Acropolis, Destinasi Favorit Peninggalan Yunani Kuno

0
294

Acropolis menjadi destinasi favorit peninggalan Yunani Kuno. Lokasinya di Athena, ibu kota Yunani. Untuk masuk ke sini, pengunjung bahkan harus rela antre untuk membeli tiket. Acropolis adalah sebuah situs arkeologi. Di tempat ini kita bisa menyaksikan reruntuhan kota tua sisa peradaban kuno Yunani.

Petunjuk harga tiket

Nama Acropolis berasal dari bahasa Yunani. Acro berarti ketinggian atau puncak yang tinggi, sedangkan polis berarti kota. Secara umum Acropolis diartikan sebagai kota di ketinggian atau kota di puncak yang tinggi. Ada beberapa Acropolis tersebar di Yunani. Namun yang paling terkenal adalah Acropolis di Athena. Jadi kalau menyebut Acropolis saja, yang dirujuk umumnya adalah Acropolis yang berada di Athena.

Bukit tempat Acropolis berada
Latar foto bangunan Parthenon di atas bukit

Sesuai dengan namanya, kota di ketinggian, menuju Acropolis tentu saja harus mendaki ke puncak bukit. Dari pintu masuk sebenarnya gak jauh-jauh amat. Mendakinya juga tidak ekstrem. Semacam mengikuti jalur pejalan kaki yang menanjak. Tapi karena kondisi waktu ke sana pas musim panas, dan pas tengah hari pula, perjalanan ke atas sungguh tidak santai. Cepat capek dan haus. Pohon untuk berteduh pun cuma ada satu dua. Sampai di puncak, pohon bertambah langka.

Jadi sekedar masukan, sebaiknya kalau ke Acropolis di musim panas, nunggu agak sore aja. Jam buka-nya juga termasuk panjang kok. Yaitu dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Pengunjung terakhir boleh masuk jam 7.30 malam. Perjalanan santai banget sampai ke reruntuhan atas, butuh waktu sekitar setengah jam. Fyi, di musim panas jam 8 malam itu masih terang kayak jam 4 atau jam 5 sore.

Tiket Masuk

Tiket masuk ke Acropolis adalah sebesar €20/orang. Ada diskon sebesar €10 untuk anak-anak di bawah usia 18 tahun, lansia di atas 65 tahun, serta pendamping penyandang dissabilitas. Diskon €10 juga berlaku di selama musim dingin mulai tanggal 1 November sampai 31 Maret setiap tahunnya. Pembelian tiket online bisa dibeli melalui situs resmi kementerian budaya dan olahraga Yunani.

Antrean pembelian tiket

Theatre of Dionysos

Sebelum mencapai puncak, banyak situs bersejarah yang akan kita lalui. Salah satunya Theatre of Dionysos. Ini adalah tempat pertunjukan musik dan drama dengan akustik yang sangat terencana baik. Theatre of Dionysos sekaligus sebuah penghormatan terhadap Dewa Dionysos. Ia dikenal sebagai dewa kesuburan dan anggur, yang kemudian dianggap sebagai pelindung seni.

Theatre of Dionysos
Kursi yang mamou menampung 17ribu penonton di Theatre of Dionysos

Situs di lereng selatan Acropolis ini telah dikenal sejak ditemukan pada tahun 1700an. Pada pertengahan abad ke-4 sebelum masehi, deretan kursi batu yang mampu menampung sebanyak 17.000 penonton dibangun. Kursi ini dirancang di atas rangka batu yang berundak. Theatre of Dionysus menjadi prototype teater-teater Yunani selanjutnya.

Theatre of Dionysos dari ketinggian

Di situs ini kita bisa bersantai sejenak sebelum melanjutkan perjalanan mendaki. Jika ingin berfoto, lakukan segera. Sebab di perjalanan turun, jalur ini tak akan dilewati lagi. Kecuali memang mau jalan bolak-balik. Tapi percayalah, pulangnya nanti pasti badan akan terasa lelah. Pengennya lebih cepat istirahat dari pada foto-foto lagi.

Trek pendakian menuju Acropolis

The Odeon of Herodes Atticus

Lanjut jalan mendaki, tak berapa jauh dari Theatre of Dionysos bakal bertemu dengan The Odeon of Herodes Atticus. Situs ini berupa struktur teater batu Romawi. Selesai dibangun pada tahun 161 Masehi dan direnovasi pada tahun 1950.

The Odeon of Herodes Atticus
The Odeon of Herodes Atticus di lereng Acropolis
Masih ada stage dan lighting buat pertunjukan

Odeon adalah bangunan kuno di era Yunani Kuno dan Romawi Kuno yang didirikan untuk kegiatan yang berhubungan dengan musik. Sementara Herodes Atticus, ialah nama seorang politisi dan sofis Yunani-Romawi yang menjabat sebagai senator Romawi. Ia juga dikenal sebagai orang kaya yang dermawan. Herodes Atticus membangun odeon untuk mengenang istrinya yang telah meninggal dunia. Hingga saat ini Odeon of Herodes Atticus masih digunakan sebagai lokasi pertunjukan musik, opera, hingga balet.

