Kawasan Makanan Halal di Ho Chi Minh City, Vietnam

2
298

Vietnam, negara komunis yang memiliki penduduk muslim cuma 0,1 persen saja. Meski begitu, mencari makanan halal di ibukota negeri ini ternyata tak sesulit yang dibayangkan. Datanglah ke Jalan Nguyen An Ninh, kawasan makanan halal di Ho Chi Minh, ibukota Vietnam. Ada berderet tempat makanan halal di sepanjang jalan. Tak cuma itu, di antara deretan rumah makan muslim, berserak juga toko-toko yang menjual kebutuhan ibadah umat Islam.

Deretan rumah makan halal

Menjelajah Jalan Nguyen An Ninh

Nguyen An Ninh sering disebut juga Malaysian Street. Itu karena baik penjualnya, menu makanan, sampai perlengkapan ibadah yang dijual di sini lekat dengan etnis dan budaya melayu. Berbelanja di Nguyen An Ninh tak perlu repot menggunakan bahasa Inggris ataupun bahasa Vietnam yang buat kami susahnya minta ampun. Cukup cakap melayu. Memang berbeza sikit dengan bahasa Indonesia, tapi orang serumpun sudah tau sama tau.

Jalan Nguyen An Ninh alias Malaysian Street
Kawasan makanan halal sepanjang 100 m

Jalan Nguyen An Ninh menjadi persinggahan favorit para wisatawan asal Malaysia, Brunei Darussalam dan Indonesia. Kebanyakan memang wisatawan muslim yang mampir mencari makan. Kawasan ini pertama kali dikembangkan pada tahun 2011. Awalnya karena banyaknya keluhan dari turis Melayu yang kesulitan mencari makanan halal.

Saya pun pernah mengalami hal ini jauh sebelum kunjungan bersama keluarga. Pertama kali menginjakkan kaki di Ho Chi Minh, kalau tak salah antara tahun 2004-2005. Sudah lama sekali sampai saya lupa kapan persisnya. Yang pasti waktu itu saya belum berkeluarga dan ke sini untuk urusan kerja. Dan yang paling saya ingat adalah, susah banget cari makanan enak dan halal. Kawasan makanan halal di Nguyen An Ninh belum ada.

Toko yang menjual kebutuhan umat muslim di Nguyen An Ninh

Jalan Nguyen An Ninh, memiliki lokasi yang sangat strategis. Ia berada di gerbang barat Pasar Ben Thanh, pasar tradisional yang paling terkenal se-antero Saigon alias Ho Chi Minh. Di kota ini, nggak ada orang yang nggak tau Ben Thanh Market. Jadi kalau mau ke sini, tinggal mengarah ke Ben Thanh saja. Ini juga salah satu kelebihannya, nempel dengan pasar Ben Thanh. Jadi, siapapun yang capek habis belanja di Ben Thanh, bisa langsung makan di kawasan Nguyen An Ninh.

Pasar Ben Thanh, patokan menuju Nguyen An Ninh
Aneka kerajinan tas di Pasar Ben Thanh
Cemilan untuk oleh-oleh di Pasar Ben Thanh
Aneka kopi Vietnam di Pasar Ben Thanh

Sedikit cerita soal Ben Thanh, bayangkanlah pasar Beringharjo di Yogyakarta. Mirip-miriplah kira-kira. Ben Thanh market termasuk salah satu yang harus dikunjungi kalau pergi ke Ho Chi Minh. Jika Beringharjo unggulannya batik, di Ben Thanh banyak kain-kain khas Vietnam. Begitu juga aneka barang kerajinan seperti tas, dompet, serta berbagai pajangan dan tentu saja, kopi.

Di sini juga bisa beli kaos berlogo palu arit, yang bisa menimbulkan bencana di Indonesia bagi para pemakainya. Kaos palu arit sebenarnya sangat melambangkan Vietnam. Karenanya, kaos ini laku banget dibeli sebagai suvenir oleh wisatawan. Palu arit adalah simbol yang digunakan Partai Komunis Vietnam. Partai inilah yang menguasai pemerintahan, mengendalikan negara, militer, serta pers secara terpusat. Berkuasa banget ya? Iya memang demikian adanya.

Suasana malam yang tetap ramai

Kembali ke Nguyen An Ninh, kawasan makanan halal di Ho Chi Minh Vietnam, waktu terbaik mengunjunginya adalah di malam hari. Selain bisa makan malam, ada pasar malam dadakan dekat sini yang bisa buat belanja suvenir murah. Jalan Nguyen An Ninh gak panjang. Paling sekitar 100 meter saja. Tapi kami sempat kebingungan mau makan apa di sini. Itu saking terlalu banyak pilihannya. Akhirnya kami memutuskan makan di Halal Amin. Alasannya sederhana, yaitu mau makan Pho, mi kuah khas Vietnam dengan jaminan halal. Melihat plangnya, sepertinya Pho adalah hidangan spesial rumah makan ini.

