Ajak Anak Nanjak Bukit Pergasingan Lombok

0
153

Rinjani memang selalu cantik dilihat dari manapun. Dulu kala, waktu masih muda, dengkul masih kuat, cadangan nafas masih banyak, dan perut belum bergelambir sekeliling, saya pernah sampai ke puncaknya. Pengalaman itu pengen banget saya bagi ke suami dan anak-anak. Biar mereka bisa liat juga dari atas sana, betapa menakjubkan Allah menciptakan alam dengan segala isinya. Hening, hanya desau angin yang menemani mata memandang bentang pulau dan laut. Sesekali, ada awan melintas di bawah tempat kaki berpijak.


Sayangnya, saat road trip ke Lombok, cita-cita ini belum kesampean. Waktu jadi kendala utama. Naik dan kemudian turun lagi dari Rinjani, paling nggak butuh waktu lima hari. Padahal jatah jalan-jalan kali ini cuma 10 hari, udah termasuk di dalamnya berkendara menyusuri daratan Pulau Jawa, Bali, dan Lombok tentunya. Ada banyak tempat juga yang mau didatangi. Jadi, niatan mendaki Rinjani bareng keluarga, disimpan sementara. Biar hati senang, kami main di kaki Rinjani dulu. Sembalun pun jadi tujuan.

Sembalun, kecamatan yang terletak di kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.  Kawasan ini jadi salah satu pintu masuk pendakian ke Gunung Rinjani. Buat yang gak mau naik gunung, Sembalun juga sedap untuk dinikmati. Udaranya sejuk, pemandangannya pun asri. Banyak penginapan di sini. Mulai dari homestay milik warga, villa, aneka cottage, bungalow ataupun hotel, tinggal pilih saja. Saran saya, kalaupun mesti nginep di homestay, cari yang ada air panasnya. Soalnya buat orang yang biasa tinggal di Jakarta, atau daerah panas lainnya, dinginnya air di sini bikin ciut nyali buat ke kamar mandi.

Kami nginap di Rinjani Inn, penginapan yang hari itu masih tersedia kamar. Karena cuma satu malam, dan paginya harus check out buat ke Bukit Pergasingan, cukup pas lah nginap di sini. Selain bersih, dan ada air panasnya, dipilih penginapan ini karena termasuk penginapan yang terdekat dari Bukit Pergasingan. Dari Rinjani Inn tinggal jalan kaki, dan juga bisa titip mobil selama naik ke Pergasingan. Pemilik penginapannya sendiri yang nyaranin buat parkir mobil di sini, dan nunjukin jalan buat ke Bukit Pergasingan.

Niat berangkat sepagi mungkin buat ke Pergasingan, rencana mundur karena dari subuh hujan gak berhenti-berhenti. Padahal sudah sarapan, sudah siap standby dari jam tujuh pagi. Kata pemilik hotel, mendingan tunggu hujan reda. Bakal licin banget jalurnya, katanya. Baru setelah jam sembilan lewat, hujan reda. Langsung dah meluncur ke Bukit Pergasingan.

Kebun-kebun warga yang terhampar luas di kaki bukit, jadi daya tarik Sembalun. Melintasi dan jalan-jalan di kebun bukan cuma sekadar buat lihat-lihat, tapi kebun-kebun ini memang jalur buat nanjak Bukit Pergasingan. Bukit yang famous di Sembalun. Biasa didaki wisatawan, untuk melihat keindahan dari atas. Jalan ke sana emang harus melewati kebun cabe, tomat, terong, dan kebun sayur lainnya milik warga. Karena bukan lokasi wisata komersil, gak ada tuh tiket atau gerbang masuk ke lokasi. Setidaknya, itu pengalaman kami waktu ke sana akhir Desember 2017.

Petunjuk jalan mendaki Pergasingan, jelas banget. Tapi… itu kata orang lokal hahahahaha.. Mesti lihai macam Pramuka mencari jejak, untuk bisa lihat penandanya.
Pernah nggak nyasar di tengah hamparan sawah, terus kehilangan arah ngga tau mesti ke mana? Itu yang kami alami. Bukitnya sih keliatan, tapi nggak tau sebelah mana jalan menuju ke sana. Apalagi, bukit di Sembalun gak berdiri sendiri. Ada banyak tetangga bukit yang menemani. Nyasar di hamparan sawah dan ladang ini cukup menyita waktu. Udahlah cuma ada sedikit petani yang bisa ditanya. Itu juga jaraknya jauh meskipun orangnya sih keliatan. Setelah blusukan semak, sedikit nyusruk ke sawah yang gak ada tegalannya, sampe juga di kaki bukit. Ada jalan setapak menuju puncaknya.

Kalau sudah ketemu jalan setapak di kaki bukit, Insya Allah perjalanan lebih mudah. Paling nggak sudah ketahuan arah tujuan. Cuma sedikit kemungkinan untuk nyasar. Tapi sabaar.. drama belum usai. Mendaki bukit ini memang banyak cobaan. Kemiringannya dahsyat. Nafas pun cepet ngos-ngosan. Lana mulai cranky kecapekan. Apalagi cuaca cukup panas setelah hujan. Sinar matahari juga dateng langsung gak pakai tirai. Si sulung sempat ngambek, nangis gak mau lanjut perjalanan. Akhirnya dengan bujuk rayu sana sini, pendakian berlanjut pelan-pelan. Pelaaaan banget malahan.

Sampailah di punggungan bukit. Belum puncak ya… Jalan setapak menuju ke sana memang adanya di atas punggungan. Kanan kiri, keliatan lembah curam. Pemandangan mulai asik. Keano mulai menikmati perjalanan dan sering mimpin di depan. Tapi ini yang bikin saya kuatir. Soalnya takut si kecil kepeleset. Mesti direm lajunya, sekaligus nunggu si kakak yang kehabisan stamina.

Dua pertiga perjalanan lah kira-kira, bentang sawah dan ladang di bawah semakin indah kayak lukisan. Masalah baru dateng, Abi, adik sepupu yang saya ajak di perjalanan kali ini, ternyata takut ketinggian. Semakin lama jalannya semakin merayap, badan rata dengan tanah, dan mata nggak mau liat ke bawah. Saking takutnya Abi minta ditinggal aja.. Cocok hahaha.. Lana ada temennya.

Saya akhirnya menemani Lana dan Abi istirahat. Keano lanjut ke atas sama pak suami. Gerimis mulai turun. Suami memutuskan nggak sampe puncak, meski katanya dikit lagi. Entahlah, kan kita juga baru pertama ke sini. Kalau mau ikutin ego, bisa aja maksa naik sampai atas. Tapi, ini perjalanan keluarga. Semua harus gembira. Keselamatan juga yang utama. Ya udahlah ya, mencapai puncak nggak lagi tujuan utama. Balik lagi ke rencana awal, kami mengajak anak ke sana sini supaya mereka juga senang, gak cuma ibu bapaknya yang riang. Sampai sini aja udah alhamdulillah. Masih bisa nangis dan ketawa sama-sama. Perjalanan di akhiri dengan foto-foto, biar kekinian sekaligus menyimpan kenangan. Kalau kata Sheila on 7, bersenang-senanglah, karena hari ini akan kita rindukan.

*****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here