Makan Murmer Serba Jamur di Jejamuran

0
47

Resto Jejamuran di Yogyakarta ini sudah ada sejak tahun 2007. Tapi baru tahun 2015 lalu kami sekeluarga akhirnya menjajal menunya. Pas lagi liburan di Yogya, sekalianlah cari kuliner yang seolah sudah jadi penanda wilayah. Menu jamur memang bukan makanan tradisi kota budaya ini. Jadi agak gimana gitu kalau mau disebut makanan khas. Meski demikian, Jejamuran sudah menjadi salah satu resto yang dituju wisatawan kalau ke Yogya. Jadilah saya menyebutnya kuliner penanda wilayah. Mau setuju pendapat saya silakan, nggak juga gak papa. Yang penting kita asik-asik aja ya… jangan sampai slek.

Bukti ketenaran Jejamuran sudah tampak ketika kami  mendekati lokasi di Jl. Magelang KM. 11 Desa Niron, Pandowoharjo, Tridadi, Sleman. Saya gak bisa kasih ancar-ancar lokasi karena gak terlalu faham wilayah ini. Kami menggunakan google maps waktu itu, dan alhamdulillah sampai, gak pake nyasar. Lagian lokasinya kebetulan searah, sudah dekat. Sambil turun setelah dari Jeep Lava Tour Merapi menuju tengah kota.

Antrean kendaraan di jalan menuju resto sudah mengular. Petugas mengarahkan kami dengan sigap menuju lapangan parkir di pinggir jalan. Padahal tempatnya belum keliatan. Menyadari wajah penuh tanda tanya si suami yang jadi supir, petugasnya bilang “Sini aja Pak parkirnya. Nanti ada mobil shuttle menuju resto” Wuaah.. hebat juga ya antisipasinya. Waktu kami datang memang musim libur lebaran. Kepadatan wisatawan lagi lucu-lucunya. Resto ini menyiapkan lahan parkir tambahan yang cukup jauh dari lokasi makan. Sebagai kompensasi, selesai parkir sebuah minibus full ac sudah menanti dan langsung tancap gas begitu kami sekeluarga duduk di dalamnya. Sekali dua kali gas, sampailah di lobby resto. Meskipun penuh, gak butuh waktu lama buat kami untuk mendapat tempat.

Lana di tepi kolam Koi halaman belakang Jejamuran

Keano menjajal summer breeze, minuman pilihannya. Gak lama setelah dicoba, minuman tumpah dan celana Keano harus dilepas karena basah

Lana suka sate jamur yang teksturnya kayak sate ayam

Melihat menu harganya sangat bersahabat. Satu porsi kebanyakan berkisar belasan ribu rupiah. Jadi gak ragu memesan berbagai olahan jamur yang ditawarkan. Hasil makan besarnya adalah:

  • Sate jamur, enak, mirip sate ayam.
  • Tomyam jamur, enak (kalau menurut saya ini juaranya)
  • Karedok jamur enak, ada kriuk kriuknya
  • Jamur panggang pedas, enak
  • Tongseng jamur, enak, kuahnya kental tapi agak kemanisan
  • Rendang jamur, biasa. Kayak jamur bulet gelondongan dikasih bumbu rendang. Gak ada sensasi rasa baru kayak sate jamurnya.
  • Telur Dadar Shitake, ya kaya telur dadar saja. Enak kalau buat kami yang penyuka telur.
  • Minuman summer breeze, seger. Ada jamur di dalam minuman yang kayaknya dicampur soda. 
  • Minuman geronimo, seger juga buat siang yang panas

Sate Jamur

Jamur Panggang Pedas

Tongseng Jamur

Karedok Jamur

Baru mulai makan, insiden pun datang. Keano menumpahkan gelas minumannya. Alhasil, celananya basah semua. Harus dibuka. Padahal baju ganti ada di mobil yang parkirannya terpisah oleh perjalanan dengan minibus shuttle. Jadilah sepanjang kita makan, Keano cuma pakai celana dalam bagian bawahnya.

Keano pamer minuman pengganti

Dari kiri ke kanan: Telur Dadar Shitake, Rendang Jamur dan Tom Yam Jamur

Hati senang, perut kenyang. Dompet juga tenang, karena gak berkurang banyak isinya. Selesai makan kami meninggalkan Jejamuran. Kalau ada waktu dan kesempatan mau ke sini lagi. Pelajarannya baju ganti sebaiknya gak ditinggal di mobil, biar kejadian Keano jalan-jalan di restoran dengan kondisi setengah telanjang, gak lagi terulang. Untung masih kecil kamu dek…

*****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here