Makan di Halal Amin

Halal Amin, menyediakan Pho Muslim

Di Halal Amin, semua menu menggunakan bahasa Melayu. Gampang bangetlah buat kita yang orang Indonesia. Beneran kayak lagi di Malaysia atau Singapura. Ngobrol sama pelayan dan kasir pun kami pakai bahasa Indonesia. Selain memesan Pho, kami juga pesan lumpia basah khas Vietnam alias goi cuon. Suami memesan es kopi. Saya dan Keano pesan teh tarik, sementara Lana minum es jeruk.

Jajal lumpia basah khas Vietnam

Soal rasa, Halal Amin ini ternyata tak istimewa. Soalnya saya pernah makan pho dan lumpia yang lebih nikmat dari ini. Tapi bukan berarti gak enak. Makanan di sini masih bisa dinikmati. Prioritas pertamanya memang cari makanan halal. Kedua, ingin makan menu khas Vietnam. Bisa jadi awalnya sudah over ekspektasi gara-gara tertarik dengan tulisan Pho Muslim di plang utama Halal Amin. Kirain gitu ya, bisa dapat Pho dengan rasa yang lebih spesial.

Saigon Green House

Nguyen An Ninh bukanlah tempat pertama kami mencicipi makanan halal di Vietnam. Hari pertama kami tiba di Ho Chi Minh, 10 Juli 2017, kami sudah langsung makan di Saigon Green House. Restoran ini pas banget berada di dekat apartemen yang kami booking via airbnb. Sambil menanti yang punya apartemen datang menyerahkan kunci, kami makan di sini. Kondisi sedang lapar berat. Waktu itu kami berangkat pagi dari Phonm Penh, Kamboja. Naik bus Mekong Express, sorenya tiba di Ho Chi Minh. Perjalanan kami di Vietnam ini adalah bagian dari 10 Hari keliling Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Singapura. Dari Thailand menuju Kamboja hingga berakhir di Vietnam, kami lalui lewat jalur darat. Bus antar negara jadi tulang punggung rangkaian trip ini.

Saigon Green House adalah restoran halal yang lebih fancy dibanding Halal Amin di Nguyen An Ninh. Interiornya jauh lebih cozy. Lokasinya di Truong Dinh Street, masih dekat kawasan Pasar Ben Thanh. Menu yang disediakan adalah masakan melayu dan Vietnam. Sebagaimana setiap hari saya makan tomyum selama di Thailand, di sini setiap ada kesempatan saya juga makan pho. Mumpung kan yaa.. kapan lagi nyobain makanan khas langsung dari negeri asalnya. Sementara Lana memesan roti canai dengan kari, Keano makan nasi goreng, dan suami juga memesan menu yang sama dengan saya.

Dari sisi harga, makan di Saigon Green House lebih mahal di banding Halal Amin. Beda penyajian dan beda tampilan juga sih. Soal rasa, terutama pho masih menang Saigon Green House. Jadi mungkin wajar juga harganya lebih mahal. Cuma yang jelas, keberadaan kedua tempat ini menjadi penanda bahwa pasar wisatawan muslim sangat besar dan diperhitungkan, bahkan untuk negeri komunis sosialis seperti Vietnam.

Di tahun 2019, pertumbuhan sektor pariwisata Vietnam menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Vietnam bahkan menargetkan untuk menjadi negara yang paling maju di kawasan ini dalam bidang pariwisata pada tahun 2025.

World Population Review mencatat, lebih dari 80 persen penduduk Vietnam tak punya agama. Sementara dari sedikit pemeluk agama di Vietnam, jumlah umat muslimnya jauh lebih sedikit lagi. Di tahun 2020, populasi orang Islam di Vietnam cuma 0,1 persen dari total jumlah penduduk. Karena itulah, keberadaan Nguyen An Ninh, kawasan makanan halal di Ho Chi Minh Vietnam, tak lain dan tak bukan terutama ditujukan bagi wisatawan muslim yang semakin banyak mengunjungi negeri ini.

2 COMMENTS

  1. Aku trakhir ke hcmc 2011, dan jujurnya waktu itu ga cari tahu blaaaasss apakah ada halal resto di sana ato ga mba. Prinsip ku waktu itu,kalo ketemu ya syukur, kalo ga yg ptg bukan babi. Masalah tempat penyimpanan ato dagingnya disembelih dgn cara Islam ato ga, aku ga terlalu ambil berat waktu itu .. apalagi waktu itu taunya Vietnam kan sosialis komunis,pasti susah cari yg halal 100%. Ternyata ada aja yaaaa.

    Pgn lah balik Vietnam. Tp jujurnya g pgn LG hcmc :D. Pgn kota lainnya. Semoga makanan halalnya jg ada

    • Ini kedua kalinya aku ke HCMC dan tadinya pengen ngajak keluarga makan di Pho 2000 yang terkenal itu. Tapi tiba-tiba ketemu jalan ini yang dulu pas aku pertama ke HCMC belum ada deretan makanan halalnya. Jadi pas ketemu sikat aja hehehehe..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here