen soal rasa. Gak berani juga sih kayaknya, awas aja hahaha…

Perjalanan lanjut. Tenda dan peralatan tidur kembali dibawa sama porter motor. Kami cuma membawa perlengkapan pribadi dan snack secukupnya. Manja ya..? Biarin deh. Udah cukup waktu muda naik gunung bawa carrier berat.

Di area Ghober Hoet ini, selain ada warung, tersedia juga toilet dan mushala. Air tersedia banyak pula. Mushalanya bangunan kayu berbentuk panggung. Anak-anak senang salat di sini. Berasa main rumah-rumahan kata mereka.

Pondok Salada

Tujuan selanjutnya Pondok Salada. Ini tempat favorit para pendaki ngecamp. Jalan ke sana dari Ghober Hoet gak jauh-jauh amat. Jalurnya juga hampir gak ada tanjakannya. Kami melalui hutan dengan deretan pohon yang bagus kayanya jadi tempat foto prewedding.

Pondok Salada ini seperti lapangan yang berada di lembah, dikelilingi perbukitan dan pohon-pohon yang lumayan lebat. Di sini bisa muat ratusan tenda. Tapi kami gak memilih ngecamp di sini karena menghindari keramaian. Dan yang utama, karena view di Ghober Hoet langsung lepas ke alam terbuka, melihat pemandangan ke area Kawah, kota Garut, dan Gunung Cikuray. Langsung di depan tenda.

Di Pondok Salada, warung lebih banyak. Toilet juga tersedia. Foto session lagi dong di sini. Jalannya memang gak seberapa, tapi yang penting foto-fotonya.

Hutan Mati

Dari Pondok Salada, kami menuju Hutan Mati. Disebut demikian karena lokasi ini dipenuhi pohon-pohon yang meranggas akibat erupsi Gunung Papandayan. Bekas-bekas aliran lava menghasilkan lahan kering, dipenuhi debu dan kerikil berwarna keputihan. Semua pohon mati menjadi tonggak yang bentuknya artistik. Ini spot yang harus dilalui menuju puncak papandayan.

Alhamdulillah, cuaca cukup bersahabat. Padahal hari sebelum kami datang, hujan deras dan angin kencang melanda kawasan ini. Banyak atap warung yang rusak dan beterbangan. Di beberapa jalur juga sejumlah pohon tumbang. Tapi hari ini, selain sesekali mendung gak ada lagi hambatan cuaca yang harus kami hadapi.

Hutan mati, sebenernya bisa dicapai oleh pengunjung yang pulang pergi tanpa harus menginap di Papandayan. Ada jalur mendaki langsung dari kawah di bawah. Jadi gak harus melalui Ghober Hoet dan Pondok Salada seperti yang kami jalani. Jalur mendakinya lebih cepat, tapi lebih terjal juga. Saat pulang nanti kami akan melaluinya. Tapi nggak sekarang. Karena dari Hutan Mati, kami mau ke Tegal Alun dulu, lokasi dimana Edelweiss tumbuh, bunga abadi yang hanya hidup di tempat tinggi.

Tegal Alun

Perjalanan menuju Tegal Alun adalah yang paling berat kami lalui di Papandayan. Tanjakannya mantap. Kalau gak tebal tekad, sudahlah lupakan. Bukan cuma melawan diri sendiri. Tapi.. kami juga harus menyemangati anak-anak. Kadang mesti digendong, ditunggui istirahat, dan menjawab dengan rajin semua pertanyaan mereka seperti, “… kapan sampenya?”

Cuma ya namanya anak-anak. Begitu mereka sudah menyesuaikan diri dengan jalur mendaki, langsung ngaciiir, lupa sama emak bapaknya yang fisiknya mulai renta. Mesti diteriaki biar ngerem sedikit menunggu rombongan para orang tua.

Yah.. at the end, gak ada jerih payah yang sia-sia. Padang Edelweiss di Tegal Alun membuat kita betah gegoleran di sana. Lana dan Keano serta teman-temannya sibuk cari belalang di antara rumpun Edelweiss, pengalaman mahal ini. Biasanya cari belalang di kebun sekolah aja soalnya.

