Island Hopping Kelagian, Maitem, dan Sari Ringgung (Pahawang #2)

2
56

Di hari pertama, kami terpuaskan dengan Kelagian Kecil, Tanjung Putus, Pahawang Kecil dan sekitarnya. Hari kedua, tetep menu utamanya adalah snorkeling dan keliling pantai pulau juga, island hopping.

Pulau Pahawang

Biar nyantai dan puas snorkeling di Pahawang dan pulau-pulau sekitarnya, kami menginap di Pulau Pahawang. Pulaunya kecil, bisa dikelilingi dalam waktu setengah hari katanya. Dan memang, ada jalanan seukuran sepeda motor yang mengelilingi pulau ini. Saya sih gak nyobain, soalnya tujuannya mau main air. Gak jalan-jalan di tengah pulau. Cuma jalan-jalan sekitaran dermaga saja.

Di dekat dermaga ada masjid yang lumayan besar, tanah lapang, dan pendopo. Pendopo ini biasanya dipakai juga oleh para wisatawan buat istirahat, atau membongkar makanan bekalnya.

Di  Pulau Pahawang banyak rumah penduduk yang bisa dijadiin tempat nginep. Sudah biasa penduduk sana nerima tamu. Hotel, losmen, belum ada. Kalau vila ada sedikit. Cuma harganya lebih mahal dan fasilitasnya mostly gak lebih cakep dari rumah penduduk yang biasa dijadiin homestay.

Kalau saya sekeluarga nginep di rumah Pak Arsali. Rumahnya cukup luas. Di dalamnya ada tiga kamar. Dua kamar buat tamu, satu kamar buat dia sekeluarga kalau pas ada tamu. Terus, Pak Arsali juga menyediakan kasur pegas yang lumayan gede di ruang tengah. Waktu itu sih saya bayar 500 ribu semalam (awal tahun 2017). Udah bisa pake semua ruangan,  kecuali kamar keluarga yang ditempatinya. Tempatnya bersih untuk ukuran tinggal di pulau. Kamar mandi juga lega dan airnya banyak. Kalau mau minta dimasakin juga bisa. Tinggal ngomong dan nego harga. Yang menyenangkan, Pak Arsali orangnya asik diajak ngobrol dan sangat membantu perjalanan kita. Mau kontak beliau bisa cek Instagramya. Yesss… hahaha.. si bapak selain punya akun facebook juga punya akun instagram. Dia ini salah satu pionir wisata di Pulau Pahawang. Cobalah tengok Arsali Putra Pahawang  Itu nama akun instagramnya.



Gosong Pancong, Pahawang

Pagi-pagi di hari kedua kami udah check out meninggalkan rumah Pak Arsali. Mau snorkeling lagi, jadi berangkat masih pake baju buat basah-basahan yang sebagian juga masih basah. Tujuan pertama gak jauh dari pulau. Berperahu sebentar, masih di depannya pulau Pahawang, tapi beda sisi dengan spot snorkeling yang kemarin. Namanya Gosong Pancong.

Pagi-pagi snorkeling di sini enak banget. Belum rame, malah kami yang pertama datang ke spot ini, sebelum dua kapal lain datang lengkap dengan rombongannya. Visibility bagus, jernih. Ikan dan karangnya banyak, plus bonus beberapa ornamen buatan di bawah laut yang sekaligus dijadikan sarang ikan. Termasuk rumah nemo. Di spot ini kami juga melihat penyu. Penyu asli, gak cuma patung penyu yang hiasan itu,

Penduduk Pahawang memang sudah termasuk sadar wisata, makanya spot-spot snorkeling dipercantik sebisanya. Dibikin ornamen, ikon-ikon yang mencirikan Pahawang, dan biasanya ini juga disukai dan dimanfaatkan wisatawan untuk foto di bawah air, yang selanjutnya banyak kita lihat berseliweran di medsos.

Dan seperti biasa, setiap parkir atau sandar kapal di satu spot, kita harus bayar sekitar 20 ribu atau 25 ribu setiap spotnya. Ini jadi pemasukan tersendiri juga buat warga yang menjaga laut dan keberlangsungan wisata Pahawang.

Pulau Kelagian

Habis snorkeling saatnya menikmati pantai. Kapal merapat ke pulau Kelagian. Bagian ini yang paling anak-anak suka. Berendam di hangatnya air, menikmati sinar matahari. Saya juga suka sih. Meskipun efeknya kemudian bikin kantong jebol, bayar dokter kulit benerin muka yang gosong dan iritasi.. huhuhuhu…
Gak mempan sunblock yang dibawa soalnya. Mungkin kurang tinggi spfnya atau kurang mahal hehehe..

Kelagian ini cakep banget. Beneran deh. Saya pernah ke Phi Phi Island di Thailand. Gak kalah kece.. cuma kalah terkenal aja pantai-pantai di Lampung ini. Bedanya cuma di pemandangan dikit. Kalau Phi Phi Island kan pantainya dikelilingi tebing karang. Kalau di sini kita bisa memandang laut lepas seluas-luasnya, dan barisan pegunungan di sisi lainnya.

Selain gradasi warna air lautnya yang cakep, yang paling berkesan dengan Kelagian adalah pasirnya. Putih bersih, dan lembut banget. Paling lembut di antara pulau-pulau yang ada di sekitaran Pahawang. Enak banget buat mainan, dan gak khawatir sedikitpun kalau anak-anak main lari-larian atau jatuh-jatuhan di pantai ini.