Propylaea Acropolis

Propylaea merupakan gerbang yang biasanya dibangun untuk memasuki bangunan suci Yunani. Sebelum sampai puncak bukit, kita akan melalui propylaea ini. Pilar-pilarnya menjulang dengan diameter besar. Saya mencoba membayangkan saat ribuan tahun lalu, ketika peradaban kuno Yunani masih berjaya dan bangunan masih utuh. Mungkin ada banyak orang lalu lalang di sini menuju kuil suci di atas bukit. Dan kini, meski tinggal reruntuhan, kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa kemegahan masa lalu tersebut

Propylaea, bangunan gerbang menuju Acropolis
Pilar raksasa Propylaea

Propylaea menurut saya adalah atraksi yang paling menarik di sepanjang jalur menuju Acropolis. Ini karena jalur pejalan kaki dibuat di antara reruntuhan bangunan. Jadi kita bisa sedikit-sedikit merasakan pengalaman berjalan di antara bangunan dengan pilar marmer raksasa. Sebab di atas nanti, bangunan primadona Acropolis yakni Parthenon, hanya bisa dipandangi saja tanpa kita bisa masuk apalagi menyentuhnya.

Parthenon

Seperti yang sempet saya bilang tadi, Parthenon adalah primadona Acropolis. Ia menjadi bangunan paling monumental. Parthenon dibangun pada abad ke-lima sebelum masehi. Kuil ini didedikasikan untuk Dewi Athena, sang pelindung kota Athena. Parthenon tersusun atas 22 ribu ton batuan marmer. Dulunya Parthenon dipenuhi oleh banyak patung termasuk patung Dewi Athena. Kini tidak ada lagi patung di dalamnya. Kuil ini pun dalam tahap restorasi untuk menjadikannya utuh seperti semula.

Parthenon, kuil dewi Athena

Mampu bertahan hingga saat ini, Parthenon memiliki sejarah pendudukan panjang. Saat Yunani dikuasai Kekaisaran Bizantium, Parthenon diubah menjadi gereja. Gak ada lagi pemujaan Dewi Athena di sini. Setelahnya Parthenon berpindah ke tangan kekaisaran Ottoman Turki. Dari gereja, bangunan megah ini pun beralih fungsi menjadi masjid. Menghadapi perang dengan Christian Holy League, Ottoman kemudian menjadikan Parthenon sebagai gudang senjata. Dibombardir dengan cannonball dari berbagai penjuru, Parthenon lalu hancur lantak. Ratusan jiwa juga melayang.

Restorasi Parthenon masih terus berjalan

Restorasi Parthenon baru dimulai tahun 70an dan masih terus berlangsung saat ini. Pengunjung bisa memandangi Parthenon, tapi gak bisa terlalu dekat apalagi masuk ke dalamnya. Oleh Unesco, kawasan Acropolis, tempat di mana Parthenon berada telah dijadikan situs warisan sejarah dunia sejak tahun 1987.

Lanskap Acropolis di puncak bukit
Antrean tap water

Di puncak bukit, tempat Parthenon berada terdapat dataran yang luas. Ada beberapa lokasi pengisian tap water di sini. Oiya saya lupa bilang, gak ada warung di atas sini. Kalau mau beli minum, di bawah sebelum jalur trekking dimulai ada vending machine yang menyediakan air mineral. Pastikan membawa persediaan minum masing-masing. Kalau habis di jalan, bisa diisi lagi di atas. Cuma, tap water di sini aliran airnya keciiil banget. Jadi mesti sabar nunggu botol penuh. Belum lagi kita mesti antre dengan wisatawan lain. Cuaca panas banget soalnya waktu kita ke sana. Perjalanan mendaki pun membuat orang semakin kehausan.

Spot Foto

Di kawasan Acropolis ini, di manapun kita bisa berfoto. Tapi ada spot titik tertinggi yang menjadi favorit pengunjung untuk mengabadikan gambar. Dari sini kita bisa melihat hamparan kota Athena dari ketinggian. Bebas berfoto tapi gak boleh naik-naik menginjak bebatuan. Ada petugas yang akan dengan galak ngomelin pengunjung nakal yang melanggar..

Spot untuk memotret kota Athena dari ketinggian

Kami beristirahat sebentar di sini. Angin bertiup sepoi sepoi, matahari juga gak terlalu galak lagi. Saat yang tepat untuk mengumpulkan energi buat turun. Meskipun mager banget di sini, tetep aja kita gak boleh kelamaan. Ada banyak tempat yang mau disinggahi setelah dari Acropolis. Sementara waktu kami singkat sekali di Athena. Yunani sendiri adalah negara yang paling akhir kami kunjungi dalam rangka 16 hari keliling 6 negara dan 7 kota di Eropa. Dari Yunani baru kami akan pulang menuju jakarta.