Sementara anak-anak main di lapangan luas, emak bapaknya mengisi waktu dengan tidur-tiduran, dan sedikit tidur beneran. Di Tegal Alun dilarang berkemah. Hasil baca-baca, hamparan Edelweiss di sini luasnya mencapai 80 hektar. Dulu.. pohon-pohon Edelweiss sempat mati kena erupsi tahun 2002. Pernah juga setengahnya terkena kebakaran hutan tahun 2015. Tapi waktu kami ke sana, pohon-pohon sudah subur dan berbunga kembali. Kami wanti-wanti ke anak-anak, dipandangi saja yaaaa bunga dan pohonnya. Foto-foto boleh, tapi jangan dipetik. Biar orang lain yang nanti datang ke sini bisa menikmati juga keindahannya. Oiya, satu lagi, kalau ada sampah dikantongi. Jangan buang sembarangan. Nanti sampah-sampah yang terkumpul kita buang di tempatnya kalau sudah turun ke bawah.

Turun Pulang, Perjalanan yang juga Bikin Senang

Tegal Alun menjadi titik pendakian tertinggi kami selama mendaki Papandayan. Waktu di sana gak kepikir menuju puncak karena saya dan suami gak tau, masih ada lagi puncaknya dan di sebelah mana lokasinya hahahaha.. Jadi ceritanya, pas jalan turun sempat mampir warung lagi, berceritalah si yang punya warung kalau di Papandayan masih banyak spot indah lainnya. Aiiih.. si bapak, kenapa gak sebelum kita naik ketemunya. Tapi anyway, tempat-tempat yang kami singgahi di pendakian ini adalah yang paling umum dijalani para pendaki.

Perjalanan turun kembali melewati Hutan Mati. Setelah itu kami menempuh rute berbeda dengan saat naik kemarin. Rute yang ini by pass dari jalur kawah menuju hutan mati, tanpa lewat pondok salada. Jalannya udah dibikin rapi. Batu-batu disusun membentuk tangga. Pemandangannya juga tetap enak dilihat. Di sini juga terlihat jelas hamparan Kota Garut, kawah, dan danau gunung Papandayan.

Di warung, kami makan mie instan lagi… yeeaay.. ketemu gorengan lagi.. pokoknya sehat (mudah-mudahan). Sebelum melewati jalur kawah menuju Camp David, saya memandangi sepatu saya yang jebol telapak kakinya. Sepatu trekking merk Head yang umurnya lebih tua dari umur Lana yang menginjak 9 tahun di 2017. Sepatu ini sudah setia menemani perjalanan blusukan keluar masuk hutan, mulai dari pedalaman Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, sampai singgah ke manca negara. Nasibnya berakhir di sini. Tapi kata si Bapak pemilik warung, atasnya masih bagus. Buat saya aja katanya. Sol-nya mau dibenerin. Nanti kalau udah rapih lagi mau dikasih buat anaknya.. Aissh, sok atuh pak mangga.. Buat saya ini bukan sembarang sepatu, tapi banyak kenangan tersimpan bersamanya.. tsaah

Jadi deh, saya pulang meninggalkan Papandayan dengan sandal jepit aja. Memandang bangga bocah-bocah yang masih aja gembira pas turun gunung. Belum turun, bapak-bapaknya udah ketagihan mau naik gunung lagi. Selama Lana dan Keano happy, ayolaah.. ke mana aja kita pergi.

* Fun Trip Gunung Papandayan: 1-3 Desember 2017
* Biaya pendakian ke Gunung Papandayan, hari libur: tiket masuk 30 ribu/orang, kemping 35 ribu/orang. Kendaraan: 35 ribu/mobil. Ada biaya parkir kendaraan lagi.
* Porter motor: 300 ribu/motor (kalau gak salah). Bisa angkut banyak barang/ransel.

*****

14 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here