Teluk Kiluan, Seninya tuh di Sini

0
166

“Pah, kok lama?” pertanyaan ini sering terdengar dari mulut Keano setiap mau berangkat. Seperti biasa, dia mulai gak sabar. Karena Keano biasanya yang paling pertama siap, atau tepatnya disiapkan paling pertama. Sedangkan yang lain masih sibuk muter-muter, beres-beres, packing dan lain-lain.
Lampung kembali jadi pilihan liburan kami. Sekalian berkunjung dan ngajak keponakan jalan-jalan, mumpung lagi liburan sekolah dan libur tahun baru 2014. Kali ini teluk Kiluan jadi tujuan utamanya. Dengan keywordske anak-anak; pantai, pulau, dan lumba-lumba, membuat anak-anak semangat untuk segera berangkat.

Teluk Kiluan berada di pesisir barat Sumatra, atau tepatnya di pesisir Lampung bagian selatan, di kecamatan Kelumbayan, kabupaten Tanggamus, Lampung Selatan.

Kami berangkat sekitar jam sembilan pagi dari Bandar Lampung. Melewati pantai Mutun, pantai Klara, dan juga tambak-tambak garam dengan kincir airnya, menjadikan perjalanan ke teluk Kiluan jadi hiburan tersendiri. Sedikit melupakan jeleknya jalanan yang belum semuanya teraspal dengan baik.
Kondisi jalanan ke Kiluan memang jadi perhatian kami, apalagi setelah membaca beberapa tulisan tentang Kiluan. Tapi ternyata, tak sehoror yang dikira. Memang masih banyak jalanan yang hanya pengerasan tanah atau batuan, jalan yang diaspal hanya sampai pangkalan TNI AL. Tapi secara keseluruhan jalannya masih aman, relatif nyaman buat dilewati. Karena dari awal kami gak berpikir dan berharap jalanannya akan semulus jalan nasional atau provinsi.


Hitungan saya, hanya dua titik yang memang perlu kehati-hatian ekstra. Itu pun di sekitar sepuluh kilo meter terakhir sebelum sampai di Kiluan. Yang pertama, karena jalannya berlubang terbelah-belah, sehingga harus pintar-pintar mencari jalur yang pas. Sedikit menanjak pula. Tapi kalau sudah tahu celahnya, gampang saja dilewati. Satu lagi adalah jalan turunan persis setelah gerbang Kiluan. Turunannya curam dan jalannya belum teraspal. Kerikil, pasir dan batuannya gampang terlepas sehingga licin. Nah turunan atau  tanjakan ini nantinya jadi pe-er tersendiri ketika pulang.


Lepas dari turunan itu, mata langsung disambut suasana pedesaan bernuansa adat Bali. Di sini memang lokasi transmigran asal Bali. Ini juga menjadi tanda, selain gerbang Kiluan, kalau kami sudah sampai ke Teluk Kiluan. Kami disarankan untuk parkir mobil di warung Pak Yon. Gak jauh di belakang warung pak Yon, perahu jukung atau orang Lampung sering bilang perahu ketinting, sudah siap untuk mengantarkan kami menyeberang ke pulau Kiluan. Sebelumnya kami memang sudah booking penginapan di pulau Kiluan. Kami sengaja memilih di pulau karena prinsip kami ‘kalau ada pulau di laut, kenapa harus di daratan?’. Yang penting aman, dan yang kami bayangkan hanya keindahannya, tinggal lari dan bisa nyebur kapanpun. Kalau soal nyaman itu relatif.

Warung Pak Yon, tempat parkir menitip kendaraan
Di pulau Kiluan atau biasa disebut juga pulau Kelapa, hanya ada satu penginapan. Ada dua bagian sebenarnya, sama satu lagi yang di atas rumah penjaga pulau atau pengelola penginapan, plus warungnya. Dua-duanya adalah bangunan sederhana terbuat dari kayu. Tadinya kami diarahkan ke  kamar di lantai dua rumah panggung di atas warung itu. Tapi karena eyang susah naik turun tangganya, dan juga takut anak-anak pecicilan jatuh dari rumah panggung, akhirnya kami pindah dan memilih kamar lain di bagian depan yang kebetulan sedang kosong. Lebih enak di sini malah. Listrik di pulau hanya menyala dari maghrib sampai jam lima pagi. Fasilitas yang ada juga sederhana, hanya ada kipas angin, kasur digelar di lantai beserta guling dan bantalnya. Kamar mandi di luar, nimba sendiri di sumur dan hanya dibatasi seng. Tapi di situlah seninya, dan anak-anak senang-senang saja.

