Camping di Gunung Bunder, Kaki Halimun Salak Bogor

0
99

Camping di Gunung Bunder, di kaki gunung Halimun Salak, Bogor, membuka puasa camping yang kami jalani sekitar 4 bulan lamanya. Terakhir kali camping awal Maret 2020 di Bukit Swiss, Jonggol. Persis seminggu sebelum lockdown gara-gara pandemi corona. Selama 4 bulan, sebagian besar waktu Lana dan Keano dihabiskan di rumah. Sementara suami tetap harus ke kantor pasca WFH, dan saya seminggu sekali belanja keperluan dapur.

Setelah PSBB dilonggarkan, sempat beberapa kali cek ombak, memantau situasi di luar sebelum beneran camping. Kami ikut one day trip dulu bareng komunitas Land Rover Depok ke Tumbuh Hejo Sentul, serta Bukit Pamoyanan di Bogor, Jawa Barat. Menimbang-nimbang dan memutuskan kemudian, rasanya aman untuk camping. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Yaitu lokasi harus jauh dari kerumunan, dalam rombongan kecil, tetap menerapkan physical distancing, serta patuh pada protokol kesehatan. Gunung Bunder jadi tujuan karena terbilang dekat dari Depok. Ajak anak juga belum pernah ke sana. Penasaran ingin tahu suasana Gunung Bunder yang sangat famous di dunia percampingan.

Perjalanan menuju Gunung Bunder

Sabtu, 4 Juli 2020 menjadi hari yang ditunggu. Berangkat dari Depok bersama dua landy lain yang dikemudikan Om Novem dan Om Yudho. Dari rumah sekitar jam satu siang, menuju titik kumpul rest area Sentul di tol Jagorawi. Berangkat memang agak santai. Dari Sentul, baru sekitar jam setengah tiga sore kami meluncur ke Gunung Bunder. Itupun masih mau mampir lagi ke rumah peristirahatan Om Yudho yang berada di dekat lokasi. Jalur yang kami lalui yakni dari Sentul menuju tol Lingkar Luar Bogor, keluar di jalan Taman Yasmin, lanjut menuju arah Ciampea. Nanti tembusnya di jalan raya Bogor-Leuwiliang. Dari sini tinggal cari belokan kiri di pertigaan Kampak menuju Gunung Bunder. Kami menghindari macet di wilayah Dramaga IPB, dengan melewati Jalan Atang Senjaya dari Taman Yasmin menuju Ciampea.

Sekitar jam 5 sore sampailah di rumah Om Yudho. Enak banget pemandangan di sini. Halaman belakangnya luas, ada kebun dan kolam ikan. Semacam rumah impian kalau pensiun nanti. Buru-buru shalat ashar, sekaligus memutuskan buat maghrib di sini saja. Toh ke Gunung Bunder nanti nggak sampai setengah jam lagi katanya.

Rumah Om Yudho di kaki Gunung Bunder
Pasang tenda gelap-gelapan

Akhirnya sudah kayak kebiasaan, sampai di lokasi camping hari sudah gelap. Kalau jalan bareng rombongan Land Rover entah kenapa selalu begitu. Banyak mampirnya sebelum sampai lokasi. Beneran dinikmati jalan-jalannya hehehe…

Masuk kawasan hutan wisata Gunung Bunder bayar tiket Rp 45.000,- harga ini untuk dua orang dewasa plus kendaraan roda empat. Lana dan Keano karena masih kecil gak mesti bayar. Yang tak kami sangka sebelumnya adalah, lapak camping ternyata penuh banget. Apalagi di sekitar Curug Cigamea. Banyak juga rombongan keluarga yang bawa anak seperti kami. Kalaupun masih ada tempat buat buka tenda, mesti jalan lagi dari lokasi parkir. Padahal niat kami mau buka tenda sebelahan sama Si landy. Jadinya blusukanlah cari tempat yang lebih sepi, dan bisa parkir dengan leluasa.

Alhamdulillah, dapat tempat di pinggir jalan di antara hutan pinus. Muat untuk parkir 5 landy. Om Erik dan Om Jack datang menyusul bareng keluarga masing-masing malam itu.

