Geopark Ciletuh Sukabumi: Tempatnya Curug Juara dan Keren-keren

2
197

Geopark Ciletuh di Sukabumi, tempatnya curug juara dan keren-keren. Di kawasan ini, kita bahkan bisa mengunjungi beberapa curug alias air terjun, dalam satu hari. Ini karena akses jalan sejumlah curug mudah dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Cukup jalan sedikit dari lokasi parkir, kita sudah bisa melihat penampakan curug yang keren-keren ini.

Geopark sendiri adalah singkatan dari Geological Park. Artinya adalah sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi termasuk di dalamnya nilai arkeologi, ekologi serta budaya. Ia merupakan bentang alam warisan masa-masa pembentukan bumi. Masyarakat yang tinggal di lokasi geopark sangat penting dilibatkan untuk melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam ini. Sebab keindahan geopark termasuk dalam unsur kekayaan alam yang tidak bisa diperbarui. Sekali rusak, tidak bisa diperbaiki lagi.

Lanskap Geopark Ciletuh

Geopark Ciletuh di Sukabumi, Jawa Barat, telah diakui keberadaannya oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), badan PBB yang mengurusi bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya. Dari puluhan geopark nasional di Indonesia, baru tiga kawasan yang berskala internasional dan masuk dalam daftar Unesco. Kawasan tersebut adalah Geopark Gunung Batur di Bali, dan Geopark Gunungsewu di Yogyakarta, dan terakhir adalah Geopark Ciletuh.

Geopark Ciletuh meliputi kawasan dengan luas sekitar 128.000 hektar. Wilayahnya mencakup 8 kecamatan dan 74 desa di bagian selatan Sukabumi. Ciletuh memiliki keragaman geologi yang umurnya paling tua di Jawa Barat. Geopark Ciletuh memiliki batuan fosil tektonik hasil tumbukan lempeng Eurasia dan lempeng Indo-australia. Lanskap bebatuan purba di tempat ini berperan besar membentuk curug dengan pemandangan menakjubkan.

Dari sejumlah curug yang bertebaran di Ciletuh, kami mengunjungi 3 di antaranya. Maklum, waktunya mepet. Sebelumya kami camping di Citalahab-Cikaniki. Perjalanan lanjut ke Ciletuh dan baru tiba malam hari. Menginap semalam, esok paginya main di pantai Ciletuh. Setelah itu baru deh wisata curug. Dan ternyata, curug di sini memang bagus semua. Geopark Ciletuh Sukabumi memang tempatnya curug juara dan keren-keren. Berikut ini curug-curug yang kami datangi selama di Ciletuh.

Curug Awang

Kolam Curug Awang, beberapa kali memakan korban

Sumpah, ini curug keren banget. Banyak yang menyebutnya sebagai Niagara mini. Bentangnya memang ada mirip-miripnya sedikit dengan air terjun Niagara di perbatasan Amerika dan Kanada sana. Curug Awang bisa dibilang ikon Ciletuh. Jadi jangan sampai gak mampir kalau sudah sampai ke kawasan ini.

Air curug sedang surut

Curug mengalir deras dari tebing selebar sekitar 60 meter dengan ketinggian sekitar 40 meter. Waktu kami ke sana, kondisinya sepi. Cuma ada sekelompok anak muda yang lagi jalan-jalan juga kayak keluarga kami. Dari lokasi parkir, curug bisa ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak sekitar 200 meter. Ini untuk mencapai bagian atasnya. Kalau mau ke bagian kolamnya, mesti turun menyusuri ladang dan pematang sawah.

Curug Awang dari kejauhan

Jalan menuju lokasi Curug Awang bisa dimasuki kendaraan roda empat. Dari Panenjoan Hill, salah satu menara pandang di kawasan Geopark, bisa ditempuh sekitar 8-10 menit berkendara. Jalan masuknya agak samar karena belum diaspal bagus. Apalagi menyaru dengan ladang dan tanah kosong di kanan kiri jalan.

Kalau dari Panenjoan Hill tinggal menyusuri jalan Taman Jaya 4. Nanti jalan masuk curug ada di sebelah kiri jalan raya. Mesti agak cermat memperhatikan jalan, karena waktu itu kami sempat kelewatan. Dari jalan raya menuju lokasi parkir sekitar 300 meter. Tahun 2018, jalannya masih tanah berbatu. Meski begitu aman kok dilalui mobil sedan sekalipun.

