Sensasi Pantai dan Malam Tahun Baruan ala Kuta Bali

0
47

Kami mengakhiri tahun 2017 dan mengawali 2108 di Bali. Pantai Kuta menjadi ujung persinggahan sebelum kembali ke Depok, menyudahi perjalanan darat Jawa-Bali-Lombok pulang pergi. Itinerary perjalanan bisa dilihat di halaman ini

Lokasi menginap akhirnya dapat di seputaran Legian. Di tengah musim liburan tahun baru, dapat tempat di kawasan ini dengan harga terjangkau, bisa dikatakan beruntung. Apalagi, spesifikasinya penginapan harus punya parkiran untuk kendaraan yang menjadi rumah berjalan kami selama sekitar 10 hari. Kolam renang masuk spek juga, tapi sampai kami check out, si kolam gak tersentuh juga sama anak-anak. Bukannya gak pengen, tapi pesona pantai lebih menggoda.

Bagi budget traveler dan juga pejalan dengan kantong cekak, Legian Kuta selama ini menjadi surga mencari akomodasi murah. Mulai dari puluhan ribu rupiah permalam, kamar bisa tersedia. Cuma ya itu, yang murah lokasinya banyak di gang macam Poppies Lane, yang jalannya hanya cukup 1 mobil saja. Jangan harap ada parkiran luas. Sebab, sebagian besar turis, sampai di Bali gak pake kendaraan pribadi. Untuk keliling  biasanya cukup rental motor, atau mobil harian. Jadi rada gak perlu juga tempat parkir.

31 Desember 2017, kami keluar hotel selepas Isya. Jalan kaki, karena kawasan Legian-Kuta sudah ditutup juga untuk lalu lalang kendaraan bermotor menjelang perayaan tahun baru. Niatnya sih, jam 11an juga pulang. Diperkirakan Lana dan Keano udah capek jam segitu. Apalagi malam sebelumnya tidur di kapal penyebrangan Lombok-Bali berasa kurang maksimal. Ditambah lagi dari pagi buta sudah tur pantai Melasti dan Pandawa, cukup menguras energi. Jadi, tujuannya keluar malam ini, selain melihat keramaian, juga mencari makan.

Kembang api, sudah muncul di mana-mana. Sempet kuatir juga soal keamanan, begitu mendengar suaranya. Tau sendiri kan soal ledakan, Kuta menyimpan duka dan trauma. Tapi alhamdulillah, Bali malam itu tentram, dan orang-orang bisa bergembira semalaman.

Malam tahun baru di Kuta berjalan meriah. Deretan hotel dan restoran sepanjang pantai masing-masing menggelar acara. Kebanyakan, tentu hiburan musik. Mulai dari party bernuansa Hawaiian, sampe aksi DJ dengan EDM-nya. Tinggal pilih aja mau ikut yang mana. Kalau masuk resto atau hotelnya, bayar pastinya. Tapi, kalau mau menikmatinya dari pinggir jalan juga bisa. Yang ini, GRATIS hehehe..

Kayak party di halaman sebuah hotel. Karena halamannya terbuka, bisa ditonton orang-orang yang memenuhi jalan. Kesannya emang sengaja bikin pesta terbuka. Toh para DJ di panggung dan organizer juga sesekali mengajak interaksi penonton di luar ini. Stage didirikan berbatasan dengan trotoar, jadi orang-orang yang melintasi jalan di depan hotel, pasti bisa nonton aksi DJ. Cuma menghadapnya aja beda. Kalau penonton gratisan di jalan, nonton arah belakang. Pengunjung di halaman hotel, nontonnya dari depan. Catet ya, jalan sepanjang pantai Kuta kan ditutup untuk kendaraan. Jadi, jalanan dipenuhi hilir mudik beragam manusia. Dan penonton gratisan ini juga banyak. Miriplah kayak nonton layar tancap kalo di kampung-kampung.

Kalau gak suka musik berisik, bisa masuk area pantai. Ini juga gratis. Gelap sih, tapi tetep rame manusia. Sepanjang garis pantai Kuta, sampai ke Legian dipenuhi orang-orang. Gak tahu dah sampai ke pantai Double Six dan Seminyak atau nggak, karena kami jalan-jalannya cuma dari ujung pantai Kuta sampai Legian.

Keluarga dengan anak kecil banyak di sini. Duduk lesehan menghadap laut sambil melihat kembang api. Lana dan Keano suka ngeliat kembang api aneka bentuk dan warna. Tapi gak usah anak kecil sih. Saya saja suka ngeliat kembang api. Kepikiran teknologinya keren banget. Gimana caranya coba, mengatur sedemikian rupa, sehingga bentuk, waktu ledakan, dan warna percikan api yang ditimbulkan bisa berbeda-beda. Kalau saya mikirnya pasti ini ada hubungannya dengan teori fisika. Tapi ya sudahlah ya, tahun baru males juga mikirin rumus fisika. Dinikmati aja dulu itu penampilan kembang api warna warni. Niatnya nanti kalau masih penasaran sama teorinya tinggal browsing lagi. Banyak kok ulasannya ternyata di dunia maya.

Dan gak terasa, tahun 2017 berakhir. Niat pulang jam 11 malam, justru kami pulang sudah tahun 2018. Tanggung juga soalnya, detik-detik tahun baru sudah di depan mata. Sekali-kali ngerasain pergantian tahun di pantai Kuta. Keano sempat tertidur sebelum dibangunin 1-2 menit sebelum jam nol-nol teng, bebarengan dengan kembang api yang semakin banyak meluncur ke langit pantai Kuta. Selama beberapa menit, dari ujung ke ujung pantai, kembang api terus-terusan meluncur menghias langit, bersaut-sautan dengan bunyi terompet yang dibunyiin pengunjung. HP dan kamera menambah semarak dan bercahaya di tengah pantai yang sebenarnya gelap.

