Camping di Pantai Jungwok Gunung Kidul Yogyakarta

4
321

Akhir Juni 2019, kami camping di Pantai Jungwok, Gunung Kidul, Yogyakarta. Sebelum akhirnya ke sana, gak pernah tahu kalau di Indonesia ada yang namanya Pantai Jungwok. Kirain itu semacam lucu-lucuan, pelesetan dari Jung Kook vokalis BTS. Sungguh saya mengira kalau Dek Jungkook diam-diam pernah ke pantai Gunung Kidul, dan cuma orang setempat yang tahu.

Tapi percaya deh, cerita soal Jung Kook ke Gunung Kidul itu cuma dugaan. Kenyataannya, yang namanya Pantai Jungwok seriusan ada di Gunung Kidul. Dan sungguhan ya, ini testimoni asli bukan ala-ala vlogger yang lagi bikin konten endorsan, sunrise di Pantai Jungwok bagus pake banget..

Pantai Jungwok memang belum dikelola optimal. Jalan ke sananya saja masih lumayan susah. Waktu kita ke sana, masih ada sebagian jalan berbatu. Warung ada, mushala ada, tempat bilas juga ada, tapi gak banyak. Sinyal telepon kalau yang pake Indosat bye aja. Sementara yang pakai Telkomsel, kadang di beberapa titik dapat sedikit, selebihnya ambyar. XL ya jangan ditanya. Sudah, jangan ditanya saja pokoknya.

Pantai Jungwok lokasinya juga agak terpencil. Jauh dari permukiman penduduk. Sekelilingnya ladang dan tanah-tanah kosong. Pohon ada, tapi gak rimbun. Tolong dicatat, ini Gunung Kidul. Daratannya lebih banyak diisi batu kayanya dibanding tanah. Jadi kalaupun ada pohon yang tumbuh, itu sudah harus sangat disyukuri.

Terpencil, minim fasilitas, dan masih sepi, justru itu daya tarik Pantai Jungwok. Tentu saja selain aslinya pantai ini juga indah banget. Sebagai bagian dari pantai selatan, ombak pantai Jungwok sangat kuat. Suaranya berdebur-debur, terutama di sore hari. Kalau mau agak tenang dan santai, mandi-mandi sebaiknya pilih di pagi hari.

Kami beruntung jadi peserta Jogja Experience #2. Event ini yang mengenalkan kami pada Si Jungwok. Jogja Experience adalah acara kumpul-kumpul pecinta mobil Land Rover se Indonesia. Yang mengadakan sesuai namanya, komunitas pecinta Landy Yogya, Jogjakarta Land Rover Community (JLRC). Kalau gak ikut event ini, gak bakal deh tahu Jungwok. Jalan ke sininya saja takut nyasar. Karena susah sinyal, Gmaps gak beroperasi maksimal. Bisa dipake tapi offline. Untungnya kita ikut rombongan.

FYi, menuju Pantai Jungwok juga gak ada angkutan umum. Kebanyakan pengunjung datang pakai motor. Buat orang Yogya, kayaknya sih memang lebih suka naik kendaraan roda dua daripada naik angkutan umum. Dari pusat kota Yogyakarta, pantai Jungwok bisa dicapai sekitar 2 jam perjalanan. Lewatin Wonosari, lalu Semanu, terus turun ke arah Selatan. Lokasi persis pantai Jungwok adalah di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sedikit tips bagi yang suka mengandalkan Gmaps (ini kami banget), begitu sudah nembak lokasi dari Kota Yogya atau Wonosari di mana masih ada sinyal, ya sudah simpan petanya. Jangan reload lagi. Takutnya ketika reload di daerah Gunung Kidul, sudah gak ada sinyal lagi, repot nanti cari titiknya. Saat peta offline, selama daerah tujuan sudah di kunci, lokasi kita masih terpantau GPS kok. Jadi bisa mantau sudah berapa jauh jarak kita dari tempat tujuan.

Camping di Pantai Jungwok Gunung Kidul Yogyakarta is recommended. Sayang kan sudah jalan jauh-jauh ke tempat terpencil gini, tapi cuma sebentar mampirnya. Apalagi panorama sunrise di sini kece banget. Jangan sampe ketinggalan deh. Recommended buat kalian pemburu sunrise. Lahan camping luas banget. Tinggal pilih saja mau pas di pinggir pantai, atau naik bukit sedikit. Kalau kami milih deket bukit biar deketan sama parkirnya Landy. Di bawah sudah penuh soalnya. Gak jauh juga kok. Dari tempat kami buka tenda, pantai masih kelihatan.

Kami sampai Jungwok pas jam makan siang. Jadinya anak-anak makan dulu sebelum mereka main ke pantai. Selesai makan, istirahat sebentar baru turun. Tapi seperti saya bilang tadi, ombak pantai di sore hari besar banget. Saya gak berani ngelepas Keano main air. Keano kalau di pantai gak bisa main cuma di pinggir saja. Dia maunya nyebur main ombak. Untuk alasan keamanan, saya gak biarin kali ini. Gak papa anaknya sedih, yang penting dia aman dulu. Besok pagi kalau ombaknya sudah kondusif, baru boleh basah-basahan.

Karena ikut event, malamnya ada acara kumpul-kumpul dan panggung gembira. Tempat ini asik juga rupanya dijadikan lokasi gathering. Ada space buat mendirikan panggung. Persis di pinggir npantai, di atas pasir, depan area warung-warung. Listrik cuma ada di warung-warung kecil setempat. Untuk keperluan panggung, panitia membawa genset sendiri. Makan bareng dan nonton acara hiburan, jadi kegiatan semua peserta malam itu, termasuk kami sekeluarga.

Paginya anak-anak gak sanggup bangun. Tapi saya dan suami sudah niat banget pengen liat matahari terbit. Langsung keluar tenda, ninggalin sebentar anak-anak yang masih tidur. Kami naik sedikit ke atas bukit. Yah sekitar 200 sampai 300 meter lah kira-kira. Dari atas bukit ini, tenda kami keliatan, begitu juga pantai dan laut lepas. Matahari mulai tampak dari kejauhan.

Super banget sih warnanya. Apalagi saat cahaya keemasan matahari menyentuh perairan pantai yang masih tenang. Berpadu pula sama kabut pagi yang masih melayang-layang. Cuma bisa bilang awesome. Terpesona sejenak, lalu gak lupa foto-foto buat kenangan. Banyak pengunjung di atas bukit yang menantikan momen indah ini. Gak berlangsung lama tentunya. Siang dikit, sudah panas banget. Matahari Gunung Kidul memang perkasa.

Selesai menyaksikan sunrise, kembali ke tenda. Lana dan Keano belum bangun juga kalau nggak dibangunin. Saatnya memasak buat makan pagi sekaligus makan siang. Kalau gak mau masak, warung-warung di sini juga menyediakan makanan. Menu standar yang ada pasti mie instan dan nasi goreng. Kalau mau menu lain, sebaiknya begitu kita datang sudah pesan duluan minta dimasakin untuk makan siang, makan malam atau bahkan sarapan.

Kebetulan kami menginap agak ke ujung, di kaki bukit dan jauh dari warung yang cuma banyak di sekitar parkiran. Jadi, memasak sendiri sudah solusi yang cukup bagus untuk menghindari bolak balik jalan kaki ke warung hanya untuk beli makanan.

Seperti janji kami pada Keano sehari sebelumnya, ia boleh main air di pantai pada pagi hari. Syaratnya sudah harus makan dulu. Tugas saya membuat sarapan. Sementara suami bertanggung jawab nanti mengawal Keano basah-basahan. Sementara Lana ikut saya. Selesai makan, mau leyeh-leyeh saja di sekitar tenda.

Sesuai perkiraan, di pagi hari ombak agak tenang. Tenang pula jadinya mengawal Keano mandi di pantai. Pasir di sini warnanya putih kecokelatan. Butirannya juga halus. Di bibir pantai ada semacam gugusan karang. Kalau laut lagi surut, kita bisa melihat ikan-ikan kecil terperangkap di dalamnya. Selepas gugusan karang, ada bukit batu besar yang berdiri menyerupai pulau. Itu namanya Watu Topi, atau batu topi. Orang-orang sini suka ke Watu Topi untuk memancing lobster.

Kami mulai membongkar tenda selepas makan siang. Ini pengalaman ketiga kalinya kami camping di pantai. Yang pertama campingnya di Pantai Sawarna, Banten. Sudah lama banget itu. Selanjutnya di Pulau Pari, Kepulauan Seribu dan kemudian di sini ini.

Camping di Pantai Jungwok Gunung Kidul Yogyakarta sehari semalam meninggalkan pengalaman yang berkesan. Pantai yang masih alami, terpencil, cocok buat kontemplasi. Sunrise di Jungwok akan selalu dirindukan.

Note:

  • Masuk pantai bayar retribusi Rp 5000,-
  • Parkir motor Rp 3000,-
  • Parkit mobil Rp 5000,-

4 COMMENTS

  1. Gunung kidul memang nggak pernah kehabisan pesona, terutama untuk wisata pantai. Kalau sya pernah mengunjungi pantai drini di gunung kidul, tapi untuk pantai jungwook ini belum pernah, btw nama jungwook itu asal usulnya gimana mbak ?

    • Bersumber dari website Desa Jepitu http://www.jepitu-girisubo.desa.id/first/artikel/120-Pantai-Jungwok
      “Pantai Jungwok memiliki latar belakang sejarah yang cukup menarik. Pantai ini dinamai Jungwok karena peristiwa Gunung Manjung yang meletus hanya sekali yakni 400 juta tahun yang lalu. Akibat letusan gunung tersebut, 1/3 bagiannya patah menjadi pulau yang disebut sebagai Pulau Kalong, tak jauh dari Pantai Jungwok. Maka, muncul lah nama Jungwok yakni Jung (Gunung Manjung) dan Wok (Krowok yaitu bahasa Jawa dari patah)”
      Kira-kira begitu mas hehehe… Saya kaget juga ternyata Desa Jepitu tempat Pantai Jungwok ini berada punya website yang cukup bagus.

  2. Aku jd mikir, ini pantai di sepanjang gunkid sebenernya ada brp banyak yaaak :p. Nambaaaah Mulu kayaknya hahahha. Sampe ga inget udah berapa pantai yg aku datangin pas kesana :p.

    Tp memang pantai2 di sana variatif sih. Dari yg cantik ada, yg bosenin jg ada, yg ruameee puoool pun ada :D. Jungwok aku blm datangin. Tp kalo ini sepi, kemungkinan besar aku bakal suka mba. Krn aku ga terlalu suka pantai yg terlalu rame.

    Kayak Indriyanti, aku ga suka tuh. Rame bangettt. Jd pusing liatnya.

    Btw, asik banget camping Deket pantai gini. Seumur2 aku baru sekali ngerasain camping di tepi pantai , pas Pramuka ngadain jurit malam hahahahhaha. Gini-gini aku dulu anak Pramuka, demi ngikutin pacar yg jg Pramuka :p. Asik sih memang, tp aku ga nyangka loh pantai itu ternyata duingiiiin kalo malam :p.

    • Ya ampuun, motivasi ikut pramukanya itu lhoo gak nahan hahaha.. Pantai di Gunung Kidul emang banyak banget sih ya. Waktu ke Jungwok entah berapa pantai terlewati karena Jungwok itu udah agak ke ujung. Sebenernya aku penasaran sama pantai Timang, kan kelewatan juga tuh. Cuma gak sempet mampir-mampir lagi karena waktu yang mepet.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here