Menuju Curug Awang dari Panenjoan Hill

Kalau airnya lagi surut, bisa jalan kaki sampai ke tengah. Tapi hati-hati jangan sampai mendekati tepi jurang. Waktu kita ke sana nggak ada petugas keamanan, padahal sedang libur long weekend. Lagi pula pengunjungnya juga sepi banget sih. Tak dipagari pula jalur menuju jurangnya.

Plang larangan
Pejuang konten

Demi keselamatan, anak-anak cuma boleh melihat air terjun dari pinggir saja. Kami juga tidak menuju kolam air terjun di bagian bawah. Niatnya memang cuma lihat-lihat saja. Gak ada rencana basah-basahan. Menurut penduduk setempat bagian kolam air terjun juga berbahaya. Intinya, gak boleh berenang, main air di situ. Banyak kasus pengunjung tenggelam karena terseret pusaran air.

Foto dari jauh aja
Di pinggir jalan setapak menuju Curug Awang
Di tempat parkir bersama belanjaan

Setelah puas memandangi air terjun dan foto-foto tentunya, segera jalan kaki lagi menuju parkiran. Di tengah jalan ketemu warung kecil yang jual hasil kebun dan produk warga setempat. Kami belanja waluh, gula aren dan pete yang lagi murah banget. Selanjutnya menuju Curug Sodong atau juga sering disebut Curug Kembar.

Curug Sodong atau Curug Kembar

Curug Sodong

Curug Sodong lokasinya dekat dengan pantai pasir putih Ciletuh. Dari Curug Awang sekitar setengah jam naik mobil. Dari sisi lokasi, Curug Sodong jauh lebih tertata dibanding Curug Awang. Jalan masuknya beraspal mulus. Tempat parkir tertata rapi. Pengunjung juga lebih banyak di sini. Berita baiknya, Curug Sodong alias Curug Kembar bisa kita pandangi bahkan dari tempat parkir.

Sekitar setengah jam dari Curug Awang ke Curug Sodong

Mengapa Curug Sodong disebut juga Curug Kembar tak perlu dijelaskan lagi rasanya. Gambar sudah mewakili segalanya. Lokasi tepatnya Curug Sodong adalah di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Sukabumi, Jawa Barat. Ketinggian air terjun ini sekitar 20 meter.

Di bagian atasnya, dari kejauhan tampak air tejun lagi. Namanya Curug Cikanteh. Ada beberapa pemandu yang menawarkan mengantar trekking ke sana. Tapi kami tak punya waktu banyak. Badan juga sudah capek sisa-sisa perjalanan camping. Belum lagi hari itu juga harus nyetir lagi kembali ke Jakarta.

Bersantai sejenak sambil memandangi Curug Sodong sungguh bikin tentram. Enak banget kalau bisa piknik di tepi air terjunnya. Sayang area sekitar kolam curug agak kotor. Beberapa sudut terlihat sampah. Budaya pengunjung tempat wisata di negeri ini masih agak nyebelin kadang-kadang.

Curug Cikanteh di kejauhan

Selain dikenal juga sebagai Curug Kembar, Curug Sodong juga biasa dijuluki sebagai Curug Pengantin. Itu karena air terjun yang mengalir berpasangan layaknya pengantin. Berbagai cerita mistis juga mewarnai Curug Sodong. Katanya dulu tempat ini sering didatangi oleh orang-orang yang ingin menimba ilmu kanuragan.

Pilih kanan atau kiri?

Pada bagian tengah kolam Curug Sodong dilarang berenang. Aliran air dari atas terlalu deras sehingga membuat kolam menjadi tempat yang berbahaya. Waktu kami ke sana, Curug ini jadi jalur trasportasi kayu gelondongan. Gelondongan kayu yang ditebang di bagian hulu dialirkan lewat sungai dan jatuh di kolam air terjun ini. Para pengangkut tinggal mengumpulkannya di bawah. Kok bisa ada penebangan kayu hutan? Legal atau ilegal, saya juga penasaran. Tapi yang jelas ada cukup banyak gelondongan kayu yang dijatuhkan dari atas. Semoga ini bukan penebangan liar yang bikin hutan di atas jadi gundul. Sedih membayangkannya.

Pengangkut kayu gelondongan yang dijatuhkan dari air terjun

Saat kami pulang, di area parkir banyak penjual mangga. Baru panen katanya. Kami beli beberapa kilogram mangga untuk oleh-oleh. Kalau mangga, Lana dan Keano suka rebutan makannya.

