Wisata Ujung Kulon: Camping di Legon Pakis

Ada banyak sekali pilihan wisata di Ujung Kulon, salah satunya yakni camping di Legon Pakis. Legon Pakis menjadi kampung paling ujung barat di Pulau Jawa. Letaknya berbatasan langsung dengan Taman Nasioal Ujung Kulon. Sudah nggak ada kampung lagi, dan nggak ada jalan lagi setelah Legon Pakis. Di ujung kampung, bersebelahan dengan pagar taman nasional ada bumi perkemahan. Nah, di bumi perkemahan inilah pengunjung bisa camping.

Sunset di Legon Pakis

Pemandangan matahari terbenam di Legon Pakis adalah salah satu yang paling indah di Ujung Kulon. Pengalaman mengesankan ini bisa dinikmati dari dermaga yang tersedia di bumi perkemahan. Suasana di sini juga sepi. Jauh dari hiruk pikuk pengunjung dan wisatawan. Syahdu, romantis, you name it. Buat pencari ketenangan, datanglah saat senja ke dermaga Legon Pakis.

Secara administratif, Legon Pakis terletak di Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten. Kalau mengikuti peta dari Depok menuju ke sana memakan waktu sekitar 6 jam perjalanan. Jalurnya melalui jalan tol Jakarta Merak, keluar Serang. Lanjut ke arah Tanjung Lesung kemudian melipir pantai sepanjang wilayah Sumur. Dari pasar Sumur ambil arah kanan menuju Desa Ujung Jaya. Dari sini tinggal ikuti jalan saja. Harus sabar-sabar karena jalan sudah tidak mulus lagi setelah Pasar Sumur. Banyak jalan yang masih berupa hamparan bebatuan. Kalau naik sedan, mesti waspada saat melalui jembatan. Sudut jembatan rata-rata tajam. Kalau tak pandai cari celah, bagian bawah mobil bisa mentok-mentok.

Jalan berbatu dan sudut jembatan banyak yang tinggi

Durasi perjalanan Depok-Legon Pakis 6 jam, berlaku bagi kendaraan normal. Kalau buat kami, yang ke sana pakai Land Rover Series tahun 70an, lumayan melar waktunya. Pertama mobilnya memang gak bisa ngebut-ngebut banget. Kedua, perjalanan juga dibawa santai. Pakai acara mampir sana sini. Dari Depok, berangkatnya tengah malam menjelang hari Jumat pada Maret 2021. Di tol sempat jajan di rest area, dan setelah keluar tol Serang, sempat mampir masjid buat shalat subuh.

Subuh di jalan

Sampai kawasan Tanjung Lesung sekitar jam 6 pagi. Masih mampir lagi di Pantai Purancak karena jam 7 pagi anak-anak mesti sekolah online. Agak susah cari tempat di kawasan ini yang memiliki jaringan internet. Akhirnya di Pantai Purancak ini dapat juga sinyal internet. Lumayan bisa minggir sekalian istirahat. Lana langsung ikut kelas online lewat handphone. Sementara adeknya, Keano, pasrah gak bisa terhubung dengan zoom meeting sekolah. Ujung-ujungnya keliaran aja di pantai. Dulu kami pernah mampir ke Pantai Daplangu di kawasan Sumur saat mau ke Ujung Kulon juga. Pantainya lebih bersih. Cuma ke sana masih lumayan jauh. Nanti bisa terlambat sekolahnya.

Sekolah online di Pantai Purancak
Mendung di Purancak
Istirahatin mobil
Warung di Purancak

Di Pantai Purancak ini ada satu warung. Pas banget pagi-pagi perut lapar juga. Sementara anak-anak sekolah, yang lainnya bisa sarapan. Yang ngantuk setelah semalaman nyetir juga bisa numpang bobok. Ada beberapa saung di sini, selain bale-bale yang ada di warung. Kami di Pantai Purancak sampai sekitar jam 10an. Setelah sekolah selesai, yang sarapan kenyang, dan yang ngantuk puas tidur-tiduran.

Perhentian di jalan, masih banyak setelahnya. Makan siang sekaligus Jumatan di Pasar Sumur, lanjut menjelang Ashar ngadem di masjid dekat desa Ujung Jaya sambil meeting online urusan kantor. Di masjid ini juga kita semua numpang mandi. Walhasil, sampai Legon Pakis sudah sekitar jam 5 sore. Pas banget di sambut sama matahari terbenam.

Meeting online sambil ngadem dan numpang mandi di masjid

Di Legon Pakis ada kantor resort Taman Nasional Ujung Kulon. Didepannya ada patung badak yang menjadi icon taman nasional ini. Mestinya sih kalau liat tulisan di situ, pengunjung harus lapor ke kantor. Tapi kantornya sudah tutup saat kami sampai sana. Tanya-tanya sama orang setempat yang kebetulan lewat, kami disuruh masuk aja ke area resort. Nanti ketemu bumi perkemahan di ujung, bakal ketemu petugas.