Yang bikin tambah keren, acara kembang api di pinggir pantai ini nampaknya dibuat swadaya oleh pengunjung. Gak nampak ada paketan dari pemerintah atau EO dan pemodal buat acara kembang api ini. Jadi masing-masing bawa dan beli sendiri.

Satu jam setelah tahun baru, kami makan malam di Yoshinoya, masih di area pantai. Tempat yang lumayan sepi, karena awalnya niat makan di Mc Donalds, antreannya gak kira-kira. Dari dulu biasanya males makan di Mc Donalds, tapi pengecualian kalau McD yang di Kuta. Beda suasana, beda pengalaman.

Soal antrean juga, ini sempat bikin panik sebagian orang-orang. Malah sampai ada yang pingsan segala. Gara-garanya sepele. Setelah selesai parade kembang api di pinggir pantai, orang-orang berbondong-bondong ke arah jala raya, dan numpuk di pintu pagar pembatas nyampur sama orang-orang yang memang sudah rame jalan kaki dari dua arah. Belum lagi yang ngumpul nonton atau “ikut party” jalanan nebeng cafe dan hotel. Stuck, karena masing-masing gak sadar ada kemacetan di depannya, dan tetap merangsek maju. Maju gak bisa, mundur apalagi.

Sempat bikin panik, apalagi Lana kebelet pipis dan mulai merengek karena nahan pipis dan kejepit kedorong-dorong orang. Keano diamanin digendong, biar gak kegencet dan lepas ketinggalan. Setelah sekitar 10 menitan macet-macetan jalan kaki, akhirnya kami bisa lepas juga dari kebuntuan jalan, dan masuk lagi ke area pinggir pantai, yang untungnya pas ada toilet di situ.

Setelah puas di kepadatan, nonton kembang api, dan makan tengah malam, kembali jalan kaki yang lumayan jauh ke penginapan. Sekitar jam 2, kami tiba di hotel dan langsung bobok.

Meski tidur larut, semangat memulai hari baru di pantai pantang surut. Jam 9 pagi, kami sudah di Pantai Kuta lagi. Owyaa… sayang banget kan kalau ada pantai di depan mata, pas matahari lagi cerah-cerahnya terus dicuekin aja. Mubazir itu namanya. Apalagi pantai Kuta ini, spek Lana dan Keano banget. Terutama ombaknya.

Lana, Keano, Om Abi (trip kali ini, saya mengajak sepupu) dan Suami, langsung nyemplung ke air, sementara saya leyeh-leyeh menikmati massage di pantai.

Boogie board langsung menjadi incaran Lana dan Keano. Mereka pernah cobain permainan ini di pantai Kuta juga, sekitar tiga tahun lalu (baca di sini). Dan puncak keasyikannya mereka, yaitu waktu main di Pantai Batu Karas, Pangandaran. Sejak itu, nagih kayaknya.

Menikmati pantai, dengan banyak turis dari luar, kadang menimbulkan pertanyaan lucu dari anak-anak. Tapi saya justru seneng, karena ada kesempatan untuk menjelaskan bermacam hal. Terutama, konsep aurat, serta makanan dan minuman halal. Menjelaskan di tengah kejadian langsung, saya berharap nilai-nilai yang kami ajarkan ke Lana dan Keano, lebih lekat di kepala.

Di hari terakhir jadwal ke pantai ini, saya gak mau terlalu siang selesai. Anak-anak mesti mandi bersih dulu di hotel sebelum kami check out. Walhasil, sebelum jam mepet ke angka 12 kami meninggalkan pantai. Itu pun sudah dilebih-lebihin dan ngaret dari jadwal. Meski berat hati, tapi ya gimana, hari ini juga sudah jadwalnya pulang ke Depok. Selain pantai, soalnya masih mau belanja sedikit oleh-oleh di sekitaran Legian.

Walaupun sudah berkali-kali, tetep gak ada bosannya buat ke Bali. Bali gak ada matinya. Apalagi ajak anak, jalan-jalan jadi tambah enak.

Setelah mandi bersih dan check out hotel, perjalanan berlanjut. Sambil cari makan siang, jalan-jalan tipis dulu. Foto-foto dikit, di tempat yang ketauan kalau sedang mengunjungi Bali hehehe… Kesannya remeh ya, tapi kalau sudah pulang, bisa buat kenangan Lana dan Keano bahwa mereka pernah ke sana ke mari. Semakin besar mereka nanti, memorinya pasti bertambah banyak. Selembar foto, bisa memancing memori itu keluar, bahwa mereka pernah menikmati hari gembira bersama kami, mudah-mudahan.

Setelah sebelumnya berhari-hari mendung, 1 Januari 2018 matahari cerah sekali. Bikin bimbang menuju pelabuhan untuk pulang, karena godaan menikmati sunset yang awesome di Pantai Kuta. Ujungnya memang tergoda sih, ke pelabuhan ditunda dulu. Cuz, akhirnya mantai lagi di Kuta. Gak basah-basahan, cuma duduk aja melihat matahari tenggelam dan memandangi orang surfing.

Senja di Pantai Kuta menutup liburan kali ini. Perjalanan darat jauh menuju Depok sudah siap menanti. .

*****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here