Camping with Kids: Trekking Gunung Halimun, di Citalahab Cikaniki

8
130

Berawal dari mencari lokasi camping yang belum pernah dicobain, plus penasaran sama foto-foto Halimun, akhir November 2018 kami memutuskan untuk mengunjungi Taman Nasional Gunung Salak Halimun.

Ada dua jalur menuju Halimun, lewat Bogor dan satu lagi via Sukabumi. Kami masuk ke wilayah ini lewat Bogor, lewat jalur Leuwiliang, karena menurut beberapa referensi, jalur mobilnya lebih bersahabat. Meski begitu, kami gak merekomendasikan mobil sedan untuk masuk. Mobil jenis minibus kayak Avanza atau Xenia yang bodynya agak tinggi cukup amanlah. Apalagi kalau bawa kendaraan jenis jeep, ya tambah asoy. Soalnya memasuki area Taman Nasional, gak semua jalan beraspal. Ada yang berbatu, atau jalan tanah saja, ada tanjakan atau turunan curam. Daripada nangis bawa sedan, mending sewa angkot kalau mau masuk ke dalam lebih aman.

Dari arah Bogor menuju Halimun Salak ambil rute Dermaga IPB, ikuti jalan sampai Ciampea, lurus menuju Leuwiliang ke arah Jasinga. Gak lama setelah lewat Leuwiliang, sebelum Jasinga ambil jalan ke kiri di persimpangan yang ada tugu kujangnya. Kujang mini, lebih kecil dari pada tugu kujang di kota Bogor. Pengalaman pakai Google Maps cukup efektif (ada salahnya sih dikit hehehe) menunjukan jalan. Point yang dituju bisa ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Citalahab, atau Research Station Cikaniki.

Terasering sawah desa Malasari

Dari Depok, perjalanan ke lokasi sekitar empat sampai lima jam barulah sampai. Bukit-bukit yang dihiasi terasering sawah jadi pemandangan ketika kita sampai di gerbang masuk taman nasional. Di sini sudah ada kelompok sadar wisata. Yang mengelola anak muda setempat. Ada juga posko informasi wisatawan. Kita bisa tanya-tanya gratis. Gerbang masuk berada di desa wisata Malasari, Kecamatan Nanggung, Kab Bogor, Jawa Barat. Masuk area kita diminta bayar tiket masuk desa wisata lima ribu rupiah, plus tiket masuk taman nasional tujuh ribu lima ratus rupiah. Total Rp. 12.500,- per orang.

Gerbang masuk kawasan Taman Nasional Gunung Halimun, Desa Malasari
Tempat informasi wisata desa Malasari, depan gerbang pintu masuk kawasan.
Map spot wisata desa Malasari

Ada banyak spot yang bisa dikunjungi di area taman nasional dan sekitarnya. Di desa, kita bisa lihat kebun mawar Nirmala Rose, pembuatan gula aren atau aksi numbuk padi warga lokal. Tapi waktu ke sana, kita gak ikutan yang ini. Soalnya pas sampe gerbang taman nasional temperatur mobil tinggi banget sampai air radiator mendidih dan berasap. Mungkin mesin terlalu diforsir ngelewati jalan yang lumayan nguras tenaga, plus gas rem di tanjakan dan turunan yang tak berkesudahan.

Fyi, kami kayaknya salah rute ke sana. Google Maps kan selalu ngitung jarak terpendek. Dia gak itung tuh jalur tanjakan dan turunan yang bikin jantung kebat kebit. Plus kondisi jalan yang batu-batunya ampun dah. Jadi nanti kalau mau ke sini, pas sudah di daerah Nanggung, cek dan ricek ya ada berapa jalur yang ditunjukin sama maps. Soalnya jalan yang kami ambil bener-bener ‘menantang’, rada-rada offroad. Agak-agak mirip jalur ke Cipta Gelar. Aspal rusak, batu-batu di mana-mana. Ada beberapa tanjakan, turunan, dan belokan curam. Eeeeh.. pas sampe gerbang ternyata jalan yang diambil dari rute yang berlawanan mulus banget beraspal. Jalan itu ternyata yang diambil sebagai jalan resmi sama pengunjung kebanyakan. Untung si mobil meriangnya pas sudah sampe gerbang. Jadi bisa istirahat dulu sambil tanya-tanya anak nongkrong di sana soal lokasi.

Terasering, gak jauh dari gerbang masuk kawasan
Kawasan ini jadi tempat latihan Brimob juga

Dari gerbang masuk dan tempat bayar tiket, perjalanan masih berlanjut sampai ke lokasi camping. Jalan berbatu tapi cukup rapi. Melewati plang selamat datang di daerah latihan tempur Brimob. Yup, daerah hutan ini memang sering dipake buat latihan pasukan elit polisi. Tapi selow aja, kalau ada latihan, biasanya ada petugas yang jaga daerah-daerah yang gak boleh dimasukin pengunjung yang tujuannya jalan-jalan kayak kita.

Gak lama setelah itu, kita masuk jalur kebun teh. Pemandangan dan cuaca jadi lebih bersahabat. Seger dengan hijaunya kebun teh. Lewatin pabrik teh juga. Lihat-lihat dikit sambil lewat. Mau berhenti, tanggung, ngejar ke Cikaniki dulu buat cek lokasi tempat kemping.

Asiknya lewati jalur perkebunan teh
Istirahat dulu di resort, Cikaniki Research Station

Target tujuan pertama adalah Cikaniki Research Station. Tempat ini jadi tempat nginepnya para peneliti flora dan fauna di taman nasional. Dari gerbang selamat datang tadi, kira-kira setengah jam berkendara baru sampe. Sebenarnya dekat, tapi karena jalanannya berbatu, jadi gak bisa laju. Kalau lihat google maps, ini lokasi terujung di mana jalan yang bisa dilalui mobil berakhir di titik ini. (Padahal sebenarnya, dari Cikaniki Research Station, kalau terus masih ada jalan ke arah Sukabumi. Pulang dari Halimun, kami lewati jalur ini menuju Sukabumi-Cikidang-Palabuhan Ratu-Ciletuh.)

Kalau lagi kosong, pengunjung boleh nginep di resort Cikaniki ini. Bayar pastinya. Kata bapak yang jaga, sekitar 250 ribu rupiah semalam. Tapi karena niat kami mau nenda, ya cuma lihat-lihat saja jadinya, plus minta izin masuk ke canopy trail. Masuk canopy trail ada biaya pemeliharaan 25 ribu rupiah, berlaku buat orang dewasa saja. Anak kecil macam Lana dan Keano gratis, alhamdulillah.

Canopy Trail

Nah, ini bagian yang memang bikin penasaran dari awal sebelum kita ke sini. Cobain naik jembatan gantung yang terbentang di antara puncak pepohonan.

Canopy trail, gak jauh dari resort / cikaniki research station

Kita mesti lewat menara tangga dulu, baru bisa menginjakkan kaki di canopy trail. Awalnya canopy trail dibangun untuk memudahkan peneliti mengamati satwa hutan. Yang utama di sini adalah habitat Owa Jawa. Owa biasanya ada di pucuk-pucuk pohon yang tinggi, senengnya gelantungan dan pindah dari cabang ke cabang pohon dengan santai. Gak rusuh kayak lutung misalnya yang gara-gara pecicilan suka jatuh dari dahan yang tinggi. Saya, suami dan anak-anak jadi saksi rusuhnya lutung ini, sampe dia jatuh dari pohon tinggi ke dahan yang jauh lebih rendah di bawah. Dan karena kayaknya si lutung udah biasa jatuh, sampe bawah dia langsung loncat lagi kabur gelantungan dari dahan ke dahan.

Awalnya, deg-degan naik canopy trail. Tapi gak lama ya terbiasa. Gak seserem yang kita bayangin sebelumnya. Saya gak takut ketinggian. Tapi saya takut Keano atau Lana jalan terlalu kepinggir jembatan dan kepeleset. Duuh.. ini naluri emak-emak emang. Bentar-bentar teriak hati-hati dan ngomelin bocah biar jalan gak terlalu ke pinggir hehehehe…Cuma ya ini anak-anak emang gak ada urat takutnya. Kalau nggak dilarang malah maunya lari-lari di canopy trail. Untung larangan lari-lari atau loncat-loncat di jembatan jelas kebaca di plang di bawah. Anak-anak setidaknya behave dikitlah. Paling colongan lari kecil dan langsung disambut mulut cerewet si mamak yang membuat mereka berjalan kalem kembali.

Ada dua bentangan canopy trail yang bisa dilalui. Masing-masing bentangnya sekitar 100 meter. Gak lama juga di canopy trail, karena lokasi ya memang cuma di situ-situ aja. Mumpung hari masih terang, anak-anak ngajak ke air terjun.

Curug Macan

Menuju Curug Macan cukup jalan kaki dari station research Cikaniki. Jaraknya sekitar 500 meterlah, sebagian besar lewat jalan setapak. Jalurnya bersahabat, aman buat si kecil blusukan dan yang paling penting gak nguras tenaga.

Curug Macan

Kami ke sini pas lagi sepi pengunjung. Malah enak sih, jadi bisa lebih leluasa. Ada gazebo kecil yang bisa dipakai buat istirahat dan naruh tas sementara. Lana dan Keano, tau sendiri kalau lihat air pastinya langsung mau nyebur.

Airnya dingin, bersih, seger…

Air terjunnya nggak tinggi, tapi main di sungainya bikin anak-anak betah. Arus mengalir cukup deras di sungai yang dangkal membelah bebatuan. Dan karena sepi, ya bebaslah mau main ke bagian mana saja.

Meluncur di antara bebatuan

Kami bawa bekal makan siang dari rumah. Habis main air, bisa dong makan dulu di gazebo. Meskipun abis makan anak-anak tetap mau main air lagi. Cuma memang gak bisa lama-lama. Hari semakin gelap. Jangan sampai kita kemaleman dan belum dapat tempat buat ngediriin tenda.

Habis main air, enaknya makan. Di gazebo depan curug Macan

Sebenarnya ada curug lagi di daerah Halimun ini, yaitu Curug Batu Ngampar. Katanya lebih bagus, lebih enak buat main air. Cuma karena lokasinya sudah telanjur kelewat, dekat Desa Malasari, curug Macan saja sudah cukup lah.

Camping di Citalahab

Kampung Citalahab jadi tujuan kami menghabiskan malam di kaki Gunung Halimun. Ini semacam kampung wisata. Rumah-rumah di sini sudah biasa dibuat nginep pengunjung. Macam homestay gitulah. Tarifnya mulai dari 100 sampai 200 ribuan rupiah perkamar. Kampungnya bersih, orangnya ramah-ramah. Cuma kami tetap pilih mau tidur di tenda saja biar berasa suasana pindah tidurnya.

Ada dua lokasi nenda di sini. Pertama, bumi perkemahan milik taman nasional. Yang kedua, camping ground milik warga, buatan swadaya warga. Kedua spot kemping itu berdekatan, atau nempel sebelahan. Kami pilih yang kedua karena lebih dekat dengan sungai. Dan juga lebih bersih dan terawat areanya.

Lokasi camping, dari Stasiun Riset Cikaniki sekitar lima menitan pake mobil. Dari parkiran Citalahab, jalan melewati kampung, sekitar 200 meter. Masuk Citalahab, kami disambut Pak Suryana, yang juga koordinator wisata kampung Citalahab. Mobil diarahin parkir di salah satu halaman rumah/homestay. Nurunin barang dibantu sama pak Suryana. Begitu juga diriin tenda. Kalau gak bawa tenda sendiri, bisa sewa. Cuma sewanya di pos gerbang masuk awal tadi. Karena semua perlengkapan di pool di sana katanya.

Untuk nenda, kita bayar ke warga 25 ribu rupiah pertenda. Biaya parkir 15 ribu rupiah sehari semalam. Dan waktu itu.. ada insiden kompor kami ketinggalan di rumah dan baru ngeh pas masuk kawasan taman nasional. Duuuuh… padahal bawa logistik mentah lumayan banyak. Untungnya, dipinjemin kompor gas dong sama warga. Pake tabung melon 3 kg. Gak perlu bayar sewa, cukup gantiin harga beli gas katanya. Cakeeep deh.

Camping di pinggir hutan, pinggir sungai

Camping ground ini lokasinya tepat di pinggir hutan, di antara kampung dan hutan. Dibatasi sungai kecil. Jadi dari kampung, kalau mau ke area kemping, harus lewati jembatan bambu dulu.

Lokasi nenda cukup bersih. Kalau mau MCK bisa ke toilet umum yang disediakan warga. Toiletnya bersiiiiiiih banget. Airnya juga mengalir banyak. Gak nyangka di kampung ada toilet umum bersih.
Tapi meski bersih gitu, anak-anak tetap saja lebih suka mandi di sungai hahaha..

Malam di Citalahab kami habiskan dengan makan yang banyak. Anak-anak sih seneng banget, karena camping itu jadi waktunya mereka untuk boleh makan mi instan, sosis dan naget. Bolehlah yaa sekali-kali hehehe… Udara cukup dingin malam hari. Tapi karena musim hujan, dinginnya gak seberapa katanya. Di musim panas udara malam lebih menusuk tulang lagi.

Sekitar jam delapan malam, kami keluar Citalahab lagi pakai mobil ke Cikaniki. Tujuannya, mencari jamur bercahaya (Glowing mushrooms). Penasaran sama si jamur menyala ini. Katanya, lokasinya persis di bawah canopy trail, hanya bisa dilihat malam hari, di musim hujan. Pas lah kami pikir waktunya. Lagian sudah tahu juga lokasinya, jadi kami pede jalan sendiri tanpa guide dari Citalahab.

Sampai Cikaniki, bapak penjaga resort juga gak ada. Sepi, bener-bener gak ada orang. Kami masuk ke hutan ke arah canopy trail, berbekal satu senter dan lampu dari hp. Sampai canopy trail, anak-anak malah mepet-mepet. Ternyata takut sepi dan gelap juga hehe… Masih penasaran, coba cari-cari jamur nyala sekitaran canopy trail. Semua lampu dimatiin sampai gelap banget, tapi gak lihat juga si jamur. Berhubung suasana hati dan kepala sudah kurang kondusif, dan jarak badan sudah semakin mepet hehe, akhirnya balik kanan saja ke mobil. Misi cari jamur bercahaya pun gagal.

Sunrise yang tertutup awan dan kabut
Pagi di atas kasur, di dalam tenda, di ACin Halimun. Nikmat mana yang kau dustakan hehe
Halimunnya Gunung Halimun

Udara yang sejuk, perut kenyang, membuat tidur juga nyenyak dan bikin males bangun pagi. Niatnya sih pengen liat sunrise, tapi kasur angin di dalam tenda lebih menggoda hehehe.. jadilah cuma pak suami yang pergi liat-liat kebun teh sebelum matahari bergerak tinggi.

Halimun (kabut tipis) di Halimun memang juara. Seneng saja lihat kabut melintas menembus rindangnya pepohonan. Sayang, sunrisenya gak maksimal. ketutup mendung. Tapi, pemandangan kebun teh dan kampung Citalahab di pagi hari, lumayan sudah bikin seger mata.

Kolaborasi halimun, kebun teh, dan hutan… Asoyy..

Pagi di Citalahab berjalan santai. Gak ada yang buru-buru dikejar. Keano masih sempet main bola, Lana bantuin masak karena gak sabar pengen makan.

Pemanasan dulu biar gak kaku

Kami bawa dua tenda. Satu untuk tidur berempat, satu lagi untuk tempat barang. Tenda cadangan buat barang berguna banget apalagi di musim hujan. Anak-anak yang badannya semakin besar, membuat tenda sesak banget kalau kita kumpul di dalamnya plus barang-barang hehe..

Nyiapin sarapan pagi

Menu pagi, mi instan pake baso. Dimakannya pake nasi dikit hahaha… Ayam tepung yang sudah disiapin untuk dibawa, ketinggalan juga dirumah. Yang kebawa malah dua kantong naget. Jadinya menu gak banyak variasi selain sosis, naget dan mie. Kalau camping gini enaknya sih bawa sawi hijau yang awet gak cepat layu dibawa ke mana-mana, dan wortel yang udah dipotong-potong. Minimal biarpun cuma dimasak pakai rebusan air dan sedikit garam, perut dikasih sayuran biar pencernaan lancar. Tapi karena persiapan mepet, gak ada sayur dan juga telur yang biasa kami bawa ketika camping.

Camping ground swadaya warga
Bumi perkemahan milik Taman Nasional

Camping ground di Citalahab ini lumayan luas. Selain tanah rumput lapang pinggir sungai yang kami tempati, di atasnya ada dua undakan lagi tanah lapang buat kemping juga. Nah di undakan atasnya lagi, dekat sawah, ada tanah lapang buat area kemping; bumi perkemahan milik taman nasional. Cuma sepertinya, tempat itu bukan lagi pilihan utama buat kemping.

Citalahab Central (Kampung Citalahab)

Saya nggak tahu dan nyesel juga waktu ke sana gak tanya kenapa kampung Citalahab disebut Citalahab Central. Di peta juga adanya Citalahab Central yang mewakili titik di mana kampung Citalahab berada. Tapi yang jelas di sini asiklah. Buat yang gak punya kampung kayak saya, bisa ngerasain suasana mudik dengan tinggal di kampung ini.

Kampung Citalahab dari arah kebun teh
Aula dan home stay milik warga. Parkir mobil di sini saja
Informasi home stay, dan peta kampung
Analisa sotoy saya, Citalahab disebut central karena dia menjadi pusat informasi sebagian besar wisatawan yang datang kemari. Listrik ada, colokan buat ngecharge bisa nebeng di rumah penduduk atau di aula. Warung juga ada sih. Harga barang-barang di sini lebih mahal. Satu botol air mineral ukuran 1 liter dijual 10 ribu. Tapi ya wajarlah. Datenginnya juga jauh. Ongkosnya mahal.

Kampung ini kalau diumpamakan kayak kampung terpencil di kaki gunung, dilingkari perbukitan. Jauh dari permukiman lainnya. Penduduknya cuma sekitar 50 KK. Rata-rata orang kampung ngandelin motor kalau mau keluar. Gak ada angkot yang masuk, kecuali mobil pick up buat anter barang, atau punya perkebunan teh. Warganya sebagian besar bertani, ada juga sebagian buruh musiman kebun teh. Rumahnya rata-rata rumah panggung, untuk menghindari dingin katanya. Lantai kayu memang membuat suasana menjadi lebih hangat.

Masjid kampung Citalahab
Warung di pintu masuk kampung

Penghasilan lain penduduk kampung ini ya dari wisata. Kampung Citalahab dan desa Malasari ini memang sudah jadi desa wisata. Makanya kebersihan dijaga banget, semua rumah dikondisikan siap menerima tamu. Ada banyak juga perusahaan yang bikin gathering di sini. Cuma memang gak bisa bus besar masuk. Paling bawa rombongan pakai elf ukuran tanggung.

Home stay dan toiletnya bersih semua

Trekking Gunung Halimun

Habis sarapan dan anak-anak mandi di sungai, jadwal selanjutnya adalah trekking. Trekking masuk hutan, memang jadi menu andalan Halimun. Untuk trekking ini kami ditemani guide warga. Tarif guide seratus ribu sehari per rombongan. Jadi kalau rombongannya banyak lebih enak karena patungannya lebih murah hehehehe..

Karena bawa anak, kami pilih jalur yang pendek buat trekking. Di sini, bisa pilih jalur menengah atau jalur panjang yang lebih jauh lagi.

Jalur trekking melintasi hutan gunung Halimun. Masuk di kawasan Gunung Kendeng-Halimun Selatan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Rutenya kalau kita ngajak anak relatif aman, tanjakan dan turunannya masih dalam batas bisa ditempuh si kecil. Jangan lupa bawa bekal minum dan makanan kecil. Karena di dalam sana nggak ada tukang dagangan asongan kayak di jalur pendakian Semeru ataupun di Gunung Gede hehehe..

Saya seneng banget bisa ngajak anak ke hutan. Mereka bisa dapat pengalaman mahal. Coba saja bayangin, di jaman sekarang ini lebih gampang kita ketemu mall dibanding deretan pohon yang menjulang, bau tanah basah, udara yang bikin seger paru-paru dan bonusnya bisa ngeliat satwa liar yang gak hidup di dalam kandang.
Berjalan di antara rapatnya tumbuhan, buat anak-anak sekarang adalah kesempatan langka. Mereka terbiasa main gadget, ke mana-mana naik kendaraan, tidurpun di kamar berAC, tumbuh di tengah padatnya permukiman urban, semua ini membuat mereka kurang kenal bagaimana alam sesungguhnya sebelum manusia menjajahnya dengan bangunan. Dan ini saatnya membuat mereka paham, bahwa dunia ini gak cuma seluas tempat mereka tinggal. Apa yang mereka lihat sehari-hari hanya sebagian kecil dari kehidupan yang kelak akan mereka hadapi. Ah udah ah.. lanjut ke cerita jalan-jalan aja. Jadi berat gini bahasannya hehehe..
Owa Jawa
Nyari owa, lutung, elang jawa

Yang  paling seru dari trekking kali ini bisa ketemu Owa Jawa yang ngeliatin balik begitu kita liatin. Dan kayak tau mau difoto dia gelantungan menghadap kamera dengan gerakan yang halus. Juga ada beberapa lutung, yang lincah lompat-lompat di pepohonan.

