Camping with kids: Ke Situ Gunung (lagi) demi Jembatan Gantung

0
110
Di manakah adanya jembatang gantung terpanjang se-Asia..? Jawabannya adalah di Situ Gunung, Sukabumi, Jawa Barat. Kalau buat saya, kelebihan Situ Gunung bisa ditambah satu lagi, yakni salah satu lokasi favorit ngajak anak camping. Dulu waktu belum ada jembatan, pernah bawa Lana dan Keano camping di sini. Nah, setelah ada jembatan jadi tambah pengen datang lagi.

Sebelum terus baca, boleh lah lihat videonya dulu yang ada persis di bawah ini..
Camping ngajak anak ke Situ Gunung kali ini, bareng-bareng beberapa teman Keano dari kelas dua Sekolah Alam Indonesia, Studio Alam Depok. Kebetulan banget, teman-teman Keano ini bapak ibunya punya hobi wisata yang mirip-mirip dengan kami. Wisata yang dipilih seringnya yang berbau petualangan. Makanya, cocoklah jadi teman seperjalanan dan sepermainan, klop di anak-anak, klop juga bapak ibunya. Jadilah empat keluarga termasuk kami, buka tenda di Situ Gunung.
Camping ground Situ Gunung, lokasinya gak jauh dari parkiran. Ada beberapa yang disediakan oleh pengelola khusus untuk lokasi camping. Di penghujung pekan, camping ground lumayan rame. Selain rombongan kami, waktu itu ada juga beberapa keluarga lain yang camping. Gak cuma keluarga sih, seperti pada umumnya penyuka camping, ada sejumlah anak muda juga yang buka tenda di sini.
Fasilitas camping di Situ Gunung sekarang jauh lebih baik dan lebih asik. Kamar mandinya ada yang baru dan bersih. Air mengalir terus gak berhenti. Tinggal tanggung jawab para pengunjung camping aja yang mesti sama-sama ngejaga kamar mandi dan toilet ini tetap bersih. Salah satu kelebihan camping di Situ Gunung, yaitu tersedia colokan listrik di beberapa titik. Jadiii, bisa dimanfaatkan untuk ngecharge gadget. Gak takutlah jadinya sama baterei hp lowbat yang bisa menyebabkan hilangnya kesempatan foto-foto, selfie dan update status di medsos hehehe…

Semaleman camping, paginya siap-siap dong jalan-jalan. Dulu waktu kami camping di sini, belum ada jembatan gantung. Jadi kalau mau ke air terjun Curug Sawer, jalan kakinya penuh perjuangan. Ceritanya bisa di baca di sini . Tapi sekarang, jauuuuuh lebih enak. Mau ke air terjun jalannya nyaman, bagus dan bisa ngerasaain deg-degan melintasi jembatan gantung yang membuat perjalanan jauh lebih lebih singkat. Gimana nggak ya, dulu mesti turun bukit dulu, naik lagi, turun lagi, baru deh sampe air terjun. Sekarang di antara kedua bukit udah dihubungkan jembatan sepanjang kira-kira nih ya 250 meter dengan ketinggian kira-kira juga 150 meter dari atas lembah.
Cuma, kenikmatan ini tentu ada harganya ya.. Naik jembatannya nggak gratis. Di luar biaya camping 35 ribu rupiah perorang, kita mesti bayar tiket 50 ribu untuk bisa melintasi jembatan gantung. Kabar baik buat bapak ibu yang bawa anak, si kecil cukup bayar setengahnya aja. Jadi, keluarga kami dengan dua anak cukup membayar 150 ribu rupiah. Mahal atau nggak?? Tergantung pandangan masing-masing ya, yang jelas jembatan gantung kini menjadi daya tarik utama Situ Gunung. Biarpun bayar, yang antre masuk banyaaak banget.

Di antara banyaknya perbaikan fasilitas di Situ Gunung sejak terakhir kali kami ke sini, yakni adanya lokasi teater terbuka. Pertunjukan seni dan budaya dihadirkan di sini. Jadi kalau udah masuk dan bayar tiket 50 ribu tadi, udah bisa menikmati fasilitas ini. Waktu kami mampir pagi-pagi belum ada pertunjukan. Tapi pas siangnya ketika pulang, sudah ada kesenian kendang sunda di atas panggung.

Yang paling kereeeen, menurut kami ya, pengunjung dapat welcome drink loh dengan biaya yang sudah dibayar tadi. Lokasi menikmati welcome drink ini yang cakep banget. Suasana alami menikmati minuman dan makanan di area terbukanya dapat banget. Yang disediakan adalah teh, kopi dan jajan tradisional kayak pisang dan singkong rebus. Semua dihidangkan hangat di tengah udara sejuk Situ Gunung. Jadi, pas kita beli tiket masuk jembatan kan ya, kita dapat semacam gelang sebagai tanda pengunjung resmi, plus satu kupon yang bisa ditukar untuk menikmati welcome drink di spot ini.

Kalau welcome drink kurang nendang dan pengen makan berat, ada restoran di seberangnya. Restoran menyediakan menu makanan khas Sunda dengan best view pemandangan perbukitan yang bikin mata adem. Penampakan jembatan gantung atau suspension bridge di antara perbukitan jadi perhatian utama. Buat yang gak mau makan, bisa foto-foto gratis di tempat ini. Ada beberapa spot foto yang hasilnya nanti menjanjikan buat feed instagram.