Latar belakang: hamparan kota Athena
Duduk boleh, beridiri diatas struktur batu dilarang
Kuil Olympian Zeus dilihat dari Acropolis

Perjalanan Turun

Selesai mengambil foto dan beristirahat di atas, perjalanan turun dimulai. Ga secapek waktu naik tentunya. Dari kejauhan kami melihat kuil Erechtheion. Kuil ini dinamakan sesuai dengan nama raja Athena yang legendaris dalam mitologi Yunani, yakni Erechteus. Erechteus jugalah yang mendirikan kota Athena. Dibandingkan Parthenon, Erechtheion berukuran lebih kecil

Orang-orang yang berfoto ataupun mendekati situs Erechtheion juga lebih sedikit. Mungkin karena sudah terlampau excited dengan Parthenon, maka kuil ini terlewatkan. Sejujurnya itu juga terjadi pada kami. Udah kecapekan naik. Terlalu seneng liat Parthenon, keenakan menikmati Athena dari ketinggian, terus pas balik mau mampir Erechtheion udah kelewat capek dan malas. Pengen cepet turun aja bawaannya.

Kuil Erechtheion

Jadilah Erechtheion menjadi kuil yang cuma kami pandangi saja. Lana dan Keano sudah merengut kepanasan. Jalan ngajak anak kayak gini memang mesti kompromi. Kondisi anak dan ketertarikan mereka terhadap sesuatu berbeda dengan orang biasa. Di kompleks Acropolis ini gak ada yang jualan es krim. Jadi nggak ada doping yang bisa membuat mereka bertahan lebih lama.

Perjalanan turun lanjut melalui Propylaea kembali. Jalur pulangnya ternyata lebih asik dan bisa mengeksplor lebih banyak keindahan dan keunikan tempat ini. Batuan kapur besar dan tebal disusun sedemikian rupa membentuk tembok-tembok simetris.

Di bagian ini foto-fotonya bisa lebih banyak. Anak-anak juga kepancing untuk ceria lagi. Lana dan Keano manyun sejak di perjalanan menanjak. Agak tenang pas sampai puncak karena bisa istirahat, minum banyak dan menikmati pemandangan kota Athena. Setelah itu gak sabar minta cepat pulang. Tapi pas di sini liat mamanya pecicilan minta difoto, mereka tertarik buat pecicilan juga.

Bagian Propylaea ini instragrammable sebenarnya. Banyak spot dan angle menarik buat dimanfaatkan mengambil gambar. Jadi kalau suatu saat ke sini, boleh direncanakan photoshot juga di bagian gerbang acropolis ini.

Mengunjungi Acropolis, destinasi favorit peninggalan Yunani kuno butuh banyak berimajinasi. Kita mesti membayangkan kemegahan kompleks kota tua ini pada masa jayanya. Di beberapa literatur, ada sejumlah ilustrasi dan rekonstruksi bangunan yang dibuat berdasarkan hasil temuan. Membekali dengan gambaran ini saat kita masuk Acropolis, akan sangat membantu proses eksplorasi.

Parthenon dan Erechtheion. Sebelah kiri dokpri, sebelah kanan rekonstruksi oleh Ludwig Lange (sumber: researchgate.net)
Propylaea. Kiri dokpri, kanan rekonstruksi (sumber: akgimages)

Keluar dari kompleks Acropolis, kami berjalan kaki menuju pasar Monastiraki. Dekat saja sekitar 15 menitan sudah sampai. Kalau kita berada di sekitar Acropolis, sejumlah tempat memang mudah dijangkau dengan berjalan kaki. Tak perlu pusing sewa kendaraan atau mencari transportasi umum.

Pasar Monastiraki

Di pasar Monastiraki kami membeli aneka buah yang dijual seharga 99 sen/kilogram. Gak sampai 1 euro. Hampir semua buah harganya sama dan bisa campur juga belinya. Murah banget hitungannya. Apalagi buah yang dijual jarang kita temui di Indonesia. Mengunjungi Acropolis, destinasi favorit peninggalan Yunani kuno ditutup dengan makan buah biar tubuh kembali bertenaga.

Di sekitar Acropolis juga terdapat Plaka, kawasan kota tua yang sangat romantis. Plaka adalah tempat yang sangat kami rekomendasikan untuk hang out sambil makan malam. Di area Plaka kita juga bisa membeli aneka souvenir dan kerajinan khas Yunani dengan harga terjangkau. Menjelajah Acropolis, menelusuri Monastiraki, ditutup dengan makan malam di Plaka, hari yang sangat istimewa bagi kami selama di Athena.

Suasana malam di Plaka
Plaka Stairs, lokasi favorit untuk makan malam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here