Camping with Kids: Bukit Swiss Cariu Jonggol (Land Rover)

4
756

Awal Maret 2020, Camping with Kids edisi Land Rover akhirnya sampai juga ke Bukit Swiss di Cariu Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bukit Swiss ini akan dikembangkan menjadi lokasi eduwisata. Nantinya kegiatan kayak camping, glamping, outbond, serta berbagai aktivitas yang melibatkan keluarga dengan alam bakal difasilitasi di sini. Nah, sebelum semua itu terwujud, kami dapat kesempatan nyobain camping duluan ke sana.

Suasana pagi di Cariu
Proses persiapan lahan eduwisata

Dari gerbang tol Cibubur, Bukit Swiss bisa ditempuh sekitar 1 jam 12 menit berkendara. Ini menurut google maps dengan situasi lalu lintas lancar. Kalau naik Land Rover Series tua kayak kami, yah nambah-nambah dikitlah waktu perjalanannya. Alamat persisnya, di jalan Antajaya, Sukarasa, Kecamatan Tanjungsari, Bogor Timur, Jawa Barat. Jalur yang ditempuh melalui jalan alternatif Cibubur, lanjut Cileungsi melewati taman buah Mekarsari, terus ikuti jalan menuju Jonggol. Udah sampe Jonggol pun gak susah dicari lokasi ini. Gunakan google maps, insya Allah sinyal ponsel tetap aman sampai lokasi.

Camping sekaligus roadtrip naik Land Rover memang lagi jadi favorit kami belakangan ini. Satu paket itu sudah. Campingnya dapet, pengalaman offroadnya juga gak ketinggalan. Apalagi, campingnya gak sendirian. Ada komunitas Land Rover Depok, teman jalan yang udah kayak keluarga. Sama-sama suka Land Rover, sama-sama suka camping, dan sama-sama suka ngajak anak dan keluarga ke mana-mana.

Tikum 2 di Kota Wisata Cibubur

Berangkat dari rumah, janjian dengan beberapa anggota rombongan di pintu tol Cijago. Ketemu rombongan besar berikutnya di Kota Wisata Cibubur. Selain komunitas Land Rover Depok, ada beberapa teman dari LRCI dan Land Rover Club Patriot Bekasi yang ikut juga. Kawan LRCP atau katanya nanti akan berubah jadi BeLeR (Bekasi Land Rover), memang sudah lama dan selalu jadi teman jalan Land Rover Depok. Misalnya waktu jalan bareng ke Jogja Experience, Super Camp Bandung, Roverhood, Citalahab Cikaniki dan trip-trip lainnya.

Lumayan panjang iring-iringannya. Ada sekitar 15 Landy dari tikum Kota Wisata Cibubur. Total sama yang nyusul dan yang sudah standby di lokasi, sekitar 23 unit. Untung masih pagi, jadi jalanan masih agak sepi. Perjalanan lancar. Hanya satu landy saja yang agak manja-manja dikit. Selebihnya lancar jaya. Isabela alias Isabelek, Landynya Om Boy ngadat di tengah jalan. Usulan ditarik strap, ditolak mentah-mentah. Katanya takut difoto dan jadi bahan celaan. Takut jadi aib hehehe… Ganti koil, ganti rotax, bersihin karbu, dan sedikit sentuhan dari mekanik Japar Motor, akhirnya Isabelek jalan kembali.

Logo Ngetem by Om Bondho Teguh

Ini acara yang digelar Land Rover Depok (LRD). Namanya Ngetem Supir Land Rover Depok. Biasanya kami cuma ngumpul dan berangkat sama-sama kayak ke acara Land Rover Supercamp, Jogja Experience atau Roverhood Camp. Di camping kali ini, sengaja LRD belum ngundang-ngundang komunitas Land Rover lainnya, karena ini tadinya acara internal. Dan lokasi camping juga, baru digarap.

Masuk Bukit Swiss

Jalur jalan menuju lokasi masih dalam tahap pembangunan. Biar begitu bukan cuma kendaraan offroad yang bisa masuk. Minibus kayak Avanza, Xenia, dan Livina juga masih aman dan bisa parkir di kantor pemasaran. Kalau kami, berhubung niatnya memang kotor-kotoran, dari kantor pemasaran lanjut ke jalan yang belum jadi buat mainan. Naik Land Rover belum afdol kalau belum ketemu lumpur dan becek-becekan.