Penginapan sederhana di pulau Kiluan
Setelah menyimpan semua barang di kamar, anak-anak langsung lari ke pantai dan nyebur ke laut. Sudah diprediksi bagaimana senangnya mereka. Apalagi dengan pasir putihnya yang halus dan bersih dari batuan tajam, juga sampah, membuat kami gak khawatir meninggalkan anak-anak main di pantai. Hanya ada sedikit daun-daunan (kalo bisa dibilang) mengotori air laut yang jernih berwarna biru gradasi tosca. Sore itu gak ada pengunjung lain di pulau atau pantainya. Serasa pemilik pulau, kami menikmati dengan tenang; berenang, main pasir, snorkling, hingga jalan-jalan menyusuri garis pantai.

Bermain pasir putih nan bersih di pantai pulau Kiluan


Langit mulai berubah gelap, kami juga sudah cukup puas bermain di pantai. Masih ada besok. Saatnya istirahat dan leyeh-leyeh di kamar. Dan pastinya, makan. Soal makan, tinggal pesan, langsung dimasakin sama ibu warungnya dan diantar ke kamar. Menunya lumayan, seperti masakan rumahan. Pilihan lauk dan sayuran memang sesuai persediaan. Yang standar seperti mie rebus atau mie goreng dan nasi goreng juga ada. Untuk harga makanan, normal-normal saja seperti warung biasa. Gak mencekik mentang-mentang di pulau.


    Dolphin Tour, Atraksi Lumba-Lumba di Teluk Kiluan


Melewati malam dengan sedikit kegerahan, tapi tidur kami lumayan nyenyak juga. Jam enam pagi kami sudah siap untuk dolphin tour, kecuali Keano yang masih tidur pulas. Bapak jukung sudah stand by menjemput kami untuk berburu atraksi lumba-lumba. Masih dalam kondisi ngantuk, akhirnya Keano digendong dan naik ke jukung. Kami menggunakan tiga jukung dengan harga masing-masing 250 ribu per jukung. Saya satu jukung dengan Yossie, Lana, dan Keano. Duo eyang putri sama Imbi di jukung ke dua. Ening sama Zara dan Kude di jukung ke tiga. Cuaca pagi itu kurang bagus, kadang terang, kadang mendung bahkan sesekali hujan.
Ada sekitar 20-an lebih jukung dengan tujuan yang sama berseliweran di tengah laut. Perahu jukung ini gak besar, tapi dengan bentuknya yang ramping dan dilengkapi mesin, membuat jukung bisa meluncur cepat menembus ombak. Saya gak khawatir perahu oleng oleh ombak atau angin, karena jukung menggunakan cadik atau biasa juga disebut katir yang terbuat dari bambu untuk penyeimbang. Jukung atau jung di Kiluan ini sangat khas bentuknya, dengan kedua ujung lancip dan biasanya dicat warna mencolok.
Perahu jukung melaju memburu lumba-lumba

 “Selama saya bawa tamu sih pasti selalu ketemu lumba-lumba, gak pernah gak ada. Cuma memang tempatnya pindah-pindah, tapi gak pernah jauh dari sekitar sini”, kata bapak jukung (lupa namanya) ketika saya tanya apa pernah dalam sehari gak ketemu lumba-lumba, karena penasaran campur khawatir setelah cukup lama muter-muter belum ketemu lumba-lumba.

Akhirnya, sang bintang yang ditunggu-tunggu mulai kelihatan. Barisan sirip hitam mulai bermunculan. Selanjutnya melompat rendah, bahkan ada beberapa yang melompat tinggi.
“Itu pah… itu mah… ini pah… sana … situ… bagus ya pah? …” Lana dan Keano seru menunjuk lumba-lumba yang muncul dan hilang di permukaan air. Kadang di belakang mengikuti jukung, kadang di depan. Kadang seperti ngajak balapan di samping jukung, di kiri, di kanan, di antara cadik dan perahu, dan kadang munculnya jauh dari perahu. Jukung-jukung juga posisinya mulai ngacak muter-muter mengejar di mana setiap lumba-lumba muncul.
Selama sekitar setengah jam lebih, kami disuguhi pemandangan yang jarang-jarang ini. Dibilang jarang, karena biasanya anak-anak cuma bisa lihat langsung lumba-lumba di Ancol. Lumba-lumba hidung botol dan lumba-lumba paruh panjang ini memang sudah mengubah wajah Kiluan menjadi tujuan wisata yang menarik, dengan pemandangannya yang indah dan masih alami.

Kiluan yang sedang berawan. Dengan laguna yang tak terduga

Selesai menyaksikan atraksi lumba-lumba, kami kembali ke pulau dan menikmati pantai lagi. Kali ini pantai sangat ramai. Karena setelah dolphin tour, rata-rata jukung langsung ke pantai pulau Kiluan. Kegiatan seperti kemarin pun berulang lagi. Berenang, main pasir, snorkling.


