Perjalanan Penuh Drama ke Pulau Pari

2
166

Kalau ada perjalanan yang paling drama bagi kami, ini mungkin salah satunya. Niatnya backpacking ala-ala ke Pulau Pari. Naik kendaraan umum sambung menyambung dari Depok menuju Pelabuhan Kali Adem di Muara Angke Jakarta Utara. Terus nyebrang pakai kapal tradisional lalu di sananya menginap di tenda gak pake sewa homestay. Kalau jalan ketengan kayak gini, paling enak tentu rame-rame. Temen-temennya Keano beserta keluarganya jadi temen perjalanan yang penuh hahahihi pastinya.. udah terbuktilah di sejumlah perjalanan sebelumnya. Maka, suatu Sabtu-Minggu di akhir Agustus menjelang September 2019 kami ke Pulau Pari, naik kendaraan umum bolak balik dan di sana kita bakal camping.

Berangkat naik kereta dari Stasiun Depok Baru
Baru liat tiang aja udah seneng banget

Rencananya, naik kereta paling pagi dari Depok, yakni jam 5 lewat dikit. Berangkatnya dari rumah masing-masing, nanti berjumpa semua di Stasiun Jakarta Kota. Pada kenyataannya rencana tinggal rencana. Cuma sekitar dua keluarga yang on time. Selebihnya, ya maaf gitu deh. Keluarga kami pun bukan bagian yang on time, melainkan yang gitu deh, minta maaf sekali lagi.

Ujung-ujungnya sampai di Stasiun Jakarta Kota udah siang banget. Sekitar jam 8an lewat masih wara wiri di stasiun. Padahal, kapal menuju pulau Pari itu, seperti juga semua kapal menuju Kepulauan Seribu di akhir pekan, antriannya bukan main. Kalau kita kesiangan, bisa kehabisan kapal. Beberapa kali ke Pulau Seribu, kumpul di dermaga itu mestinya jam 6 pagi, biar masih bisa terangkut kapal kayu. Ini yang bikin saya deg-degan. Tapi entah kenapa rombongan sangat santay sekali. Ancaman ketinggalan kapal gak ngefek kayaknya. Jadi yaaa ikutin flow aja kalau gitu. Rombongan santuy, kami pun juga. Dari stasiun Jakarta Kota kami jalan kaki menuju halte Trans Jakarta untuk naik bus jurusan Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke.

Stasiun Jakarta Kota
Menanti di Stasiun
Ceria di stasiun
Antre di halte bus Trans Jakarta, menanti bus ke Kali Adem yang tak kunjung tiba

Gelisah baru muncul di halte Trans Jakarta. Lama dinanti busnya gak nongol. Petugasnya cuma bisa bilang sabar aja. Tapiiii kami gak sabar pak… Jam menunjukkan semakin dekat ke angka 9 dan bus belum nongol juga. Jadilah keputusan nekat dibuat. Sewa angkot aja ke pelabuhan dari halte Trans Jakarta. Karena rombongan lumayan banyak sewa dua angkot. Satu angkot tarif carter seratus ribu rupiah. Semoga dengan naik angkot, perjalanan bisa semakin cepat. Hati sedikit lega, apalagi dapet angkot yang dekorasinya bertema anak-anak. Cocoklah.

Atap angkot bertema pantai dan Doraemon

Mulai dari sewa angkot gara-gara bus Trans Jakarta gak dateng-dateng, kejebak truk patah as di jalan sempit, ban angkot pake pecah segala, sampai kehabisan tiket kapal gak menghentikan niat kami untuk camping di Pulau Pari

Tapi drama belum selesai. Ada truk patah as di jalan sempit yang kami lalui. Macet total, dan semua mobil akhirnya harus putar balik. Hati kembali deg-degan takut ketinggalan kapal. Angkot kami akhirnya ikut putar balik dan menemukan jalan yang lebih lancar. Tantangan kembali datang saat angkot rombongan yang di belakang tiba-tiba gak keliatan. Info dari grup whatsapp mengabarkan, angkot tersebut mesti ganti ban karena pecah ban. Kami semua cuma bisa menghela nafas akhirnya.

Udahlah telat, pake acara ganti ban angkotnya di tengah jalan

Akhirnya kita semua cuma bisa pasrah. Sampai Kali Adem, tentu saja tiket sudah habis semua. Pengunjung membludak soalnya, dan gak kayak kita, sebagian dah antri dari subuh. Meski begitu, kami pantang patah semangat. Masa sih gak jadi camping, perabotan lenong padahal sudah banyak dibawa. Siasat pun segera diatur. Apalagi cukup banyak pengunjung yang juga gak kebagian kapal. Adalah sekitar 30 orang.

Pengumuman kapal sudah berangkat semua padahal masih banyak yang antre bikin nyesek
Para ayah penyusun siasat demi mendapatkan tiket ke Pulau Pari

Akhirnya berkat usaha para ayah, rombongan ketinggalan kapal bisa berangkat. Apalagi jumlahnya cukup banyak ditambah dengan pengunjung lain. Kapal yang udah jalan ke Pulau Pari akan kembali menjemput kami sekitar jam 12 siang nanti. Alhamdulillah gak mesti pulang lagi. Malu soalnya. Tiket pun kami beli sesuai dengan harga resmi. Kalau gak salah sekitar 44 ribu rupiah udah termasuk asuransi dan peron pelabuhan. Cumaaa, ada cumanya nih, karena keberangkatan kita di luar jadwal alias perjalanan tambahan jadi ya kena charge 20 ribu rupiah pertiket. Syarat beli tiket calon penumpang harus menunjukkan KTP asli untuk kelengkapan manifest perjalanan. Untuk anak-anak cukup diwakili KTP orangtua atau pendampingnya.

