Monastiraki, Wisata Murah di Jantung Kota Athena Yunani

0
349

Monastiraki adalah kawasan di mana kita bisa melakukan wisata murah di jantung kota Athena, Yunani. Di area ini ada deretan tempat belanja. Mulai dari flea market alias pasar loak, deretan toko yang menjual souvenir, hingga tempat shopping dengan brand barang yang sudah dikenal di seluruh dunia.

Monastiraki Square

Cara terbaik menjelajahi Monastiraki adalah dengan berjalan kaki. Sebab setiap sudutnya sangat menarik untuk dipandangi. Tapi sebelum melakukannya, hal pertama yang harus diperhatikan adalah jaga barang bawaan. Meski relatif aman, ancaman copet tetap yang harus diwaspadai di Athena. Selebihnya, kita bisa ke sana kemari dengan gembira.

Toko buah di depan Pasar Loak
Aneka buah murah

Yunani punya bahasa dan aksara sendiri yang sulit dimengerti oleh pendatang. Tapi jangan takut. Rata-rata masyarakatnya mengerti bahasa inggris sederhana. Setidaknya ini yang terjadi di Athena. Selama kami di sana, hampir semuanya sangat ramah. Gak pernah ada masalah dengan komunikasi. Mungkin karena pariwisata adalah tulang punggung perekonomian negeri ini. Yunani pernah bangkrut secara ekonomi. Dan sektor pariwisata adalah salah satu yang membuatnya bangkit dari keterpurukan.

Hal pertama yang mengesankan kami begitu sampai Monastiraki adalah harga buahnya yang murah-murah. Udah gitu semuanya segar. Ukurannya besar-besar dan beraneka rupa jenisnya. Banyak buah yang jarang kita lihat di Indonesia sampai saya juga gak tau persis namanya apa.

Obral buah perkilogram harganya 99 sen, kurang dikit dari 1 euro. Waktu ke sana 1 euro sekitar 17 ribu rupiah. Dengan harga itu kita bisa beli apel, anggur, plum, aneka berries dan buah lain yang saya bilang tadi gak tau namanya. Terus belinya bisa dicampur pula karena harganya sama. Beeuuuh… ketemu buah segar, harganya murah, di tengah hari di musim panas, dan hampir semuanya terasa manis di lidah. Ngebayanginnya aja saat nulis ini saya jadi ngiler lagi.

Gerbang menuju pasar loak
Banyak barang baru di dalam pasar loak

Habis belanja buah kami langsung menuju flea market alias pasar loak. Meski namanya pasar loak, gak semuanya di sini barang bekas. Kami malah gak ke seksi barang bekasnya. Aneka baju, tas, topi, sepatu, kerajinan tangan, bisa ditemui di sini. Bayangannya mirip kayak pasar Blok M di Jakarta. Harganya juga bisa ditawar dan hampir sama dengan di tanah air. Gak menguras kantonglah buat ukuran negara Eropa. Kita bisa beli beberapa barang untuk oleh-oleh juga di sini. Tapi kami gak belanja banyak. Trip kami kali ini adalah bagian dari backpacking ke 7 kota di 6 negara eropa. Semua bawaan selama perjalanan 16 hari kami tenteng tanpa bagasi.

Di tengah pasar ada kedai makanan yang menjual makanan khas Yunani. Pas banget memang belum makan siang. Jalan-jalan sebelumnya ke Acropolis cukup menguras tenaga dan membuat perut lapar. Jadilah tergoda untuk makan di sini. Nanya-nanya ke penjualnya, mereka ternyata menyajikan juga menu non pork. Saya gak mesti ngomong banyak karena ngeliat saya pakai jilbab mereka sudah paham kami menghindari makan babi. Nama tempatnya To Pithari. Kalau liat aksara Yunani-nya pasti bingung bacanya hehehehe..

To Pithari Street Food

Menu yang kami pesan adalah Chicken Gyros dan Lamb Kebab serta Grilled Pepper. Menu terakhir ini dipesan karena penasaran akan rupa dan rasanya hehehe… Gyros adalah makanan khas Yunani yang tersusun dari irisan daging. Dagingnya bisa daging apa saja, mulai dari ayam sampai babi. Disajikannya dengan aneka rempah dan keju feta. Keju feta adalah keju Yunani yang dibuat dari susu domba atau kadang dicampur pula dengan susu kambing.