Kantor taman nasional di depan gerbang
Gerbang masuk taman nasional
Patung badak, icon Ujung Kulon pas ada di gerbang
Mandatory picture

Selepas ngambil mandatory picture di Patung Badak, langsung kami masuk ke area resort. Tinggal ngikuti jalan, mentok sampai deh di bumi perkemahan. Dan benar, ketemu petugas di sana. Gak ngerti juga itu petugas taman nasional atau petugas bumi perkemahan. Kami asumsikan samalah ya. Ada kantor Resort Legon Pakis juga di depan perkemahan.

Kantor resort Legon Pakis
Warung di perkemahan

Camping di bumi perkemahan Legon Pakis, Ujung Kulon, dikenai tarif Rp 50.000 pertenda permalam. Di lokasi camping sudah tersedia penerangan. Listrik mengalir 24 jam di sini. Ada sejumlah warung yang buka juga di area camping. Jadi tak perlu takut kekurangan bekal, meskipun lokasi ini sungguh jauh dari mana-mana.

Mendirikan tenda

Lepas senja kami mendirikan tenda. Setelah itu menyiapkan makan malam. Lana sudah mulai terbiasa membangun tenda. BBQ malam ini juga menjadi tanggung jawabnya. Setiap camping sekarang, BBQ-an sudah kayak menjadi kegiatan wajib. Asik soalnya bakar-bakaran gini pas malam hari. Warung dekat basecamp kami masih buka. Kami menitipkan gadget untuk di-charge di sana. Di warung juga ada minuman dingin. Ini menghibur banget di tengah cuaca Ujung Kulon yang panas dan gerah. Apalagi lokasi camping juga di pinggir pantai. Sebentar-sebentar badan keringetan. Mesti bawa bekal baju agak banyak buat ganti, dan sering-sering mandi di sini. Alhamdulillah di Ujung Kulon ini, bumi perkemahan Legon Pakis punya deretan kamar mandi yang bersih dan mengalir banyak airnya. Biarpun letaknya terisolir, fasilitas MCK terurus dengan baik.

Yang perlu diperhatikan kalau mau camping di wilayah Ujung Kulon, termasuk Legon Pakis, jangan lupa bawa obat nyamuk. Obat nyamuk bakar buat diluar tenda dan obat nyamuk oles buat di badan. Legon pakis ini memiliki ekosistem pantai mangrove. Jadi selain panas, nyamuk dan serangga temen-temennya yang bikin gatal banyak banget. Siap-siap juga bawa minyak kayu putih kalau terlanjur kena serangga dan gatal-gatal.

Sunrise di Legon Pakis
Dermaga Legon Pakis di pagi hari

Kalau kemarin sore sudah terhibur dengan sunset yang cakep. Matahari terbit di sini juga bagus. Penampakan matahari pagi memang gak terlalu keliatan langsung bulet kayak saat senja. Tapi, nuansanya tetap aduhai. Dan lagi-lagi, dermaga menjadi lokasi favorit menikmati terbitnya matahari.

Golden hour after sunrise

Dari dermaga ini sebenarnya kita bisa melanjutkan perjalanan ke pulau-pulau yang ada di Taman Nasional Ujung Kulon. Paling dekat dari Legon Pakis, dan terlihat dari bumi perkemahan adalah Pulau Handeuleum. Di pulau itu katanya kita bisa menjelajahi hutan mangrove dengan perahu. Harga sewa perahunya lumayan. Oleh orang lokal kami ditawarkan sekitar 1.3 juta rupiah ke Pulau Handeuleum. Kapasitas penumpang bisa menampung rombongan kami yang berjumlah sekitar 13 orang, katanya lagi. Tapi hari itu kita gak ngambil tawaran keliling pulau. Sudah ada rencana lain, yakni pindah lokasi camping ke Rancapinang. Letaknya cukup jauh dari sini. Makanya gak bisa berangkat terlalu siang.

Pantai dengan ombak yang tenang
Saking tenangnya ombak jadi mirip wall paper kalau difoto

Keberadaan Pulau Handeuleum di seberang Legon Pakis mungkin yang membuat perairan di sini tenang banget. Kayak nggak ada ombaknya. Persis kayak laguna. Mungkin karena itu diberi nama Legon Pakis. Hanya saja kita harus hati-hati dengan pantai di Legon Pakis ini. Keliatannya tenang, pasirnya putih, tapi ancamannya adalah keberadaan buaya muara yang bisa muncul sewaktu-waktu. Menurut orang sini, belum lama ada korban yang digigit buaya saat sedang di pantai. Karena itulah, nggak ada dari kami yang berani main air.