Sebenarnya kalau mau bawa kendaraan pribadi ke Pelabuhan Kali Adem juga bisa. Parkiran tersedia cukup luas. Cuma waktu kami ke sana Agustus akhir 2019, pas musim panas dan jarang hujan sehingga debunya lumayan banget. Siap-siap aja kalau ditinggal nyebrang semalaman mobil bakal ngebul bagian luarnya. Parkiran ini terletak bersisian dengan loket tiket. Bus TransJakarta juga mangkalnya di sini. Nah dari parkiran ini tinggal jalan kaki sebentar ke dermaga.

Kapal ternyata datang lebih lambat dari yang dijanjikan. Jam 13.30 kita baru berangkat dari Kali Adem menuju Pulau Pari. Berita baiknya, besok kita gak perlu pulang pagi-pagi karena kapal mau juga menjemput rombongan jam 4 sore. Jadwal kapal reguler berangkat selalu sekitar jam 9 pagi, baik dari Kali Adem maupun dari Pulau Pari. Plus minusnya paling satu jam dari jam 9 itu. Berita baik satu lagi, kita pulangnya gak perlu kena charge perjalanan tambahan lagi. Cukup bayar tiket sesuai harga normal aja. Di kapal, saya tidur karena sengaja minum antimo. Sepanjang ingatan saya pergi ke Kepulauan Seribu saya selalu mabuk laut. Minimal pusing dan mual. Baru kali ini bebas dari rasa gak enak tersebut karena sepanjang jalan saya tidur hehe.. Antimo memang top deh.

Memilih berangin-angin di anjungan kapal

Perjalanan dari Kali Adem ke Pulau Pari sekitar 1.5 sampai 2 Jam. Kapal kayu yang kita naiki agak lumayanlah. Ada jok empuk untuk penumpang di bagian dalam. Sementara untuk penumpang yang mau naik di bagian atas tersedia lesehan. Banyaknya jendela di sisi kapal sangat menolong membuat ruangan dalam tak jadi pengap. Di tengah perjalanan, ternyata sebagian rombongan memilih panas-panasan duduk di luar. Gak kecuali Keano dan ayah. Saya sih udah gak ngeh. Kan udah saya bilang tadi kalau saya tidur sepanjang perjalanan.

Dermaga Pulau Pari
Pantai Pasir Perawan

Singkat cerita sampailah di Pulau Pari. Yang niat camping di sini bukan cuma kami. Ada banyak banget. Ini karena Pulau Pari punya area khusus untuk camping. Penataannya rapih puoll. Saya kasih dua jempol deh karena di pulau ternyata ada area camping yang di kelola dengan sangat baik. Dari pelabuhan jalan sekitar 5 sampai 10 menit menuju Pantai Pasir Perawan. Kalau gak tau arahnya tinggal tanya sama warga setempat. Pas kita merapat ke dermaga Pulau Pari jangan kaget juga akan banyak yang menawarkan home stay. Pulau ini memang hidupnya dari wisata yang dikelola swadaya oleh warga. Katanya sih ada pihak swasta yang mau masuk bikin resort di sini. Tapi kehadiran resort mendapat banyak penolakan, karena dikhawatirkan akan mematikan mata pencarian warga lokal. Saat resort berdiri nanti warga takut mereka hanya akan menjadi buruh di tanah sendiri.

Camping di Pulau Pari ini murah meriah. Masuk area bayarnya cukup 15 ribu rupiah untuk orang dewasa. Anak kecil gratis. Kalau mau sewa perlengkapan camping juga ada. Satu tenda dome muat berempat biaya sewanya 60 ribu permalam. Tinggal terima beres karena tenda udah didirikan oleh petugasnya. Gak khawatir takut gelap karena lokasi camping dilengkapi dengan instalasi lampu listrik. Bersih, pasti. Ada petugas yang suka nyapu-nyapu tiap pagi. Enaknya lagi, pantainya pas di depan mata dong. Hwasiklah pokoknya. Terbayang betapa berlikunya perjalanan yang harus ditempuh menuju tempat ini, camping di Pulau Pari, sungguh tak mengecewakan.

Rute dan biaya menuju Pulau Pari sekali jalan dari Depok (update Oktober 2019):

  • KRL Depok Baru-Stasiun Jakarta Kota: Rp 4.000/orang
  • Bus TransJakarta Jurusan Jakarta Kota-Pelabuhan Kali Adem: Rp 3500/orang (batal karena nunggu bus kelamaan)
  • Sewa angkot dari halte bus TransJakarta di stasiun kota ke Pelabuhan Kali Adem: Rp 100.000/angkot
  • Kapal tradisional Kali Adem-Pulau Pari: Rp 44.000/orang (Jangan sampai telat ya, kalau telat pasti kena biaya lebih mahal karena mesti ikut perjalanan kapal tambahan. Itu juga kalau ada kapal yang mau)

2 COMMENTS

  1. uwaahh seru mbaaa :D.kdg yaaa dramah2 begini nih yg bikin perjalanan jd lebih memorable :D. walopun saat ngerasain dag dig dug parah, antara ttp berangkat ato akhirnya batal :D. aku blm prnh ajakin anakku camping. aku sndiri sekalinya kemping pas pramuka huahahahaha… Penasaran jg reaksi anak2 kalo diahak tidur di tenda gini

    • Betuuul.. karena dramanya jadilah perjalanan malah nggak terlupa. Boleh lhoo sekali-sekali ajak anak camping. Selain mengenalkan pengalaman baru ke anak, latihan juga buat orangtuanya menghadapi drama hehehe.. Anyway terima kasih sudah berkunjung mbak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here