Dan tibalah waktunya masuk jembatan. Yang pertama dilakukan adalah antri yaaa.. setelah itu ada petugas yang akan pasangin pengaman. Kita diberi harness yang terhubung dengan penambat bercarabiner. Dulu sih waktu sering panjat dinding familiar pake ginian. Kalao kita capek manjat misalnya, carabiner bisa ditambatkan di sejumlah titik untuk kita bisa gelantungan istirahat. Nah, sayangnya di sini ini, gak dijelasin detail kenapa kita mesti pake ginian. Terus di mana bisa nyantolin itu carabiner. Dan karena gak ada ukurannya, anak-anak juga gak dikasih fasilitas pengaman ini. Sehingga, menurut saya sih jadinya seperangkat fasilitas safety ini cuma jadi pajangan tanpa pengunjung tau gimana cara memanfaatkannya.

Baiklaaah, bismillah aman aja ya naik suspension bridge. Buat penggemar foto-foto jangan dilewatkan momen pasang gaya di sini. Emang sih goyang-goyang gimana gitu karena banyak orang yang lewat. Tapi justru di situ sensasinya. Jembatan gantung adalah juga jembatan goyang. Buat yang takut ketinggian, jangan liat ke bawah. Tahan pandangan lurus ke depan. Atau bisa juga merem hahaha.. Karena pengalaman waktu ke sana, ada yang bener-bener jalan merambat pegangan temen akibat sensasi goyang jembatan bercampur dengan rasa takut ketinggian.
Bagi orang tua dengan anak-anak, please dijaga betul. Nggak boleh lelarian di atas sini, dan pastikan anak-anak selalu dalam pengawasan. Jembatan sebenernya cukup aman, pembatas di kanan kirinya cukup tinggi sehingga bocah nggak bisa tuh melongokan kepala melewatinya. Tapi, yah namanya juga jaga-jaga. Anak-anak kadang gak tau apa yang berbahaya buat mereka.

Lepas dari jembatan, sedikit trekking menuruni bukit sampailah ke Curug Sawer. Seperti juga lokasi lainnya di Situ Gunung, spot ini telah tertata jauh lebih rapi. Bakal ada menara pandang di sini yang masih dalam proses pembangunan.

Ketemu air, gak sah kalau nggak basah-basahan. Dulu waktu kami ngajak Lana ke sini, sempet ketempelan pacet. Makanya Lana menjauhi lokasi di mana dulu ia bertemu makhluk melata kecil yang kalau udah nempel susah dilepas ini.

Lucunya yang antusias bukan cuma anak-anaknya, tapi para bapak peserta camping juga. Maafkan kelakuan para ayah ini yang keliatan gila-gilaan di sungai. Mungkin masa kecilnya kurang bahagia. Untuk menebusnya, makanya sekarang kedua ayah ini rajin mengajak putri mereka masing-masing yang lucu imut dan cantik untuk sering-sering camping hahahaha…

Di sekitar Curug Sawer juga ada tukang jualan. Ada yang jualan suvenir ataupun makanan. Kalau gak bawa bekal, bisa makan siang di sini. Mushola, dan toilet juga tersedia. Ojek motor juga, kalo misalkan males jalan kaki pulang.
Habis mandi di sungai, kami segera balik tenda melewati jalan yang sama ketika pergi tadi. Lewat lagi dong suspension bridgenya. Jalan balik tentu saja menanjak karena pas perginya tadi jalan menurun. Meski begitu anak-anak tetap antusias jalan di depan, meninggalkan orangtuanya yang ngos-ngosan. Lana dan Keano kalau udah ketemu temen, agak lupa sama orangtuanya. Kecuali kalau mereka lapar dan pengen jajan, baru deh deket-deket lagi hehehehe..
Di perjalanan pulang, sempet-sempetin dulu foto bareng meskipung ngumpulin massanya agak susah. Terutama para bocah yang asik mengeksplore sendiri ke mana-mana. Meskipun hasil fotonya gak maksimal, yah lumayanlah yang penting ada buktinya pernah pergi sama-sama.

Jadi mari kita absen peserta camping kali ini. Ada keluarga Nara lengkap dengan ayah ibu dan ngajak sepupu, Rakha dan ayahnya (Bunda Rakha nggak ikut karena jagain adik Rakha yang masih baby, Hayzel bersama ayah ibu, dan keluarga kami dengan dua anak yaitu Lana dan Keano.

Sampai di camp site sempet leyeh-leyeh sebentar sebelum akhirnya bongkaran. Kalau ngikutin males, ya gak mau pulang karena udah enak tidur-tiduran. Belum lagi bayangan macet di jalur lalu lintas Sukabumi menuju Jakarta. Tapii yah, kita harus balik toh ke reality. Holiday is over. Saatnya para ayah ngangkut peralatan camping segambreng ke parkiran.
Camping bawa mobil ya begini ini. Bawaan jadi segudang. Apa juga mau dibawa. Beda kalau travelingnya naik public transport. Naah, ini bawaan jadi mesti dipress seminim mungkin biar gak ribet. Kalau bawa kendaraan sendiri sih cincay. Packing pun jadi gak rapi.
Untungnya di Situ Gunung ini parkiran gak jauh. Jadi bawa barangnya gak sampe menyiksa. Parkirannya sekarang juga sudah diaspal semua. Ada masjid juga yang cukup besar rapih berdiri. Enaknya Situ Gunung sekarang, ya begini. Fasilitas tambah kece. Paslah buat camping-camping lucu bawa anak kecil. Cuma buat yang demen sama tantangan, nilai kesulitan hidup di alamnya pasti berkurang. Jadi balik lagi sama tujuan awal masing-masing, maunya jalan-jalan atau camping kayak gimana. Yang jelas, Situ Gunung sih masih teduh, hawanya masih adem. Jadi kalau mau sejenak cari udara sejuk sambil tidur di tenda, buat kami Situ Gunung masih cakep buat jadi pilihan.
*****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here