Lesehan Ala TKI Hong Kong (Kuliner dalam Koper)

0
51

“Ma… itu orang Indonesia ya?” “Iya Nak,”
“Kayak kemarin yang kita ketemu di kereta?” “Iya, Nak. Mereka kerja di sini”

Pagi itu Lana terus bertanya tentang orang-orang Indonesia yang kami temui. Minggu pagi di Victoria Park Hong Kong, orang lokal banyak yang berolahraga. Sementara wajah-wajah Indonesia, dengan bahasa yang kami kenal, mulai ramai berdatangan. Modis..iya banget. Para pekerja, kebanyakan perempuan, dari tanah air, menyesuaikan diri dengan gaya busana sehari-hari orang Hong Kong

Victoria Park sudah masuk dalam itinerary kami, sejak merancang perjalanan ke negeri ex-koloni Inggris ini. Bukan karena keindahan atau keunikan desain tamannya. Tapi sengaja mau lihat dan merasakan suasananya. Victoria Park di Minggu pagi, yang dipenuhi para TKI.

Trotoar sekitar Victoria Park setiap Minggu pagi dipenuhi pedagang makanan Indonesia

Ternyata bukan cuma TKI yang bisa kami jumpai. Berjajar di trotoar, makanan Indonesia juga dijual di sini. penjualnya juga orang kita, cara makannya lesehan ala Yogya.

Penjual soto bermodal kompor gas yang dilindungi kardus supaya api terbebas dari angin

Makanan dibawa dalam koper. Tak saja yang siap santap. Para penjual juga membawa kompor untuk memanaskan soto atau menggoreng ayam dan tempe yang akan dijadikan penyet.

Pilih-pilih makanan matang yang disajikan dalam koper
Semakin siang suasana semakin ramai

Kami berempat langsung menjadi pelanggan, berbaur dengan para TKI yang sedang menikmati waktu liburnya. Sekian hari lidah ketemu makanan yang rasanya asing, enak banget pagi itu bisa sarapan nasi, sambal goreng ati ampela dan tumis pepaya muda. Anak-anak makan ayam goreng ungkep plus telur asin. Sementara suami menghabiskan sepiring gado-gado.

Makan di pinggir jalan beralas terpal plastik buat lesehan
Gado-gado ala Victoria Park
Nasi tumis pepaya muda dan sambal goreng ati ampela

Pagi-pagi, lalu lintas Hong Kong belum terlalu padat, jadi asap knalpot belum terlalu mengganggu kami yang asik makan di pinggir jalan. Harganya juga sangat bersahabat. Makan berempat di Hong Kong biasanya kami menghabiskan minimal sekitar 200 HKD tapi di sini cuma sekitar 75 HKD. Lauknya memang sederhana. Tapi masalahnya, selain di sini gak ada yang jual menu kayak gini lagi hehehe…

Penjual makanan kami cerita, dia sudah 20 tahun tinggal di Hong Kong. Sementara pedagang lainnya, memanfaatkan waktu libur disela pekerjaan utama untuk dapat penghasilan tambahan. “Daripada nongkrong-nongkrong gak jelas, Mbak.. mending jualan. Lumayan biar kirim uang ke kampungnya tambah banyak.”

Pagi itu kami merasa seperti berada di negeri sendiri. Ditemani canda dan sapaan ramah, menikmati celoteh dan ragam kisah, tentang perjuangan hidup di belantara beton negeri seberang. See you when i see you Mbak….

*****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here