Landy Series, tua tapi tetep fotogenik (katanya). Bento, Serie 2 om Yudo paling depan

Menuju camp area dari kantor pemasaran sebenarnya bisa jalan kaki. Paling lama, lima menit juga sampai. Tapi protokol camping Land Rover, tenda mesti sebelahan sama mobil. Kalau perlu malah nempel. Sebab si Landy bukan sekedar alat angkut dan transportasi. Dia sudah jadi properti. Kelasnya samalah kaya tenda. Makanya setiap camping bawa Land Rover, cari spot buka tenda mesti yang bisa parkir juga. Manajemen lokasi dengan anggota rombongan lain jadi penting. Kalau perlu jalan muter-muter yang ditempuh. Jalur terjal bukan halangan, karena justru itu yang dicari.

Pose supir Kampak Jaya ketika mau diwinching

Namanya juga jalan gasruk-gasruk. Ada yang gampang dilewati, ada yang perlu pake usaha. Tergantung kondisi Landy dan keahlian pengemudi. Makin susah jalannya makin seneng. Bahu membahu menuju lokasi. Tapi ya namanya Supir Land Rover jail-jail. Kalau ada yang nyangkut diledekin dulu baru dibantuin hehehe…

Ceritanya ini Pangkalan Supir Landy

Jalan ke camping area, atau Pangkalan Supir Land Rover kalau om-om LRD bilang, memang sengaja dibikin becek. Berhubung waktu kita datang, lagi panas dan gak hujan seperti hari sebelumnya, makanya sengaja dialirin air dari atas. Biar seru, ada licin-licinnya. Dan, kesampaian juga keseruannya. Ada yang mulus naik, ada yang melintir-melintir, ada juga yang mendem. Kepake juga yang punya winch.

Long Canvas Om Audi dkk. Di atasnya Batok hijau Om Tejo dan si Gendot LR88
Camp Area dengan background Bukit Kanaga

Pas jam makan siang, semua Landy sudah berhasil masuk lokasi. Sudah nemu spot masing-masing. Makan siangnya sudah pesan sebelumnya dari warung setempat. Berbagi rezeki sekalian. Jadi gak perlu repot buka kompor untuk masak. Makan rame-rame bareng rombongan memang sedap. Menunya aneka pepes, ayam kampung bakar, sayur asem, sayur rebung, gak ketinggalan sambal, lalapan dan jengkol. Beuh, udah berasa mudik dan makan di kampung. Pas banget ada juga abang-abang yang buka lapak jual kelapa muda. Insting bisnisnya keren emang. Cuaca panas kayak gini, langsung laris.

Minum kelapa muda dan makan siang bersama dulu sebelum pasang tenda

Udara Jonggol memang gak dingin kayak di Puncak. Tapi kalau dapat tempat di bawah pohon, angin yang bertiup sepoi-sepoi cukup menggoda buat rebahin badan. Apalagi dengan kondisi perut kenyang habis makan. Ya jangan di dalam tenda juga sih rebahannya. Nanti berasa di dalam sauna. Velbed atau hammock udah jadi favorit deh. Anak-anak malah rebutan berayun di hammock. Sampai nanti pulang, itu hammock jadi most wanted item. Negosiasi antara Lana dan Keano menentukan jatah leyeh-leyeh di tempat tidur gantung selalu menimbulkan perang urat syaraf.

Si Hillman kuning sudah ready
Seri 2 om Novem siap-siap mengeluarkan peralatan ajaibnya, termasuk peralatan masak
Semangat Om Joedo pasang rooftent di Blue Fire, Defy 110

Camping ngapain aja? ya gitu sebenernya. Menghabiskan waktu di ruang terbuka. Ada dua temen sekelas Keano di Sekolah Alam Indonesia Studio Alam Depok yang ikut dalam rombongan. Hayzel dan Malaika, masing-masing berangkat bersama ayahnya. Keano seneng banget. Lebih seru katanya. Main uno sampe teriak-teriak semua.

Habis main uno, saatnya main layang-layang. Lapangan kan luas banget tuh. Cuma rada becek aja. Anak sekarang jarang main layangan. Lebih lihai main gadget mereka. Karena itu dari Depok sengaja bawa layang-layang banyak. Dari layangan ukuran jumbo, sampai yang kecil biasa. Minimal mereka punya pengalaman masa kecil nerbangin layangan. Buat bapak-bapaknya juga jadi nostalgia main layangan lagi.

Saatnya main layangan
Anak bapak asik main layangan

Warga sekitar Bukit Swiss kebanyakan bertani dan berkebun. Sambil ke kebun, mereka juga bawa ternaknya buat cari makan. Yang begini masih banyak di sini. Anak-anak seneng ngeliatnya. Liat sapi dan kambing digembala oleh petani.

Penyerahan dari hasil ‘bantingan’ teman-teman ke masjid setempat

Di kampung deket sini juga ada masjid yang belum jadi. Kebetulan ada niat juga dari Komunitas Land Rover Depok untuk berbagi. Ada sejumlah bantuan terkumpul. Peralatan salat dan buku anak yang semoga bermanfaat untuk jamaah nanti.