Chicken Gyros
Lamb Kebab
Semacam cabai dan bawang merah panggang

Lamb kebab dipesan karena Keano dan Lana suka banget makan kebab. Tapi ternyata tampilannya beda dengan kebab Turki. Meski namanya kebab, disajikan tidak dengan kulit kebab. Namun secara rasa, rempah-rempah Yunani punya kemiripan dengan rempah Turki. Sementara Keano memesan Pita Gyros, yakni gyros yang dibungkus dengan roti pita. Pita itu mirip-mirip kulit kebablah. Makan di sini dapat air putih gratis

Anak-anak yang selalu kelaparan

Untuk harga, kalau kita pesan ala carte kayak Lamb Kebab dan Chicken Gyros, menurut kami jatuhnya jadi mahal. Masing-masing menu seharga sekitar 7 euro. Kalikan saja dengan kurs 17 ribu rupiah. Apalagi untuk ukuran street food. Harga ini beda tipis sama resto yang jauh lebih cozy yang kami coba di Plaka, kawasan yang romantis banget di Athena. Sementara Chicken Pita Gyros yang dimakan Keano harganya sekitar 3 euro, beda-beda tipislah harganya sama seporsi burger di Burger King. Jadi kalau mau makan di street food, pilihannya udah bener kayak Keano yang macam fastfood gitu.

Selesai makan, mata kembali terang, pegal kaki juga mulai hilang. Lanjut kami jalan-jalan. Enaknya di Athena, lokasi kawasan wisata satu dengan yang lainnya deket-deket. Terutama area Acropolis, Monastiraki dan Alun-alun kota Syntagma. Semua bisa ditempuh jalan kaki. Kalau naik kereta, malah banyak yang gak keliatan nanti tempat-tempat menariknya.

Dari Monastiraki ke Sytagma 14 menit jalan kaki

Dari Monastiraki kami menuju alun-alun Syntagma, tempat dimana taman nasional dan gedung parlemen Yunani berada. Dalam perjalanan kami melalui situs Hadrian’s Library. Hadrian’s Library adalah perpustakaan warisan Kaisar Roma pada abad ke-2 masehi, Hadrian. Kaisar Hadrian inilah yang bercita-cita menjadikan Athena sebagai ibukota budaya Eropa.

Hadrian’s Library

Selanjutnya adalah perjalanan menyusuri Ermou Street. Ini adalah kawasan pejalan kaki sepanjang 1.5 kilometer di pusat kota Athena. Ermou Street juga tempat belanja yang terkenal. Merk-merk dari seluruh dunia memiliki gerainya di sini.

Ermou Street
Pusat belanja Ermou Street

Buat kami, perjalanan ini terasa melompat-lompat. Pagi hari kami memulai penjelajahan ke situs arkeologi Acropolis, tempat di mana peradaban Yunani kuno meninggalkan jejak. Lanjut ke pasar loak Monastiraki, di mana kemeriahan pasar rakyat tampak. Setelahnya ke Ermou Street, pusat belanja yang menunjukkan sisi modern Yunani. Seru sih. Gak membosankan jadinya. Dan kejutan datang lagi. Di tengah Ermou Street kami ketemu bangunan gereja yang kuno banget. Beneran kayak bangunan masa lalu terdampar di masa kini. Namanya Gereja Panagia Kapnikarea.

Gereja Panagia Kapnikarea

Gereja Panagia Kapnikarea adalah gereja Orthodox dan salah satu gereja paling tua di Yunani. Perkiraannya dibangun pada abad ke-11. Banyak orang yang menjadikan pelataran gereja ini sebagai tempat istirahat sejenak dari hiruk pikuk Ermou Street.

Sebenernya kalau capek jalan kaki di kawasan ini ada juga kereta wisata. Penampakannya kayak odong-odong hehehe… Nama resminya Athens Happy Train. Kereta ini berkeliling mulai dari Ermou Street, Gedung Parlemen di Sytagma, Acropolis, sampai kawasan kota tua Plaka. Tiketnya 5 euro untuk dewasa dan 3 euro untuk anak-anak. Di tengah perjalanan, penumpang bisa turun untuk mengunjungi tempat wisata dan naik lagi kereta berikutnya dengan tiket yang sama. Lebih lengkapnya bisa mengunjungi situs web Athens Happy Train langsung.

Syntagma Square

Sayangnya kami gak nyoba naik Athens Happy Train. Udah gak sabar pengen ketemu sama Syntagma Square. Ada atraksi menarik di sini. Yaitu upacara pergantian pengawal di Gedung Parlemen. Ceritanya berlanjut nanti, di posting berikutnya yaaa… Harap bersabar.

Kisah Monastiraki, wisata murah di jantung kota Athena Yunani berakhir di sini. Kami menyebutnya murah, karena jalan-jalan melihat pemandangan kota tentu saja gratis. Kalau mau belanja, untuk ukuran negara Eropa barang-barang di sini harganya sebanding dengan harga di Jakarta. Beli suvenir kaos masih ada yang harganya antara 60-100 ribu rupiah. Tas-tas cewek buatan lokal masih di kisaran 200 ribu rupiah. Kalau punya bagasi besar, bisalah bawa pulang banyak oleh-oleh. Tiket ke Athena kalau lagi promo juga murah. Boleh juga dibaca negara eropa mana saja yang kami kunjungi dalam sekali trip selain Athena. Siapa tau terinspirasi juga. Happy traveling..

Gedung parlemen Yunani
Penjaga gedung parlemen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here