Menghirup segarnya udara pulau Kiluan sebelum pulang

Tegang Senang Saat Pulang
Tengah hari kami meninggalkan pulau. Saatnya pulang. Semua senang, tapi sudah terbayang tanjakan kemarin yang curam itu. Benar saja, pas belokan sebelum tanjakan, ada tiga atau empat mobil yang sedang antre buat bergantian menanjak. Saya lihat para penumpangnya turun, dan jalan kaki. Idem, kami pun ambil jurus yang sama. Kecuali eyang dan Keano, semuanya turun. Gak cukup sekali atau dua kali mereka mencoba untuk melewati tanjakan ini. Rata-rata nyangkut di tengah tanjakan. Susah payah mobil sampai di ujung tanjakan.

Giliran kami sekarang. Ambil ancang-ancang, dan gas kencang….. Nyangkut. Mobil berhenti di tengah-tengah pas legokan tanah berpasir dan batuan. Maju gak bisa, akhirnya mundur balik lagi ke awal dari bawah. Dicoba  lagi dua sampai tiga kali, tetap saja nyangkut di daerah yang sama. Makin susah, apalagi lubangnya semakin dalam, dan ada mobil lain juga yang masih nyangkut di tengah.  Eyang dan Keano akhirnya turun, dan semuanya menunggu di pinggir jalan sambil menonton di tengah tanjakan. Eyang kakinya berdarah kena batu yang terpental dari ban-ban mobil yang lagi berusaha menaklukan tanjakan.

“Coba jalan mundur mas” ada seorang bapak memberikan solusi. “Aduh pak, maju saja repot, apalagi mundur. Gak bisa lihat jalan, mana lubang mana batu…”, cuma dalam hati saya menjawab karena gak enak kalau dijawab langsung.  Mungkin saja cara bapak itu bisa berhasil, tapi saya gak ikuti caranya, saya memang gak biasa jalan mundur.

Naik… turun, naik… turun terus dicoba. Saya mempersilakan ganti supir sama bapak-bapak yang mau nyoba. Hasilnya sama saja. Sempat dipaksa digas terus di tempat selipnya ban. Asap putih tebal keluar dari gesekan ban dengan batu. Telanjur ancur, pedal gas terus saya injak. Tapi mobil tetap gak kemana-mana. Dua ban depan jadi korban, bocel-bocel. Lepas gas, mobil malah turun dan hampir terperosok ke parit di pinggir jalan. Maju dan mundur sekarang gak bisa, karena setengah ban sudah mejeng di pinggir parit.

Dari pada lebih terperosok ke parit, juga melihat eyang yang semakin ‘stress’, saya istirahat dulu sambil melihat mobil-mobil lain mencoba naik. Bala bantuan akhirnya datang. Bapak jukung dan teman-temannya. “Sudah biasa mas kalau di sini. Bukan sekali dua kali, malah ada yang lebih parah sampai harus diderek mobil dari atas” kata salah satu di antara mereka. Mereka membantu mengangkat dan mendorong mobil sampai ke tengah jalan lagi. Setelah dicoba berulang kali, mobil akhirnya bisa lewat. Dibantu dorongan orang ramai-ramai dan dicoba sama supir travel kiluan. Lega, anak-anak dan eyang jadi ceria lepas lagi, karena ternyata eyang sudah berpikir dan sudah siap kalau harus menginap lagi. Yang tadinya agak tegang, jadi riang dan senang lagi. Malah tanjakan ini, jadi menambah pengalaman seru di Kiluan. Mungkin sekarang tanjakan itu sudah mulus, lebih bagus begitu, karena memang cuma satu itu saja ‘kendala’nya.

Terlepas dari tanjakan yang cukup merepotkan, dan memakan korban dua ban, menikmati keindahan alam Kiluan memang membuat saya secara sadar dan tanpa paksaan harus sepakat dan mengamini cerita dan pengalaman para ‘pejalan-penulis profesional’ dengan pilihan-pilihan kata syahdunya. Seperti “… nyiur melambai bak tarian alam yang sangat indah, riak-riak ombak bersahut-sahutan dengan gerakan lumba-lumba bak alunan simfoni merdu, dan akhirnya Kiluan adalah surga tersembunyi serta mahakarya yang luar biasa”. Sekali lagi saya mengaminkan, sebagaimana yang saya rasakan dan saya lihat dari wajah-wajah kepuasan, kegembiraan anak-anak dan eyang yang menjadikan kiluan salah satu pengalaman yang menyenangkan dan tetap jadi obrolan hingga sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here