Banyak ubur-ubur dan potensi ada buaya. Cukup diliatin aja pantainya

Kalau dilihat dari dermaga, perairan di Legon Pakis ini juga nggak jernih-jernih amat. Keliatan banyak endapan. Sudah begitu banyak penampakan ubur-ubur juga. Untung saja buayanya gak ikutan nampak juga. Buat Keano, ini kejadian yang langka, ada di pantai, tapi gak main basah-basahan. Gak usah dilarang sudah takut sendiri anaknya dengerin cerita orang sini. Saat mampir di warung, ada orang lokal yang bilang jangan sering-sering menyebut nama buaya. Kesannya kayak manggil-manggil. Jadi pakai inisial saja menyebutnya, yakni pengantin. Warga sini sudah ngerti semua soal ini.

Base Camp, latar belakang pantai

Pilihan lain beraktivitas di Legon Pakis adalah trekking ke dalam hutan Taman Nasional Ujung Kulon. Jalur trekking katanya 7 kilometer. Siapa tahu bisa bertemu jejak Badak. Kalau ketemu badaknya ya jangan banyak berharap. Dari luas taman nasional yang sekitar 1200 km2, jumlah badaknya cuma sekitar 70 aja. Sudah begitu badak juga sangat sensitif penciumannya. Dia gak mau nongol kalau mencium bau-bau manusia. Petugas yang sudah bekerja puluhan tahun di sini saja, ada yang baru 3 kali beneran melihat badak. Nah, kalau mau trekking, di bumi perkemahan ada guide yang siap nganter. Lupa tarifnya berapa. Kalau nggak salah sekitar 200 atau 300 ribuan rupiah. Tawaran trekking kali ini juga terpaksa nggak kami ambil. Itu karena rencana pindah ke Rancapinang seperti yang sempat disebutkan tadi.

Suasana pagi di Legon Pakis
Masak pagi-pagi
Bapak-bapak bahas hal penting (kayaknya)
Cewek-cewek asik ngegosip

Selesai sarapan, mandi-mandi, dan sempat santai-santai, kami akhirnya meninggalkan Legon Pakis. Nggak makan siang di lokasi ini. Harapannya nanti makan siang di jalan saja. Siapa tau ketemu warung yang makanannya enak. Yang gak bakal lupa dari tempat ini adalah sunrise dan sunset di dermaganya. Begitu juga jutaan nyamuknya hahaha.. Untung punya tenda yang rapat dan ada kasa nyamuknya. Jadi aman berlindung saat tidur malam di malam hari.

Persiapan pindah tempat meninggalkan Legon Pakis

Camping di Legon Pakis ini adalah bagian dari road trip remedial kami, bersama komunitas Land Rover Depok, ke Ujung Kulon. Sebelumnya pernah nyoba road trip ke sini, tapi gagal di tengah jalan karena sejumlah kendala. Perjalanan yang akhirnya membuat kami terdampar mirip pengungsi hehehe.. bisa disaksikan keseruannya di video ini.

Camping Legon Pakis sendiri bagian dari trip kedua yang sukses mencapai wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Videonya bisa disaksikan di bawah ini.

Buat kami, wisata ke Ujung Kulon mesti mampirlah ke Legon Pakis. Next time kalau ke sini lagi, kayaknya bakal ikut trekking, atau ikut kapal menuju pulau-pulau di Ujung Kulon, biar lengkap pengalamannya. Biarpun jauh jaraknya, Ujung Kulon tetap layak diusahakan mencapainya.

Ajak Anak

Hallo, kami Herwin-Yossie-Lana & Keano, keluarga dengan dua anak penggemar traveling. Backpacking, budget traveling, hiking, & camping bersama anak menjadi favorit kami. Di sini kami berbagi cerita traveling dan pengalaman bertualang. Dan percayalah, bagi anda yang suka traveling dan wisata petualangan, melakukannya bersama anak dan keluarga jauh lebih menantang, sekaligus menyenangkan.

2 thoughts on “Wisata Ujung Kulon: Camping di Legon Pakis

  • June 16, 2021 at 8:17 pm
    Permalink

    Mbaa, itu stok BBQ nya dibawa dari JKT pake cooler box berarti yaa? ATO beli pas di tujuan? Lumayan awet soalnya kalo dihitung dr berangkat – nyampe.

    Jiaaaaahhh pas denger kata buaya muara, langsung jiper aku bacanya wkwkwkkw. Jangankan berenang, mendekat aja juga takut itu ke sana :D. Belum lagi ada ubur2 yaa. Beneran deh, air tanpa riak itu bahaya 😀

    Reply
    • June 18, 2021 at 3:50 am
      Permalink

      Bawa dari Jakarta dalam keadaan beku banget karena sebelumnya di simpan di freezer rumah. Terus dibawa camping pakai cooler box. Sampai lokasi masih beku juga kaya es batu.
      Iyaa.. kita baru tau ada buaya muara pas sampai daerah sana diceritain warga. Makanya nggak pada berani main air hehehe

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *