Cara Naik Bandros di Bandung

8
489

Bandros udah ada sejak tahun 2014 di Bandung. Bandung Tour on The Bus, begitu kepanjangannya. Keliling tempat-tempat menarik untuk berwisata di Bandung bisa naik bus ini. Tapi, sejumlah teman dan kenalan mengeluhkan susah bener mau naik Bandros karena antrenya panjang. Terutama kalau mau naik dari Alun-alun Bandung. Nah kebetulan pekan terakhir Januari 2020, kami mencoba naik Bandros. Hari Sabtu 25 Januari tepatnya. Ternyata gak susah naiknya dan gak antre banget. Mungkin kami memang sedang beruntung. Tapi, kalau mau cepat naik Bandros, mungkin juga cara kami bisa dicoba.

Shelter buat naik Bandros dari depan Museum Geologi
Persiapan naik Bandros

Pertama, naiknya jangan dari Alun-alun. Di Alun-alun saingannya banyak. Kami naik dari seberang Museum Geologi, sebelah Taman Lansia yang sejajar dengan Gedung Sate. Kedua, naiknya kalau bisa agak pagi. Semakin siang peminat Bandros semakin banyak. Bandros sendiri beroperasi dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Naik Bandros juga nggak gratis ya sodara-sodara. Bayar perorang 20 ribu rupiah termasuk anak kecil berusia dua tahun ke atas. Bayarnya di atas bus. Nanti kondektur akan kasih tiketnya. Bandros melayani penumpang setiap hari termasuk hari libur dan tanggal merah. Pas kami naik kebetulan bertepatan juga dengan hari raya Imlek.

Tiket Bandros seharga Rp 20.000
Suasana di atas Bandros

Update Januari 2020, gak ada lagi tiket terusan Bandros karena rutenya juga masih dalam tahap pembahasan. Begitulah informasi dari Teteh Petugas yang kami temui di seberang Museum Geologi. Rute yang tersedia hanyalah dari Museum Geologi menuju Alun-alun lalu kembali ke Museum Geologi, ataupun bisa juga naik dari Alun-alun. Jadi gak tergantung warna busnya lagi. Mau warna pink, ungu, putih dan warna lainnya, hanya melayani rute antara kedua tempat tersebut. Lalu ketentuannya, kalau kita naik dari Museum Geologi turunnya juga nanti di tempat yang sama. Begitu juga Bandros dari Alun-alun, turunnya ya di Alun-alun lagi. Setidaknya begitu informasi yang saya dapat dari Teteh Petugas yang jaga di shelter. Entah sampai kapan ketentuan ini berlakunya, si Teteh juga belum tau.

Pemandu wisata di atas Bandros yang ceritanya asik didengerin

Selanjutnya saya mau cerita pengalaman naik Bandros dari Museum Geologi bersama Lana dan Keano. Ini lebih sebab berdasarkan pengalaman sendiri, jadi pastinya lebih tahu. Bolak-balik ke Bandung baru kali ini akhirnya kesampean naik Bandros. Agak telat sih, tapi dari pada gak pernah coba kan penasaran. Ada banyak manfaat yang kita dapat dengan naik Bandros ini. Diantaranya adalah, banyak info menarik yang baru kami tau dari pemandu wisata di atas Bandros. Ini memang fasilitas yang disediakan untuk penumpang. Pemandu wisata melalui pengeras suara akan bercerita tentang tempat-tempat yang dilewati. Mulai dari sejarahnya, sampai urban legend warga Bandung. Waktu kami naik, pemandu kami menunjukkan rumah kentang, yaitu rumah yang dikenal berhantu oleh warga Bandung. Pemandu juga menunjukkan SMA 20 yang menjadi lokasi syuting film Dilan.

Pocong kurang kerjaan
Pocong kurang kerjaan jilid 2

Lintasan yang paling seru sih tetap di sekitaran Alun-alun, di mana banyak seniman jalanan berkostum mulai dari Hulk, Iron Man, sampai pocong yang kurang kerjaan ikutan naik Bandros. Semoga ini beneran bukan pocong asli. Saya ngeliat pocong jadi-jadian aja males, apalagi ketemu yang asli hiiii…ogah banget.

Halte Banceuy

Dari Alun-alun, Bandros melaju melewati jalan Banceuy. Sang pemandu cerita dong asal muasal kenapa tempat ini dinamakan demikian. Katanya dulu ada istal kuda di sini. Pas banget seberangan sama halte Banceuy sekarang. Nah, buat memandikan kuda airnya diambil dari sungai yang lumayanlah kalau jalan kaki. Air itu kan dalam bahasa Sunda disebut “cai”. Minta tolonglah para perawat kuda itu: “Bantuan cai euy.. bantuan cai euy” yang artinya kira-kira bantuin air atau bantuin mengambilkan air. Kata “bantuan cai euy” itu yang lama-lama menjadi Banceuy. Ini sih kata pemandunya ya. Gak tau deh bener apa nggak sejarahnya

Lokasi yang disebut dulunya sebagai istal kuda

Di jalan Banceuy, penumpang bus juga ditunjukkan situs penjara yang dulu pernah digunakan untuk menahan Presiden Pertama RI Soekarno. Tahun 1929, karena aktivitas politiknya Soekarno ditangkap pemerintah Belanda dan dipenjara di sini. Situs penjara Banceuy nyelip di antara ruko. Dari bus keliatan patung Soekarno sedang duduk sambil membaca buku.

Penjara Banceuy tempat Presiden Pertama RI Soekarno pernah ditahan penjajah Belanda. Patung yang terlihat dari bus adalah patung Soekarno sedang membaca buku.

Lepas Banceuy, bus melalui Jalan Braga. Gak perlu cerita lagi ya kayaknya. Braga itu udah terkenal asik banget dipandangi deretan gedung tuanya. Kalau jalanannya sih rame dan macet pastinya. Makanya kalau di Braga lebih enak jalan kaki.

Bandros melintasi Jalan Braga

Lanjut perjalanan Bandros setelah melewati Viaduct, Balai Kota, lalu ke Dago, kembali deh ke Jalan Diponegoro, seberang Museum Geologi lagi. Perjalanan sekitar 45 menit sampai satu jamlah kira-kira. Buat saya yang bukan orang Bandung, naik Bandros ini bener-bener dapat pengetahuan baru. Mungkin bakal lebih keren kalau bisa naik rute yang lain lagi.

Akhir perjalanan Bandros, kembali ke Jalan Diponegoro depan Museum Geologi.

8 COMMENTS

  1. Hahahahah itu pocong aku ngebayangin kalo anakku ngeliat mba. Bisa histeris kaliii :p.dia takut banget Ama begituan. Tp jd penasaran aku pgn liat para orang2 berkostum ini berkeliaran di jalanan Bandung :D. Kapan2 pgn k sana lagi ah

    • Hehehe… aku aja males liat pocong jadi-jadian gitu. Tapi pocongnya memang cari perhatian jalan-jalan terus. Kadang dia naik nemplok juga ke Bandros. Tapi seruu..

    • Hahaha.. belum tentu juga sih mbak. Soalnya si pocong itu temennya Iron man dan Hulk di Alun-alun. Kalau liat sendirian di tempat sepi baru merinding disko hihihi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here