Suasana pagi di Gunung Bunder

Malam hari belum keliatan cakepnya hutan pinus ini. Tapi menjelang pagi, baru deh nampak keindahannya. Udara dingin, kabut, dan matahari mengintip di sela pepohonan. Demi apa coba, momen mahal sekali ini. Beneran penyegaran mata setelah empat bulan yang dilihat tak jauh dari teras, kamar dan ruang makan.

Cadangan air untuk cuci tangan dan bersih-bersih
Stok air galon untuk minum dan memasak

Saya termasuk orang yang rajin banget masak kalau lagi camping. Alasannya, semua makanan pasti enak kalau di luar ruang seperti ini. Gak akan banyak complaint soal rasa hehehe… Sarapan pagi ini meriah. Semua perbekalan dikumpulkan. Om Novem bawa bahan shabu siap masak. Saya juga bawa sosis dan frozen dumpling. Disatukan saja semua di kuah shabu. Ada daging slice juga dimasak teriyaki. Ini sarapan pagi yang banyak, enak dan mewah untuk ukuran camping.

Menu sarapan pagi

Camping di Gunung Bunder sebenarnya bisa saja gak perlu ribet dengan perbekalan. Ada banyak sekali warung makan yang buka 24 jam. Bahkan kalau tak bawa tenda pun bisa menginap di warung-warung ini. Untuk sarapan juga banyak yang jualan keliling. Lepas subuh, beberapa kali penjual nasi uduk mampir ke lapak kami menawarkan dagangan. Matahari saja belum muncul, tapi para penjual sarapan ini sudah gigih beredar dari tenda ke tenda. Mungkin karena akhir pekan juga. Pengunjung biasanya membludak. Peluang besar untuk mengais rezeki.

Satu hal yang mengganggu keindahan pagi saat camping di Gunung Bunder, kaki Gunung Halimun Salak Bogor, adalah bisingnya suara kendaraan. Mungkin karena campsite kami pas di pinggir jalan kawasan. Sejak subuh suara motor nyaris nggak berhenti. Banyak rombongan touring yang lewat menjelajah kawasan camping Gunung Bunder Bogor.

Minggu pagi di Gunung Bunder, tak ada agenda khusus selain makan dan malas-malasan. Padahal banyak spot wisata di Gunung Bunder ini. Air terjun saja beberapa. Selain Curug Cigamea yang lokasinya dekat tenda kami, masih ada Curug Ngumpet, Curug Cihurang dan Curug Seribu. Sejumlah spot di hutan pinus juga sengaja didedikasikan buat penggemar foto ala instagram.

Gunung Bunder sekaligus menjadi nama desa di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ketinggian area ini antara 750-1050 meter diatas permukaan laut. Wilayah ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Hutan wisata Gunung Bunder sendiri dikelola oleh Perhutani. Perum Perhutani merupakan Badan Usaha Milik Negara yang bertugas dan memiliki wewenang untuk menyelenggarakan perencanaan, pengurusan, pengusahaan dan perlindungan hutan di wilayah kerjanya.

Buat kami yang suka sekali menikmati hutan dan gunung, pengelolaan kawasan penting banget. Keberadaannya agar tetap asri dan lestari juga menjadi cita-cita kami. Yang jadi perkerjaan rumah bersama adalah bagaimana menertibkan pengunjung biar sama-sama menjaga lokasi. Susah banget menerapkan kebiasaan jangan buang sampah sembarangan. Sejumlah sampah plastik masih kelihatan berserakan. Pengelola juga wajib menyediakan fasilitas pembuangan sampah. Sepanjang pengamatan kami ini yang masih kurang.

Texas Medical Association menyebutkan camping adalah aktivitas dengan risiko rendah terkait penularan virus COVID-19 di masa pandemi ini. Asumsinya adalah lokasi yang jauh dari keramaian, serta rendahnya interaksi fisik antar manusia saat camping. Namun buat kami, situasinya berbeda di tempat-tempat tertentu salah satunya di Gunung Bunder.