Selain owa jawa, Halimun ini terkenal juga sebagai habitatnya macan tutul dan elang jawa. Kami melihat beberapa elang jawa terbang seliweran di atas pohon. Malah ada yang terbang ke bawah nyambar makanan di pohon. Kalau macan tutul, kata guidenya gak ada di dekat-dekat perkampungan orang. Selalu menghindar sekitar 2-3 kilo meter dari perkampungan, katanya.

Nyoba tanaman hutan yang asem
Daun yang katanya bisa bikin gatal perih
Jamur kayu, mirip kayu

Guide kita, Pak Nana juga ngenalin tumbuhan hutan yang ‘berbahaya’ dan yang bisa dimakan. Ada semacam perdu gitu yang kalau dimakan batangnya berasa kayak belimbing wuluh. Asem dan segar. Pak Nana juga cerita si batang ini suka dibikin rujak sama orang kampung. Lana sama Keano nyobain, sampai keaseman. Tapi nagih pengen nyoba terus.

Anak-anak juga cobain minum langsung air sungai yang mengalir jernih dari mata air. Tentu saja kita wanti-wanti gak semua air sungai nanti boleh langsung diminum kayak gini. Sempet ada khawatir sih, namanya juga emak-emak. Tapi pengalaman jaman dulu naik gunung suka gini dan gak kenapa-napa, alhamdulillah berakhir gak kenapa-kenapa juga sama anak-anak dan sampai waktunya pulang juga sehat-sehat aja.

Minum langsung air sungai, segarrr.. (Gak gitu juga kali caranya dek hehe)
Canopy trail

Semua sungai yang kita temuin berair jernih. Tapi kalau udah rada ke bawah ya gak berani juga langsung minum airnya. Apalagi tempat-tempat yang udah biasa didatengin orang. Di tempat gini masih ada saja sih pengunjung yang kurang ajar meninggalkan jejak sampah plastik sembarangan. Kalau ketemu orangnya sungguh pengen saya maki-maki.

Jembatan dari pohon tumbang. Asik juga buat istirahat duduk-duduk

Dari Citalahab, jalur trekking melewati Cikaniki. Biasanya sama guide, diarahin naik ke canopy trail. Tapi berhubung pintu canopy trailnya terkunci, dan kami juga sudah menjajalnya kemarin, jadi lanjut trekking lagi ke arah sungai. Lewat jalur pintas, tanpa melewati resort / research station.

Jembatan pohon ini, asik juga buat foto-foto

Untuk trekking siapkan alas kaki yang siap basah. Saya gak nyaranin pakai sandal. Paling enak pake sepatu kets yang enteng dan kalau basah cepet kering. Sepatu trekking sebenernya yang paling cocok. Tapi karena sepatu trekking saya jebol waktu naik papandayan dan belum beli lagi, saya pake sepatu running aja.

Sungai dan hutannya Halimun, juara..

Hampir dua jam trekking, jalur berakhir di perkebunan teh. Indah sih pemandangannya, tapi sesungguhnya tanjakannya lebih menantang di banding waktu trekking di dalam hutan hehehe… cepet capek dan menguras tenaga. Apalagi mataharinya langsung di atas kepala.

Di ‘puncak’ kebun teh kami istirahat sebentar, sambil lihat-lihat pemandangan sekitar. Sambil istirahat, pak Nana yang memang kerjaannya di pabrik teh, ngejelasin tentang teh. Seperti harga daun teh, upah buruh teh, dan cara memetik daun teh. Juga tentang daun pucuk teh yang layak dan yang paling bagus buat dikonsumsi dan diterima pabrik.

Kebun teh, selalu enak dilihat

Canping di Halimun jadi pengalaman yang lengkap dan menyenangkan. Suasananya dapet, cuaca dan udaranya dapet, juga keramahan penduduknya ok.

Sejauh ini, pengalaman camping di Citalahab, Cikaniki wilayah Taman Nasional Halimun Salak adalah yang paling menantang, terutama tentu saja jalur kendaraan menuju ke sananya. Buat yang demen offroad, asiklah. Recommended buat dicoba.

*****

8 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here