Camping with Kids: Telaga Cebong Dieng

2
603

Telaga Cebong adalah salah satu danau yang terletak di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Di tepian telaga ini tersedia spot camping. Camping with kids, alias ngajak anak camping ke Telaga Cebong jadi pilihan kami saat mengunjungi Dieng untuk kedua kalinya. Camping juga bisa jadi variasi menginap di Dieng selain tinggal di homestay yang biasanya pemandangannya gitu-gitu aja.

Telaga Cebong di Desa Sembungan

Secara administratif, Telaga Cebong terletak di Desa Sembungan, sebuah desa tertinggi di pulau Jawa. Soal Sembungan sendiri pernah kami tulis, dan boleh dibaca-baca lagi. Intinya dulu pengen banget camping di sini. Makanya sampai akhirnya balik lagi sekarang lengkap bawa tenda.

Kabut pagi di tepi Telaga Cebong

Spot camping Telaga Cebong bersebelahan persis dengan jalur pendakian menuju Bukit Sikunir, bukit yang famous buat menonton matahari terbit di Dieng. Lahannya juga cukup luas kalau kita mau buka tenda bareng teman-teman seperjalanan. Buka tenda di sini cukup membayar biaya Rp 10.000 pertenda. Toilet tersedia 24 jam, berbayar 2000 rupiah. Di gerbang masuk juga ada musala. Di sekitarnya ada warung yang sebagian buka 24 jam. Jadi gak perlu takut kelaparan kalau gak bawa persediaan makanan.

Gelar tenda di tepi danau

Kami camping di Telaga Cebong bersama dengan keluarga teman-temannya Keano dari Sekolah Alam Indonesia Studio Alam Depok. Alhamdulillah ketemu para orang tua yang punya minat sama, ngajak anak camping atau beraktifitas di alam bebas. Anak-anaknya temenan, orang tuanya juga cocok jalan bareng. Kloplah. Ada tujuh keluarga yang ikut dengan anggota rombongan sekitar 30 orang. Jadi yang ikut selain orang tua dan anak, ada juga yang ngajak tante sampe anak tetangga hehehe..

Pemandangan malam di tepi telaga

Perjalanan pagi dari Depok malamnya baru tiba di Telaga Cebong. Jadilah saat itu kesibukannya cuma masangin tenda masing-masing di bawah cahaya senter. Paginya baru bisa menikmati pemandangan. Kabut menyelimuti danau. Dingin udah pasti. Tapi udara segarnya sungguh gak tergantikan.

Peta Wisata Dieng (Sumber gambar: infodieng.wordpress.com)

Telaga Cebong ada di ujung kawasan wisata Dieng. Jadi kalau dari Wonosobo begitu masuk kawasan wisata mesti lewatin Kompleks Candi Arjuna, Kompleks Telaga Warna, Kawah Sikidang, nanti mentoknya di ujung ada Telaga Cebong. Gak susah kok nemuinnya, tinggal ikutin jalan aja. Apalagi posisinya juga di gerbang pendakian Sikunir. Dijamin banyak orang berbondong-bondong menuju ke arah sini, terutama dini hari.

Di Puncak Sikunir

Rencananya kami memang mau liat sunrise di Sikunir lepas shalat subuh di musala. Tapi apa daya, mataharinya tertutup kabut pekat. Jadilah di puncak Sikunir kita cuma foto-foto aja. Banyak pengunjung yang turun lagi dari Sikunir dengan raut wajah kecewa. Soalnya sunrise di sini terkenal bagus banget. Untung dulu waktu pertama kali ke sini udah pernah ngeliat gimana cakepnya matahari terbit di Sikunir. Ceritanya ada di sini. Monggo kalau mau ditengok.

Teman-teman sekelas Keano bersama para kakak

Yang jadi penghibur adalah kita bisa jajan-jajan pas perjalanan turun dari Sikunir menuju basecamp di Telaga Cebong. Cuaca dingin emang paling enak makan. Apapun jadi berasa lebih enak di sini. Belum sarapan juga, sejak abis subuh berangkat tadi.