Seandainya pantai dan Pulau Kelagian ini “dibangun” dan dikelola dengan baik, tentunya gak akan kalah dengan pulau-pulau terbaik bertaraf internasional yang ada di dunia. Sekarang ini, di sini hanya ada saung-saung sederhana yang ala kadarnya. Rata-rata berfungsi buat sekedar duduk dan warung makanan. Dan ini pun biasanya hanya rame kalau di hari raya, atau hari libur.

Di Kelagian kita ketemu bocah entah dari mana asik main sendiri. Berenang dan nyelemnya jago. Udah gitu dia cuma pakai kancut doang, yang membuat saya mengasumsikan kalau dia bocah penduduk lokal hehehe..
Begitu nemu pecahan tong, dipakelah sama dia buat main perahu. Hebat ini anak. Sementara Keano dan Lana cuma bisa nonton dia beraksi.

Pulau Maitem

Dari Kelagian kapal mengarah ke Pulau Maitem. Pulau sepi penduduk dengan pasir timbul di salah satu sisinya. Arus lumayan kencang, karena selatnya sempit. Sepanjang hari ini, kita jarang banget ketemu pengunjung lain. Berasa pergi ke tempat asing nun jauh di mana gitu.

Lana dan Keano sih gak ada bosannya ketemu air lagi, pantai lagi, pasir lagi. Cuma mamake sudah mulai kuatir kulit semakin menghitam. Apalagi kita juga belum makan siang. Tar pada masuk angin lagi nih para bocah.

Si bapak tukang perahu aja udah enggan panas-panasan. Dia cuma duduk di dalam kabin perahunya sambil dengerin lagu dangdut, satu-satunya suara yang kedengeran selain desau angin, debur ombak, dan bisikan pelepah kelapa. Oiya.. tambahin suara kami ketawa dan ngobrol deh. Udah itu aja. Soalnya si bapak yang bawa perahu lebih seneng ngerokok daripada ngomong. 

Saatnya kami pulang. Perahu mengarah kembali ke daratan Sumatera. Gak kaya di pulau yang sepi, dermaga Ketapang ternyata masih rame. Pengunjung masih berdatangan. Mobil banyak yang parkir. Termasuk Si Putih yang kami tinggal semalaman. Pengunjung hari  ini rat-rata pulang pergi. Artinya mereka datang pagi, muter-muter naik perahu, snorkeling ke tempat yang deket aja, terus balik dermaga sorenya. Gak nginep dan menjelajah tempat jauh.

Di dermaga Ketapang ada banyak tempat bilas umum. Biasanya jadi satu sama warung. Kami bilas di tempat yang berhadapan dengan tempat parkir. Kamar mandinya terang, banyak cahaya matahari masuk, dan lumayanlah bersih. Setelah bilas, ganti baju dan nyemil sambil menikmati minuman dingin di warung, kami meninggalkan dermaga menuju Bandar Lampung.

Pantai Sari Ringgung

Di jalan menuju Bandar Lampung, sempet-sempetin mampir ke kawasan wisata Sari Ringgung. Tempat ini bikin penasaran karena waktu kita datang menuju Pahawang, lalu lintas macet, salah satunya gara-gara keluar masuk kendaraan dari tempat ini.

Sekitar 20-30 menit dari Dermaga Ketapang, kami sampai di Pantai Sari Ringgung. Bayar tiket masuk plus parkir 40 ribu satu mobil. Tempat pertama yang jadi pemberhentian, adalah Krakatau View. Sebuah bukit kecil di depan pantai yang bisa untuk melihat pemandangan segala penjuru Sari Ringgung.

Ada satu warung atau rumah makan di Krakatau View ini. Selain numpang ke toilet, es kelapa mudanya bikin seger lagi yang habis panas-panasan,

Sari Ringgung ternyata cakeeep….

Lumayan lengkap juga kalau buat bermain keluarga. Satu yang mencuri perhatian; ada masjid apung, Masjid Al-Aminah.

Beruntunglah warga Lampung punya tempat seindah ini. Sayang penataannya menurut saya masih berantakan. Coba kalau ada arsitek canggih yang menata landscape-nya, pasti lebih beautiful. Mungkin bisa colek bapake Ridwan Kamil. Itu doang sih nama arsitek yang melintas saat ini di kepala saya.

Gak lama di Sari Ringgung. Gak mungkin juga berenang lagi, secara udah dua hari basah-basahan terus. Lanjut ke pelabuhan Bakauheni, tapi sebelumnya mampir dulu buat ritual terakhir di Lampung, makan Bakso Sony. Tepatnya Bakso Sony Son Haji 6, yang dekat dan kelewatan jalur pulang. Pas banget, sore-sore, laper habis main di pantai. Kalau sudah begini, gak malu buat nambah bakso.

Lanjut menuju Jakarta. Naik kapal ferri dari Bakauheuni. Di kapal nyari tempat lesehan yang ber-AC. Nambah bayar 8 ribu per orang ke petugasnya. Agak susah juga cari lapak buat tidur. Nyempil-nyempil dan minta geser sana geser sini dulu, akhirnya dapat lapak. Keano yang duluan pules tidur. Saya gak tau si bungsu ini mimpi atau nggak. Dan kalaupun mimpi, saya lupa nanya, apakah snorkeling di Pahawang jadi bagian dari mimpinya.

*****

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here