Sorenya, rombongan ngumpul buat jalan-jalan dan jajal medan offroad sambil menanti matahari terbenam. Offroad ringan tipis-tipis. Gak semua Landy keluar. Lebih banyak yang parkir di pangkalan. Sebagiannya nebeng-nebeng di Landy lainnya buat jjs, jalan-jalan sore.

Pemandangan dari atas perbukitan ini bikin mata seger. Sejauh mata memandang, gak ada gedung yang menghalang. Katanya sih, ke depan cuma 40 persen area ini yang jadi bangunan. Sisanya tetap lahan terbuka. Ya iya sih mesti gitu. Yang mahal itu justru pemandangannya memang. Kalau semua keisi bangunan, malah hilang daya tarik aslinya.

Banyak tempat yang sudah kami singgahi untuk menikmati sunset. Setiap momen memiliki daya pikat berbeda. Apalagi ditambah koefisien dengan siapa kita menikmatinya. Di puncak bukit, bercengkrama, diantara Land Rover istimewa.

Sebelum pulang, nikmatin jalur dulu sampai ke ujung ke arah gunung Kembar. Hiburan lain datang dari duo pemilik Range Rover P38, Om Disyon dan Om Idez. Mereka berdua asyik bolak balik nyobain jalur dengan kecepatan lumayan tinggi, termasuk di belokan. Jadilah hiburan dan tontonan gratis, termasuk buat anak-anak yang seru ngelihatnya.

Lepas senja barulah menuju camp area. Iring-iringan menelusuri jalur perbukitan yang masih dipenuhi pohon dan kebun di kanan kiri.

Malam harinya acara makan malam dan ramah tamah. Untung nggak ada acara nyanyi bareng lagu kemesraan hahaha.. Om Novem, ketua pelaksana jadi chef malam ini. Steak jadi menu makan malam. Tapi sebenernya sebelum makan malam barengan ini, anak-anak udah dimasakin nasi dan lauknya di tenda. Berasa kurang greget abisnya kalau camping gak pake acara masak depan tenda.

Ternyata steak gak habis dan masih sisa, gak semua dibakar. Sepertinya sudah pada kenyang. Apalagi ada tambahan ketan ulen bakar. Padahal masih ada sate kambing dan sate ayam yang siap dibakar. Sate dibawa pulang lagi, buat kopdar berikutnya di Depok.

Ritual setiap camping LRD, barbeque dan bakar sate. Sate gagal tayang hehe

Sambil makan dan menunggu bakar-bakaran, lanjut acara pelepasan ikan ke empang. Sengaja kami bawa ikan untuk dibesarkan di sini. Empang, area camping dan saung-saungnya memang sengaja dibikin, baru dibikin sebelum acara camping ngetem supir LRD ini.

Esok paginya sebenernya udah niat hiking ke puncak bukit di belakang. Tapi rasa malas dan keinginan rebahan jauh lebih besar. Jadilah paginya banyakan leyeh-leyeh. Apalagi sarapan nasi uduk juga udah dipesenin ke warung deket lokasi. Makin mager ngapa-ngapain.

Landy Putih Om Andre dan Blues Om Daniel menjadi pemanis pemandangan pagi di Bukit Swiss

Sarapan juga berlangsung santai. Pagi siang ini rencananya mau konvoi ke bukit sebelah dan kampung sekitar lihat-lihat pemandangan. Gak ada jadwal yang mengikat jam keberangkatan. Yang penting puasin dulu leyeh-leyeh dan makan.

Sarapan nasi uduk, maknyusss..
Selesai sarapan, saatnya jalan-jalan

Hari Minggu di deket lokasi camping banyak anak setempat yang main di lapangan. Mereka seneng banget diajak ikut naik Landy blusukan. Tempatnya mungkin udah biasa jadi tempat mereka main. Tapi kali ini, berguncang di atas Landy jadi sensasi tersendiri.

Long Canvas Om Bambang dipenuhin bocah, asoii
Penumpang istimewa, bahagia bersama

Perjalanan kali ini memang niat banget dokumentasinya. Selain kamera-kamera pribadi, sengaja ngajak droner. Narsis tetep doong. Jarang-jarang Land Rover Depok ngumpul banyak kayak gini.

Kalibrasi mata dengan hijaunya sawah dan gunung
Jalanan lumayan sepi, masih bisa parkir berderet tanpa signifikan mengganggu lalu lintas

Jalan sepi di pinggir sawah jadi lokasi pertama pemotretan. Abis dari sini bakal masuk jalan kecil menuju perbukitan lagi. Agak repot juga ngatur orang banyak biar keliatan semua di pinggir jalan yang sempit. Tapi yang penting dinikmati saja suasana gembiranya.