Wajah lapar, kelamaan antre makanan
Suasana jalur menuju Sikunir. Rame tukang jajan

Makanan yang dijual sebenernya standar. Ada tempe kemul alias tempe berbalut tepung. Tempe kemul itu udah memang khasnya sini, dan beda teksturnya sama tempe mendoan. Tempe kemul lebih renyah, sedangkan mendoan lebih empuk dan cenderung lembek. Selain tempe kemul, ada juga beberapa gorengan lain kayak bakwan dan tahu. Dan yang pasti, the one and only, yang selalu ada di mana-mana tapi tetap laku aja adalah mi instan. Godaannya sungguh luar biasa. Apalagi kalau makannya sambil ditemenin tempe kemul dan teh manis anget.

Kentang bumbu kecap khas Dieng

Nah, selain tempe kemul, yang khas lagi dari Dieng adalah kentang yang dimasak dengan kecap. Kentangnya berukuran kecil-kecil. Sepintas penampakannya kayak cilok. Siapapun yang memandang pasti ngiler deh. Kentang kecap ini enak dimakan panas-panas sebagai penangkal dingin udara Dieng yang menusuk tulang.

Suasana parkiran di pagi hari. Rame
Toko suvenir

Catatannya kalau jajan di sini bukan soal harga. Bagian itu standar kok, nggak ada yang overcharge. Tapi, antrenya lumayan bikin kesel. Maklum kalau pagi, Sikunir itu rame banget. Orang-orang yang jalan ke sini sejak dini hari rata-rata memang belum makan dan ngarep bisa sarapan di sini.

Selesai makan, yang jauh lebih cepat dari antrenya, kami balik tenda. Anak-anak seneng banget bisa main di pinggir danau. Kalau Keano senengnya leyeh-leyeh di hammock. Sayang kita gak punya waktu lebih banyak untuk rebahan di sini. Tenda udah mesti dibungkus. Tujuan utama perjalanan adalah mendaki Gunung Prau. Kami mesti segera pindah ke basecamp pendakian. Apalagi saat itu hari Jumat. Persiapan salat jumat juga sebelum kita nanjak.

Lokasi tenda di pinggir danau
Keano rebahan di hammock

Anak-anak agak kecewa karena Camping with Kids di Telaga Cebong gak bisa lama-lama. Apalagi belum naik perahu keliling danau. Ya, kita bisa sewa perahu buat main di danau. Tapi hari masih pagi. Tukang perahu belum ada yang keliatan nongol di posnya.

Pos tempat sewa perahu. Belum ada orang di pagi hari.

Perjalanan ke basecamp pendakian lanjut dengan minibus yang kami sewa dari Wonosobo. Maklum ya, rombongan banyak kayak rombongan RT. Ada beberapa balita juga jadi peserta. Jadi lebih aman dan nyaman kita sewa minibus aja. Kendaraan umum juga ada sih. Bentuknya minibus elf juga. Bisa naik dari terminal Wonosobo, tinggal cari aja angkutan yang menuju kawasan Dieng. Parkiran di depan Telaga Cebong luas. Bus juga masuk. Tapi kalau bawa kendaraan ke sini hindari waktu dini hari, saat orang berebut mau liat sunset. Jalanan aja bisa macet parah sampai susah lewat. Belum tentu bisa sampe ke parkiran.

Elf carteran

Gak dapat sunrise di Sikunir gak papa lah kali ini. Yang penting camping with kids di Telaga Cebong terlaksana juga. Kurang puas memang. Tapi ambil sisi baiknya, kita bisa menghemat biaya penginapan. Monmaap ya perjalanan dari Depok panjang, ngabisin ongkosnya juga lumayan. Apalagi ngangkut keluarga. Yang dikasih makan juga banyak hehehe.. Pilihan camping gini, membuat budget nginep bisa dipake lebih banyak buat jajan. Doanya dari sini sekarang adalah, semoga bisa sampai Puncak Prau dengan lancar dan selamat. Semoga bisa liat juga penampakan matahari terbit yang katanya keren di barisan bukit teletubbies sana.

Hamparan bukit di Puncak Prau
Sunrise di Gunung Prau
Puncak Gunung Prau

2 COMMENTS

  1. Seru ya mba, bisa camping bawa anak jg. Saya blm pernah camping ke telaga cebong. Padahal rumah di wonosobo, ke Dieng tinggal naik dikit. Tp blm pernah ikut pendakian soalnya di rumah aja udh dingin hhehe

    • Biasanya emang gitu mba, yang jauh didatengi yang deket malah belum pernah dicoba hehehe.. saya juga gitu. Btw enak banget punya rumah di daerah dingin. Salah satu cita-cita saya juga itu mbak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here