Masuk kawasan curug ini cuma bayar Rp 3.000 perorang. Biaya parkir Rp 5.000 untuk mobil dan Rp 3.000 untuk motor. Dibandingkan dengan di Curug Awang, di sini cukup banyak pedagang yang berjualan. Mungkin karena lokasinya yang lebih dekat dengan pusat keramaian, sementara Curug Awang agak terpencil di tempat sepi.

Curug Cimarinjung

Curug Cimarinjung adalah curug terakhir yang kami kunjungi di Ciletuh. Hari sudah agak sore, langit juga mendung. Jalan menuju lokasi cukup mulus. Parkiran luas. Curug Cimarinjung juga lebih tertata dibanding Curug Awang. Warung yang ada di tempat ini malah lebih banyak dibandingkan dengan Curug Sodong. Dari lokasi parkir menuju air terjun melintasi jalan setapak yang sudah dibeton. Jaraknya sekitar 200 meter kira-kira. Jalannya rapi dan bersih.

Tiba di ujung jalan setapak, terhampar pemandangan yang bikin takjub. Macam surga tersembunyi di tengah hutan. Susunan bebatuannya keliatan artistik banget. Kalau ada yang kurang adalah airnya yang berwarna kecoklatan. Sepertinya di hulu tengah hujan. sementara di Curug Cimarinjung gerimis tipis-tipis. Ini yang menyebabkan air terjun tidak berwarna jernih.

Ketinggian Curug Cimarinjung sekitar 50 meter dari bawah. Lokasi tepatnya berada di Kampung Cimarinjung, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Sukabumi, Jawa Barat. Sumber airnya adalah aliran Sungai Cimarinjung yang bermuara ke Teluk Ciletuh.

Curug Cimarinjung bisa ditempuh sekitar 20 menitan berkendara dari Curug Sodong. Banyak yang bilang, kalau ke sini berasa masuk ke lokasi film Jurrasic Park. Kalau dilihat-lihat, iya juga sih. Pada tinggi memang fantasinya orang-orang. Kalau geopark itu mengandalkan kekayaan geologi, ya benar adanya. Keren banget deh struktur bebatuan di sini. Aura-aura zaman purba terasa di mana-mana.

Senang sekali bisa berada di Curug Cimarinjung. Cuaca mendung dengan langit pucat saja masih keliatan cakepnya. Gimana kalau langit lagi cerah dan airnya gak berwarna coklat coba.

Masuk ke Curug Cimarinjung bayar tiket Rp 3000. Parkir mobil Rp 5.000 sementara parkir motor Rp 3.000. Hari yang semakin sore membuat kami tak bisa berlama-lama di Curug Cimarinjung. Pengunjung lain juga nyaris sudah tak ada. Bergegas pulang kami segera. Beneran gak kapok datang ke Geopark Ciletuh Sukabumi, tempatnya curug juara dan keren-keren.

Menuju Geopark Ciletuh

Jalan menuju Ciletuh berkelok melintasi bukit

Geopark Ciletuh sendiri bisa dicapai dari kota Sukabumi dengan waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan. Jalannya sudah beraspal mulus. Namun saat menjelang kawasan geopark jalurnya cukup bikin deg-degan. Berkelok-kelok, melintasi tanjakan dan turunan curam, menembus kawasan perbukitan yang sepi banget. Kanan kiri kebanyakan lahan kosong dan nyaris tak ada rumah penduduk. Saran kami jangan jalan malam hari. Repot kalau mesin mobil kenapa-napa susah cari bantuan.

Pengalaman kami, jalan malam bikin adrenalin naik turun. Apalagi sinyal ponsel juga kadang ada tapi lebih banyak nggak adanya. Tanda-tanda kehidupan baru muncul di Puncak Darma. Ini salah satu dataran tertinggi di kawasan Geopark Ciletuh. Ketinggiannya 230 meter di atas permukaan laut, terletak di Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Sukabumi. Puncak Darma macam Puncak Pass, banyak orang menghabiskan malam menikmati pemandangan dari ketinggian di tempat ini.

Sekian cerita perjalanan kami di Geopark Ciletuh Sukabumi, tempatnya curug juara dan keren-keren. Masih ada beberapa tempat lain yang menarik di Ciletuh, bakal kami ceritakan di postingan berikutnya. Kunjungi juga channel youtube ajakanak di mana kami mendokumentasikan perjalanan dalam bentuk video. Happy traveling, selamat jalan-jalan.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here