Senior Junior berbaur. Roverhood

Ini pertama kalinya kami beneran main ke Jonggol sama anak-anak. Selama ini nama Jonggol kerap jadi becandaan. Seolah-olah Jonggol itu jauh dan terpencil entah di mana. Padahal pas udah dijalanin, gak jauh-jauh amat. Kalau dari Jakarta atau Depok, sekitar 2-3 jam udah sampelah. Banyak tempat yang bisa dieksplorasi juga. Baik buat camping maupun petualangan outdoor lainnya.

Sebagian Landy tesembunyi, ngadem di bawah pohon

Lewat jalan kecil di perbukitan seruuu.. Anak-anak berisik banget ngoceh di belakang saking excited. Goyang dikit, langsung teriak semua. Lana dan Keano juga ketemu temen baru. Senengnya ikut acara kayak gini, ya itu. Bukan cuma kami, para orangtua yang saling berinteraksi. Anak-anak juga akhirnya memiliki pengalaman ini.

Land Rover Seri 2 Long Canvas, stanby menunggu penumpang yang sedang main
Maen air, adem dan bersih. Sayang gak ada sungai besar
Jalan-jalan siang, diademin dulu sesuai selera masing-masing

Abis jalan-jalan, balik ke basecamp. Ada empang penuh ikan yang bisa buat nyemplung basah-basahan. Duo Batman dan Robin, Om Novan dan Om Faisal udah gak tahan kegerahan. Kompak mereka nyemplung berduaan. Kalau gak ditahan-tahan Keano kayaknya bakal nyemplung juga. Cuma stok baju udah abis gara-gara kemari main layangan jatuh di lumpur. Kalau sekarang nyemplung lagi, udah gak punya baju ganti.

Ngademin badan versi om Novan dan Om Faisal

Oiya, kalau mau camping di sini, toilet dan kamar mandi juga sudah tersedia. Tempat salat bisa di saung-saung yang disiapkan pengelola. Airnya bersih. Cuma kalau untuk rombongan agak banyak, aliran air harus ngantri.

Bahagia di atas roofrack
Foto bersama dulu, seadanya karena sebagian besar sudah pulang duluan

Sorenya, persiapan pulang foto-foto lagi dong. Biar badan udah capek, baju dekil, masih ada satu cita-cita buat perjalanan pulang nanti. Yaitu, pengen makan durian! Lana udah ribut aja. Katanya selama musim durian kali ini, dia belum pernah ditraktir makan durian. Anak-anak kami memang suka banget sama durian. Bisa rebutan makannya sama orang dewasa.

Parkir rapi demi durian
Biar afdol kalau ke Jonggol

Dan cita-cita itupun tercapai. Ada tukang durian pilihan Om Bondho yang kami hampiri di perjalanan pulang. Enak banget. Duriannya manis dan besar-besar. Lana dan Keano sampai puas makan. Sayangnya Sei, anak Om Bondo lagi batuk. Gak bisa makan banyak-banyak. Hayzel dan Malaika, temen sekelas Keano juga gak doyan durian. Jadilah persaingan agak kendor juga. Terakhir pesta durian abis camping kayak gini sama anak-anak waktu pulang dari Pantai Sawarna

Keluarga Panci penggemar duren
Petualangan Om Boncu makan duren, mantap

Makan durian mengakhiri Camping with Kids naik Land Rover edisi Bukit Swiss Cariu Jonggol. Camping yang ternyata jadi penutup jalan-jalan kami juga, tepat sebelum pandemi virus Corona menyerang Indonesia. Sepekan setelah acara ini, kami mengikuti anjuran untuk di rumah saja. Mengerem keinginan jalan-jalan untuk mencegah transmisi virus lebih banyak. Semoga wabah cepat selesai. Semoga tak jatuh lebih banyak korban. Semoga setelah badai penyakit ini, kita masih diberi umur, kesehatan, dan rejeki untuk tetap bertualang.

Note: Info Bukit Swiss bisa diikuti di halaman Instagram Bukit Swiss Official

4 COMMENTS

  1. Mbaaaaaa seruuuuuu banget siiiih. Ya ampuuun aku suka banget kalo jelajah jalan naik mobil2 gede model off-road gini :D. Apalagi kalo medannya seram, becek, banyak bumpy2nya :D. Huahahahah makin seru itu :D.

    Isssh pgn ngerasain kumpul2 yg begini :). Ajak anak2 pula. Anakku seneng yg naikin adrenalin gini

    • Iyaa… anak-anakku juga suka. Bukan cuma bapak ibunya. Makanya jadi klop. Ayolah ikut cobain. Tapi nanti ya kalau semua wabah ini selesai. Semoga kita masih bisa terus jalan-jalan lagi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here