COURTESY OF TEXAS MEDICAL ASSOCIATION
Peringkat aktivitas berdasarkan risiko penularan virus COVID-19 (sumber: Texas Medical Association)

Pertama, Gunung Bunder ternyata nggak sepi banget. Selain camping, banyak juga mereka yang datang menginap di warung-warung makan. Di luar masa pandemi, ini sih lumrah. Namun di saat penyebaran virus seperti seperti sekarang ini, tentu sangat berisiko. Sangat susah menjaga jarak di warung-warung yang hanya punya lapak tidur dan tempat duduk terbatas. Belum lagi kedisiplinan individu yang kurang. Saya melihat sendiri kelompok yang menginap di warung-warung tanpa masker. Ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, sampai kelompok remaja dan pemuda. Penjaga warung pun tak pakai masker. Jangan tanya soal fasilitas cuci tangan. Baik pengunjung maupun yang punya warung mungkin gak kepikiran. Atau mereka tahu, tapi cuek aja.

Kedua, protokol masuk lokasi juga rasanya perlu dibuat lebih ketat. Saat kami masuk, tak ada pengukuran suhu badan. Ini mungkin karena kami masuk malam hari. Petugas sudah kendor jaganya. Itu pikiran awal kami. Tapi pas pulang, kebetulan hari Minggu siang, yang kami lihat protokol ini pun tidak diterapkan di gerbang. Antrean pengunjung yang mau piknik di kawasan Gunung Bunder juga panjang. Motor, mobil pribadi, sampai kendaraan bak terbuka yang belakangnya penuh rombongan orang ikutan antre masuk.

Papan pengumuman protokol kunjugan wisata

Semua kalangan memang berhak masuk tempat wisata. Karena seperti kami, pasti sudah sumpek juga berbulan-bulan di rumah dengan pemandangan yang sama. Hanya saja, pertimbangan kesehatan dan keselamatan tentu harus jadi yang utama. Protokolnya harut ditaati. Baik oleh pengunjung maupun pengelola. Pengukuran suhu tubuh dan penggunaan masker itu wajib hukumnya.

Aturannya sebenarnya sudah ada. Di saat pandemi COVID-19, wana wisata Gunung Bunder hanya boleh menerima pengunjung sekitar dua ribu orang perhari. Ini kurang lebih cuma sekitar 10 persen dari daya tampung biasanya. Untuk camping, jarak antar tenda seharusnya dua meter. Aturan selanjutnya adalah tidak melakukan kunjungan dalam jumlah besar, satu kelompok maksimal terdiri dari 5 orang. Waktu berkemah pun maksimal hanya satu hari. Semua ini saya tahunya setelah browsing saat mulai menulis postingan ini. Kondisi sudah beberapa hari di rumah. Ketika datang waktu itu, gak ada sosialisasi sama sekali. Tak ada arahan yang kami dapat saat bayar tiket di pintu gerbang. Tapi yang jelas, waktu kami mulai buka tenda ada dua orang yang datang meminta uang sewa lapak camping sebesar Rp 25.000 perorang. Entah petugas resmi atau bukan. Suasana gelap karena sudah malam. Suami setor Rp 50.000 untuk dua orang dewasa. Keluarga yang lain juga sama.

Generasi Penerus Landy

Pada akhirnya, menjaga keselamatan memang harus dimulai dari diri sendiri. Susah juga ngatur-ngatur orang. Berdasarkan pengalaman kami camping di Gunung Bunder, Bogor, ada beberapa tips yang bisa diterapkan. Saya susun saja listnya seperti berikut ini:

  • Hindari camping saat weekend karena lokasi cenderung penuh. Kalau terpaksa juga, sebisa mungkin cari lapak yang jauh dari kerumunan rombongan lain.
  • Bawalah perbekalan sendiri, sedapat mungkin hindari makan atau jajan di warung yang tidak menerapkan protokol kesehatan.
  • Selalu membawa sabun cuci tangan dan hand sanitizer. Sabun dan hand sanitizer ini juga berguna kalau kita numpang ke toilet di warung. Toilet dan kamar mandi berbayar Rp 2.000,- sekali masuk.
  • Batasi interaksi dengan pengunjung lain. Banyak yang datang tanpa masker dan cuek dengan protokol kesehatan.

Secara garis besar, untuk alam dan pemandangan, camping di Gunung Bunder, Bogor, sebenarnya bagus. Namun tempat ini sangat kurang menerapkan protokol kesehatan saat pandemi. Belum lagi pengunjungnya juga banyak. Kalau kondisi masih seperti ini, kami tak merekomendasikan dulu untuk camping di tempat ini. Kalau mau camping lagi, kami bakal cari tempat yang lebih sepi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here